Mungkin, Dilan ada benarnya juga, tentang, rindu itu berat.
Rindu pada rumah hangat yang selalu menyambut ramah, rumah penuh kedamaian, ketenangan, pun keberkahan. —Saat hati kadang hanya menjadikannya tempat berteduh dari panas dan basah, tempat mengisi energi, dan memulihkan diri dari letih.
Rindu pada iman di hati yang bertahta meraja di singgasana mulianya. Duduk melejit melingkupi setiap sudut ruang, menebar kedamaian pun ketenangan. —Saat iman di hati ternyata sedang di posisi terendahnya, seolah hilang tak berjejak.
Rindu pada sang kekasih. Kekasih-Nya yang begitu memuliakan cintanya pada kita. Yang dengan air mata dan tetesan darahnya berhasil membawa dunia dari masa kegelapan yang pekat menuju masa terang benderang, yang senantiasa menangisi nasib kita di waktu yang panjang, yang tak bosan-bosan memohon berkah untuk kita, umatnya, pengikutnya. —Saat kadang kita lupa siapa dia, tak terbersit sedikit pun namanya di hati, tak teringat sedikit pun segala juangnya, dan bahkan yang kita rindukan bukan dia sama sekali.
Rindu pada rerintik hujan yang membawa berkah dari langit, lantas seketika hati bergumam memanjatkan doa terbaik, berharap ada satu dua yang tersebut dapat terkabul. —Saat kadang yang teringat bukan doa-doa yang mestinya dipanjatkan, namun justru hanya ada lamunan tanpa arti.
Rindu pada lidah yang ringan melantunkan surat cinta-Nya, berlembar-lembar, duduk nyaman dengan hati tenang, tak masalah seberapa lama itu, sebab hati sudah terlanjur tenang. —Saat justru hati malah terasa gatal, ingin selalu bercepat-cepat menyudahi, tersebab hati dipenuhi tanggungjawab duniawi, dikejar tuntutan yang tiada habisnya.
Rindu pada wajah basah di sepertiga malam, tangan yang menengadah tinggi dengan hati merendah, berharap doa-doa mengangkasa memenuhi langit, suasana hening yang syahdu ibarat mengusap lubuk qalbu. —Saat selimut rasanya begitu hangat mendekap tubuh letih, saat malam rasanya terlalu sayang dilewatkan dari pejaman mata.
Rindu pada bibir yang selalu basah dengan dzikrullah, hati yang tak pernah kosong dari lantunan istighfar. —Saat ternyata bibir lebih sering melantunkan lagu-lagu yang maknanya antah-berantah, pun hati yang lebih sering terisi oleh umpatan dan celaan yang dipendam sendiri.
Memang, rindu itu berat.
Saat rindu akan hal-hal itu mulai merangsek masuk, mengusik ketenangan jiwa, menghapus kedamaian qalbu. Jemputlah, jemput segera. Kamu ga akan kuat berlama-lama menanggung rindu.
Karena pada hakikatnya, hati kita akan selalu rindu pada nutrisinya.
™021618

KAMU SEDANG MEMBACA
Pecinta Langit Senja
AcakSejauh ini, aku belum pernah kecewa pada langit senja~