Bagian 3

6 1 0
                                    

ya Tuhan.. aku dijebak.

            Alia berdiri disana berjarak sekitar 10 kaki dariku, wajahnya yang cantik kini berubah menjadi wajah yang akan membunuh, di tangan kanannya suatu benda tajam yang mengkilat, sementara tangan kirinya memegang sebuah pistol yang sudah terisi penuh dengan peluru, aku makin gemetar, ya Tuhan.. selamatkan aku.. aku terus berdo’a sementara Alia makin mendekat, “Jangan Al.. jangan bunuh aku, apa salahku.. istigfar Al..” aku mencoba mempengaruhinya, tetapi tetap saja ia semakin mendekat, aku berlari ke bagian belakang sofa dan tatapannya makin membunuh, “aku benci semua laki-laki..!!” Alia berteriak, ia mengangkat pistolnya dan mengarahkan tepat dikepalaku. Rasanya aku sudah tak bernyawa lagi, Alia menarik bagian trigger pistol dengan kedua jari telunjuknya. Aku memejamkan mataku, tubuhku semakin bergetar hebat, sepertinya dirumah ini malaikat pencabut nyawa sudah siap siaga, , entah aku tetap hidup untuk 1 detik kedepan, atau akan mati ditangan kekasihku sendiri.

            Gubbrakkk..!!! suara dobrakan pintu tiba-tiba saja terdengar, mengalihkan perhatian Alia, 4 orang polisi ada disana dengan pistol yang ada ditangan mereka masing-masing, membuat Alia tergernyit dan senjata yang ada di tangannya terlepas dengan spontan, 2 orang polisi segera memborgol tangan Alia dan memasukkannya kedalam mobil patroli, jantungku masih berdetak kencang, tak percaya dengan semua kejadian ini, lantas mengapa polisi tiba-tiba datang kemari? Aku mengkerutkan dahiku bertanya heran pada diriku sendiri, rasa traumaku masih bergelimang,, ahh entahlah.. aku harus segera pergi dari sini, yang terpenting aku selamat.

            Seseorang berdiri di halaman rumah Alia, sepertinya aku kenal, tetapi siapa?, “apa ku bilang, kau memang tidak waras, lihat sekarang, siapa yang bodoh?” astaga.. itu Hendri, “kau.. bagaimana kau ada disini?” wajahku masih pucat pasi. “aku? Ada disini?” Hendri tertawa geli, “Bara.. Bara.. aku disini untuk menolongmu, aku yang membawa polisi kesini”, aku menelan ludah mendengar apa yang dikatakannya, “kemarin aku tak sengaja membaca pesan di handphonemu dan aku mengetahui rencanamu dengan Alia, aku sudah mencurigainya Bar, dan kali ini kau berhutang budi yang sangat besar padaku” Hendri mendekatiku dan menepuk-nepuk pundakku, aku tak dapat mengucapkan apa-apa, semuanya terasa mimpi, aku tersenyum kepada Hendri dan memeluknya, inilah arti sahabat, tak ternilai, keberanian yang tak mengharap gantian.

            Sungguh diluar dugaan, jadi Alia sendiri lah di balik kematian siwa-siswa yang terbunuh, Alia benar, tidak ada yang menyimpan dendam asmara kepadanya, tetapi dia lah pelakunya, dialah pembunuh itu. Ternyata Alia memiliki kelainan psikologis, ia mengalami ketraumaan, karena dulu ibunya mati dibunuh mengenaskan ditangan suaminya sendiri, ayah kandung Alia  yang telah membunuh ibunya, itulah penyebab mengapa ia seperti ini, kini Alia ditangkap dan akan di rehabilitasi.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 03, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Mawar HitamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang