Pengumuman + Bonus Cerpen Dramione

5.6K 528 133
                                        


Halo teman-teman! Aku mau berterimakasih sama semua respon kalian trhdp cerita ini.. Aku terharu banget, ternyata banyak yang suka hehehe

Maaf gak bisa bales satu per satu. Pokoknya kalian luar biasaaa!! Jadi karna kalian, aku memutuskan buat ngelanjutin cerita grup chat ini. Tapi maaf kalau lama updatenya yaaa hahaha aku butuh asupan lelucon receh. Akhir-akhir ini hidup aku kelewat melow wkwkwk

Oh iya, sebagai bonus aku kasih cerpen Dramione ini.. Semoga bisa menghibur kalian semua, ya. Maaf kalau jelek dan gak dpt feelnya. Ini cerita udah lama aku buat, tapi baru sempet di publish sekarang.

Selamat membaca,

- Salam, SRS -

***

PHOTOGRAPH

Biasanya aku akan melihat langit senja bersamanya. Duduk berdua di atas rumah pohon dengan kedua kaki yang menjuntai kebawah. Menatap betapa indahnya karya Tuhan sambil memperebutkan makanan ringan yang kubawa.

Tapi sekarang, aku disini sendirian. Aku rindu dia yang selalu memainkan rambut ikalku, atau dia yang tertidur di bahuku. Dan saat dia tertidur, aku akan menjuling kepalanya atau berteriak di samping telinganya dengan kencang. Aku suka melihat ekspresi terkejutnya. Itu lucu sekali.

Tapi.. lagi-lagi aku sadar. Aku sekarang sendirian. Dia tidak ada di sini. Tidak menemaniku melihat matahari terbenam.
Melihat senja kita.

Drdddd drddddd

Suara ponsel sejenak mengalihkan aku dari bayang-bayangnya. Ku lihat pesan dari seseorang. Tak menunggu waktu lama, langsung saja aku berdiri dan turun dari rumah pohon.

Kupandangi sekali lagi rumah pohon saat aku sudah ada di bawah. Menggenggam erat ponselku karena tangan yang mulai gemetar. Aku harus kuat. Demi dia. Aku tidak boleh menangis di hadapannya.

Tidak boleh.

....

Senyum langsung terpatri di wajah pucatnya ketika melihat seseorang yang sedari tadi dia tunggu telah datang. Ia menepuk bangku di sebelahnya untuk meminta orang itu duduk.

Perlahan namun pasti, Hermione duduk. Ia menatap tepat di kedua bola mata seseorang di sampingnya yang kini tampak sayu walaupun sinar meneduhkan selalu terpancar dari mata keabuannya.

"Kenapa oksigen dan infusannya di lepas?"

Draco tersenyum seraya menggeleng, "Bosan. Aku ingin main ke rumah pohon."

Hermione membenarkan jaket Draco dan melilitkan lebih erat scarf yang laki-laki itu pakai, "Rumah pohonnya sudah jelek. Lebih baik kamu istirahat saja, ya? Kalau sudah sembuh baru kita akan main."

Draco menggeleng, "Aku mau sekarang, Hermione. Pasti saat ini bintang sedang terang-terangnya."

Gadis itu menatap Narcissa; ibu Draco yang juga sedang menatap mereka dengan linangan air mata yang terlihat jelas. Di sampingnya ada Dokter Bram yang menganggukkan kepalanya saat Hermione menatapnya untuk meminta persetujuan.

Gadis itu menghela napasnya. Ia mengusap kepala Draco, lalu membantunya untuk naik ke atas kursi roda dengan dibantu para perawat.

Grup Chat: Hogwarts GengsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang