2

486 4 0
                                    

AWALNYA Diyan menganggap kalau liburan malam tahun baru setahun lalu adalah kiamat.

Teman-teman sekelasnya merayakan pergantian tahun tersebut menyebar ke tempat-tempat keren; pantai, gunung, alun-alun kota, atau dirayakan di rumah salah satu teman yang orangtuanya sedang pergi ke luar kota. Ia sadar kalau yang dilakukan orang-orang di malam pergantian tahun itu hanya untuk satu hal; punya momen seru yang bisa diceritakan pada orang lain; atau punya tangkapan gambar keren yang bisa diunggah ke Instagram dengan caption seperti penyair dadakan yang sebenarnya sangat payah, atau sekadar mengabadikan momen-momen berharga bersama orang-orang tercinta.

Tetapi ia jelas bukan seseorang yang akan melakukan itu untuk alasan-alasan utopis tersebut. Ia hanya ingin merasakan sedikit saja euforia dari setiap perayaan. Untungnya, ia masih punya agenda yang kalau teman-teman kelasnya bertanya, apa yang dilakukannya di malam pergantian tahun, dengan bangga ia akan menjawab bahwa malam itu ia sudah mencetak gol sebanyak-banyaknya untuk tim futsal yang digawanginya bersama kedua sahabatnya. Rasa-rasanya itu sudah cukup membungkam mulut-mulut bawel yang suka merisaknya, karena ia selalu melewatkan pergantian tahun hanya berdua bersama ayahnya.

Lawan tangguh sudah ditemukan. Waktu yang tepat juga sudah ditentukan. Ia hanya tinggal memasukkan jersey dan sepatu futsal yang dibelinya diam-diam tanpa sepengetahuan Ayah ke dalam tas, kemudian melenggang dari gedung olah raga. Tetapi, lelaki pengatur itu tidak mengizinkannya keluar begitu saja sebelum membantunya melatih seorang putra temannya.

"Nggak begitu susah melatihnya, Yan," pesannya. "Dia sudah mahir, bahkan sebelumnya dia atlet sekolah. Cuma sudah lama sekali dia nggak latihan. Kamu hanya perlu mengarahkannya kembali, dan jadi lawan main yang sama tangguhnya."

Awalnya, ia mengira kalau putra temannya itu hanya seorang bocah yang merasa bahwa dia sudah cukup mahir di olahraga ini hanya gara-gara tim futsal sekolah tak memandangnya. Atau bocah kesepian yang memilih menghabiskan malam pergantian tahun dengan meminta orang lain mengajarinya bermain bulu tangkis. Benar-benar menyedihkan. Atau alasan-alasan tidak masuk akal lainnya, karena orang itu memilih waktu latihan di jam yang nggak tepat.

Saat pintu ruangan Ayah membuka, sosok yang sedang dirutukinya tersebut muncul. Semua perkiraan sinis soal putra teman ayahnya meleset. Ternyata dia seorang gadis seusianya yang mencangklong tas Li-ning besar di punggung yang menutupi sebagian rambutnya. Langkahnya begitu santai menuju ruang ganti. Tak lama kemudian sosoknya kembali dengan pakaian olahraga lengkap dan rambut sedikit ikal tebalnya yang diikat ekor kuda. Sambil membetulkan tali sepatunya yang terburai, pandangan gadis itu memindai setiap sudut ruangan.

"Segini kesepiannya ya malem tahun baru lo, sampe dihabisin di gor?" Diyan menghampirinya, kemudian melontarkan pertanyaan bernada sinis tersebut.

Gadis itu mendongak, menatap Diyan sesaat dengan gaya tak acuh. "Nggak lebih kesepian dari cowok yang mau jadi lawan main gue malem ini, sih," jawabnya tenang, sama sekali tidak terpengaruh ejekannya.

"Lo kenal pemilik tempat ini?" Diyan menunjuk ayahnya di dalam kantor.

"Om Aji?"

Diyan menggeleng. Sambil membetulkan kaos kaki ia menjawab, "Bukan. Gue lagi ngebahas Hitler tanpa kumis di ruangan itu."

Anak teman Ayah yang belum ia ketahui namanya itu terdiam, seperti berusaha membayangkan lelaki yang sedang mereka bicarakan. "Sedikit mirip," responsnya. Sesaat kemudian bibirnya mengulas senyum.

Cantik. Tapi selintas pikiran yang tebersit di benaknya itu buru-buru disingkirkannya. Ada hal yang lebih penting yang ingin ia lakukan malam itu.

"Sejam lagi gue ada jadwal futsal bareng temen-temen gue," akunya. "Gue nggak dikasih izin pergi kalau nggak nemenin lo latihan dulu."

"Jadi yang barusan itu semacam curhat, ya?" Gadis itu balik bertanya dengan ekspresi yang tidak bisa Diyan tebak. "Ngomong-ngomong, lo segini jujurnya ya sama orang yang baru lo kenal?" lanjutnya yang membuat Diyan gelagapan.

"Bukannya lo muridnya bokap, ya? Mungkin kita nggak pernah satu sesi latihan bareng, tapi bokap pastinya tahu alamat rumah lo, dan kalau ada apa-apa gue bisa datengin rumah lo."

"Oke, masuk akal." Gadis itu telah selesai menalikan sepatu. Dia berdiri, lalu melakukan gerakan peregangan.

"Lo boleh pergi asal lo bisa ngalahin gue," tantangnya kemudian. "Gue yang bakal ngomong ke Om Aji kalau sesi latihan kita udah selesai."

Diyan yang juga sedang melemaskan otot-ototnya terdiam, kemudian menatap gadis itu seakan tak percaya.

"Udah deh, cepetan ambil raket lo dan buktiin kalau lo beneran putranya Hitler tanpa kumis itu."

Lagi-lagi, bibirnya mengulas senyum yang terkesan akrab. Senyum yang bisa dengan mudahnya Diyan ingat sebagai senyum perkenalannya dengan Gandis.

Itu malam pergantian tahun yang berkesan, karena itu pertama kalinya ia bisa mengobrol panjang lebar dan seterbuka itu dengan seorang anak perempuan yang bahkan belum ia ketahui namanya. Ia dan gadis itu mulai resmi berkenalan pada sesi latihan berikutnya. Gandis. Nama yang cantik. Setelah mengetahui namanya, mengenalnya lebih dekat lewat banyak sesi latihan yang ternyata tak sulit melatihnya karena dia sudah cukup lihai dalam olah raga ini; setelah mereka berteman cukup akrab atau melebihi keakraban seorang teman biasa, dia memilih tidak mendatangi satu sesi latihan terakhir yang telah mereka sepakati karena satu hal yang belum bisa ia jelaskan kepada Gandis atau kepada siapa pun karena sampai detik ini, setelah ia memergoki pemandangan yang tak seharusnya dirinya lihat, ia sendiri masih mencari jawabannya.

Detik ini, malah ekspresi dingin yang ia lihat dari sosok Gandis. Bibirnya tak lagi mengulas senyum akrab, tetapi menyuarakan sebaris kalimat yang menghunjamnya.

"Gue belum siap ketemu lo lagi, Yan." Kemudian memilih berlalu setelah Diyan mengatakan tujuan menemuinya. Sebelum gadis itu benar-benar pergi, Diyan memilih memegang pergelangan tangannya, membuat langkahnya terhenti. "Bisa lepasin tangan gue, nggak Yan?!"

"Tapi lo harus dengerin dulu penjelasan gue, Dis."

"Gue cuma minta lo pergi, Yan. Gue masih butuh waktu buat bisa nerima ini. Atau ... kalau lo masih tetep ngotot, gimana kalau lo tetep di sini dan biar gue aja yang pergi?"

Bukan hanya kalimatnya, sorot matanya pun sama tajamnya. "Biar gue aja," pada akhirnya Diyan memutuskan pergi. "Tapi gue bakalan terus nunggu sampai lo mau mendengarkan penjelasan gue."

Kalimat serta tatapan Gandis masih terbayang-bayang di benaknya, bahkan setelah ia keluar dari apartemen orangtua Tiana. Kepulangannya membawa serta perasaan kecewa atas sikap Gandis kepadanya, tetapi kemudian ia menyadari bahwa kekecewaan tersebut lebih ditujukan kepada dirinya sendiri yang sudah mengecewakan seseorang yang telah menghabiskan malamnya untuk menunggu. []

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 05, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Tentang Kamu yang tak Tahu Arti MenungguWhere stories live. Discover now