Adakah kenyataan yang lebih indah dari mimpi?
Ya, jawabmu. Tapi kenapa ada banyak kenyataan yang selalu berusaha kausangkali?
Lama sekali kau bergeming.
Entah siapa yang bodoh di sini. Apakah kau yang sedang berpura-pura seakan-akan telingamu tuli, atau aku yang tak sungguh-sungguh bertanya.
***
HANYA tinggal menghitung hari Desember bakalan segera berakhir. Gue senang karena sepekan lagi adalah hari yang sangat istimewa, karena di waktu yang sama setahun yang lalu, untuk pertama kalinya gue bertemu dengan gadis yang gue suka.
Gue tidak tahu bagian mana yang bisa membuat gue jatuh hati kepadanya, apakah mata besarnya yang sebening lautan, rambut ikal sepinggangnya yang selalu digerai, tubuhnya yang agak mungil, bibir tipisnya yang kerap menceritakan hal-hal terbaik yang pernah dilewatinya, atau susunan giginya yang berbaris rapi sewaktu tersenyum. Atau ... gue nggak tahu. Kadang, dalam hidup, nggak semua hal punya jawaban pasti seperti ilmu eksak, kan? Karena, yang lagi gue bahas sekarang ini tidak sepenuhnya melibatkan pikiran, tapi perasaan yang anehnya selalu mematikan logika.
Malam ini gue mau siap-siap membuat kejutan buat dia. Di tangan gue sudah ada dua tas berisi berbagai perlengkapan. Gue juga sudah mengundang sahabat gue untuk membantu menyiapkan semua ini. Setelah semuanya beres, gue hanya tinggal menunggu waktu dia datang, sementara itu, gue akan berpura-pura tidak akan datang. Gue bisa membayangkan wajahnya yang memberenggut karena kesal. Kemudian dia akan marah, menangis mungkin, karena gue tidak menepati janjinya. Sampai setelah dia lelah menunggu, gue bakal tiba-tiba memeluknya dari belakang dan sudah pasti dia akan terkejut. Saat itulah gue bakal mengungkapkan isi hati gue yang selama ini nggak gue ungkapin.
Yah, gue tahu itu norak—bisa jadi kelewat norak. Tapi malam ini gue kepengin dilihat sebagai seseorang yang sangat istimewa, seperti cara gue memandang dia selama ini. Gue kepengin menghapus jejak-jejak kesedihan yang selalu menggelayutinya setiap dia mengenang bulan Desember. Gue kepengin menciptakan sejarah baru untuk dia kenang selama hidupnya, bahwa dia punya Desember yang takkan terlupakan.
Ya, ya, ya, bolehlah kalian menertawakan gue sekarang.
Tetapi, sesampainya gue di tempat gue akan membuat kejutan untuknya, gue melihat sebuah mobil yang tampak tidak asing terparkir. Gue mendekat, mengamati kendaraan tersebut lebih saksama lagi, dan dugaan gue tidak meleset. Kemudian, sewaktu gue membuka pintu. Gue melihat sesuatu yang seharusnya tidak gue lihat. Atau, sesuatu yang seharusnya tidak boleh terjadi. Sesuatu yang terus berusaha gue sangkali. Tetapi seberapa keras usaha gue menyangkalinya, sekeras itu pula kenyataan yang ada di hadapan gue menghantam.
Yang gue lihat di hadapan gue ini nyata. Gue tidak sedang berhalusinasi.
Beberapa saat kemudian gue seperti tidak merasakan apa-apa. Tubuh gue seperti melayang. Pikiran gue yang awalnya dipenuhi dengan hal-hal indah terasa kosong. Yang gue rasakan berikutnya adalah sepasang kaki gue yang bergerak perlahan, berbalik dan mulai mengambil langkah menjauh. Berbegai hal yang sudah gue rencanakan dengan matang itu mendadak berubah menjadi kepingan mozaik.
Gue tidak tahu hal tepat apa yang harus gue lakukan sekarang selain meninggalkan tempat ini secepatnya, meskipun gue sadar itu artinya gue sedang membuat keputusan yang kelak akan gue sesali. []

YOU ARE READING
Tentang Kamu yang tak Tahu Arti Menunggu
Teen FictionGandis tahu mereka sudah berjanji. Namun Diyan mengingkari. Gandis percaya bahwa berharap lebih artinya siap dikecewakan, hanya saja ia lupa bahwa orang terdekatlah yang justru punya kesempatan melukai lebih besar. Lalu Diwang muncul, menawarkan har...