Pulang Bersama Akga

33 4 0
                                    




Aku tidak tahu kenapa lelaki yang datang bersama Bima itu bertingkah laku aneh. Melotot ke arah Bima sambil sesekali aku melihat mulutnya mengucapkan sesuatu yang entah apa itu. Bahkan beberapa kali ia membekap mulut Bagas sambil menunjukkan senyum padaku, membuatku bingung saja. Caranya berbicara juga aneh, kok bisa ya Bima punya teman gagap seperti dia.

Sepertinya aku sedikit beruntung karena bisa secepatnya pergi dari sana, jika bukan karena anak – anak yang sudah mulai latihan aku mungkin akan tetap terjebak besama lelaki itu tanpa berkata apa – apa.

Rama.

Namanya Rama, katanya Bima dia orang yang ngefans sama aku. Anaknya tinggi, rabut rapi, jaket jeans, ganteng...

Aish kok aku jadi mikirin dia sih.

"SHINTA !"

Aku tersentak ketika mendengar sura menggelegar dari depan. Aku baru sadar kalau ternyata semua mata tengah menatapku dengan penuh tanya kecuali mbak Santi yang kini berkacak pinggang sambil menatapku tajam. Hancur sudah nasibku kalau Mbak Santi sudah menunjukkan sisi naga miliknya.

Mbak Santi ini pelatih yang perfeksionis sekali, ia ingin semuanya disiplin dan serius. Mbak Santi tidak suka jika ada murid yang melamun atau tidak memperhatikan gerakan. Contohnya saja aku barusan.

"Aduh... mati aku!" Lirihku

"Kamu itu mikirin apa to ya? Tak panggil dari tadi nggak nyahut," Tanyanya dengan nada melengking yang khas. "Kebelet poop kamu?"

Nah,yang itu juga ciri khas mbak Santi. Frontal.

"Eh, maaf mbak," Ujarku

Kulihat mbak Santi mulai berbalik menghadap depan sambil mengeratkan selendangnya. Huft... akhirnya

Aku pun melanjutkan latihan agar tidak dimarahi lagi. Tapi ada satu yang selalu mengganggu konsentrasiku. Rama yang terus – terusan secara tidak sengaja ketahuan memandangku.

***

"Oke semuanya, latihan hari ini sudah selesai. Kalian bisa pulang sekarang, tapi jangan lupa untuk langsung istirahat supaya besok bisa tambil maksimal."

Anak – anak hanya menjawab seenaknya sambil duduk di lantai, bahkan ada beberapa yang langsung tidur menyentuhkan pipinya ke lantai. Seperti aku. Hah...nyamannya. Meskipun tempat latihan ini tidak semewah sanggar-sanggar lainnya, tetapi bangunan bernuansa joglo ini sangat legendaris, nyaman, dan menurutku lumayan dingin dan asri. Ya, aku tahu ini Bali bukannya Jogja. Tapi ini mirip dengan sanggar yang ada di Jogja. Mbak Santi selain pintar melatih tari, ternyata juga pinta mendekorasi ruangan. Di teras depan tempat latihan, terdapat banyak sekali tanaman hijau di pot kecil gantung yang bisa buat cuci mata sehabis latihan. Kalau kondisi dalam ruangannya, sih, ya cuma ada lemari tempat menyimpan perlengkapan tari dan kaca besar aja.

"Shinta, ditungguin, tuh." Tiba – tiba Desi ikut tiduran di sampingku sambil menggunakan tangan untuk bantal. Buyar sudah lamunanku.

Penasaran dengan siapa yang dimaksud Desi, aku mendongakkan kepala mengikuti arah yang Desi tunjuk tadi.

"OH MY GOD!"

Aku langsung menundukkan kepala mencium lantai.

"Kenapa sih, Shin? Dari tadi kamu itu aneh tau! Apa gara – gara penggemar barumu itu?"

Masih dengan kepala terbenam aku menganggukkan kepala.

"Bukannya seorang Shinta udah biasa ya ketemu sama penggemar?"

Gedebuk LoveWhere stories live. Discover now