Chapter 2

735 36 1
                                        

"Geumanhae, itu bukan salahmu." Aku menarik ia kedalam dekapanku.

"hiks... hiks..." Dia mulai terisak.

"Ssst, uljima! Aku tidak suka melihatmu seperti ini." Aku menenangkan ia dengan mengusap punggungnya.

Aku tidak menyukai ini. Aku benci melihat kelemahan seorang Xi Luhan.

==========

'Apa bisa?'

Ji Kyung POV

Dia tertidur. Mungkin karena terlalu lelah menangis. Dia tertidur disebelahku dengan wajah yang tampak seperti bayi tak berdosa. Kedua mata rusanya tertutup sempurna. Ini lebih baik daripada melihat mata indahnya itu mengeluarkan cairan bening yang membuat hatiku sesak. Ku usap pelan surai coklat miliknya. Entah kenapa jantungku berdebar begitu jari ini merasakan kelembutan setiap helaian surainya itu.

"Engg~" Dia mengerang pelan dalam tidurnya. Dahinya berkerut. Perlahan aku meletakkan telunjukku dan kerutan didahinya berangsur menghilang. Ia kembali tidur dengan tenang.

Aigoo, saat tidur dia terlihat seperti malaikat. Bahkan sikap dingin yang selalu ia tunjukkan tidak berlaku lagi.

Dengan perlahan aku turun dari tempat tidur. Berusaha untuk tidak menimbulkan bunyi yang dapat mengganggu tidur lelapnya.

******

"Sebaiknya ahjussi segera makan, ini sudah malam." Aku berbicara dan mulai meletakkan makanan diatas meja.

Ahjussi menarik kursi dan duduk. Dia membuka piring dan mengambil makanan yang aku masak sebelumnya. Ahn ahjumma sedang cuti, jadi untuk sementara aku yang memasak dirumah ini. Tidak mengerjakan semua pekerjaan rumah, hanya memasak yang aku kerjakan.

"Luhan~"

"Gwenchana, dia sedang tidur. Ahjussi tidak perlu mengkhawatirkan dia."

Hening.. tidak ada tanda-tanda bahwa ahjussi akan berbicara. Akhirnya aku memutuskan untuk makan. Suasana makan malam kali ini cukup hening. Memang biasanya juga hening seperti ini, hanya saja kali ini tidak ada ahjussi yang akan bertanya bagaimana hari ini disekolah.

"Mian, kamu pasti merasa tidak nyaman setelah melihat kejadian tadi siang." Ahjussi berbicara begitu kami selesai makan.

"Gwenchana, aku sudah tidak terlalu mengingat itu." Bohong bila aku mengatakan itu. Tidak mungkin aku bisa melupakan itu dengan begitu mudah. Aku hanya berusaha untuk melupakan itu.

Ada banyak pertanyaan dalam benakku saat ini. Apakah Luhan tidak merasa tertekan selama ini? Pastilah bohong jika Luhan menjawab tidak. Aku saja yang hanya melihat begitu sakit dan saking sakitnya mungkin aku akan bunuh diri jika menjadi Luhan. Bagaimana bisa dia bertahan? Setelah pertengkaran ia dan ayahnya, ia hanya menangis dan setelah itu seolah tak terjadi apapun dia kembali menjadi sosok dingin dan tak terjamah. Apa aku harus berbicara pada ahjussi mengenai Luhan? Mungkin ahjussi mau memikirkan Luhan yang kemungkinan tertekan selama ini. Aku tahu aku harus bicara.

"Ahjussi, apa tidak sebaiknya kalau ahjussi itu lebih memperhatikan Luhan?" Aku berbicara sembari membereskan piring kotor.

"Geumanhae, sebaiknya kamu tidur ini sudah malam." Ahjussi pergi begitu saja dan hanya menyisakan aku bersama piring-piring kotor ini.

Heh.. sepertinya aku tahu darimana Luhan mendapatkan sifat keras kepalanya.

*****

"Luhan-ah, ireona!" Aku berbisik ditelinganya. Sama sekali tidak ada tanda bahwa ia akan terbangun.

MY LOVE FROM THE TEARSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang