1

34 0 0
                                    

Bintang, perkenalkan, aku Semesta. Tempat dimana kau bisa menyinari diri dengan bebas di kegelapan yang tak berunjung ini.

"Aku berasal dari sekolah mana, kalian tidak perlu tau. Aku hanya ingin kalian bisa menerima ku, terimakasih." Ucap gadis yang sedang berdiri didepan kelasnya untuk menyambut teman - teman baru disekolahnya.

"Lalu bagaimana dengan namamu? Kau belum memberitahu kami semua." Celetuk seorang laki - laki yang duduk tidak jauh dari gadis yang sedang memperkenalkan dirinya.

"Namaku semesta Clairene, kalian bisa memanggil ku Claire ataupun Irene." Ucap Clairene.

"Bagaimana jika semesta? Itu lebih bagus."

"Tidak, jangan nama itu. Aku tidak suka, terimakasih." Ucapanya sambil memberi senyuman di akhir perkenalannya.

Clairene sebenarnya ragu atas keputusannya untuk kembali ke sekolah umum. Mengingat selama ini ia hanya mendekam dirumah tanpa tau menau tentang bagaimana rasanya kehidupan pertemanan.

Clairene berjalan menuju bangku yang akan ia tempati selama beberapa bulan kedepan. Mengelus dengan halus. 

Meja berwarna Cream itu adalah meja pertama dirinya di bangku Sekolah Menengah Atas ini.

Clairene masih menatap mejanya yang bersih tanpa ada coretan satupun diatas sana, sambil melamun mengingat kisah lampau dirinya yang sangat amat senang bila tangannya mulai mengukir karyanya di meja sekolahnya dulu.

-

"Wanita rumah sakit!" Ucap seseorang dari luar jendela kelas Clairene,

Clairene menoleh ke arah sumber suara, bola matanya mengikuti objek yang sedang memasuki kelasnya dan berjalan kearahnya.

Tidak ada siapapun di kelas ini, semuanya sudah pulang, hanya Clairene yang tersisa.

"A-aku?" jawab Clairene ragu

"Iya kau, siapa lagi?"

"Wanita rumah sakit?" Clairene mengernyitkan dahinya, bingung.

"Ah, lupakan." Laki - laki yang sedang berdiri dihadapan Clairene menjulurkan tangannya, memberi aba - aba untuk berjabat tangan dengan Clairene, sambil memperkenalkan dirinya, "Aku Bintang, Bintang Harapan. Siapa namamu?"

"B-bintang?"

"Iya. Jadi, siapa namamu?" Bintang menatap Clairene yang sedang menatapnya tak percaya. "Tangan ku kau abaikan, sungguh, ini membuat ku pegal." Gerutu Bintang

"Ah, maafkan aku." Clairene mengambil tangan yang sudah dijulurkan oleh laki - laki bernama Bintang itu, "Nama ku Semesta, Semesta Clairene."

"Wah, nama yang bagus, Semesta." 

"Panggil aku Clairene saja" Ucap Clairene cepat.

"Kenapa?" Bintang menatap Clairene yang kini mengalihkan pandangannya dari dirinya, "Semesta tidak berpihak pada mu, ya?"

Clairene tersentak dengan ucapan yang keluar dari mulut Bintang. Matanya terbuka lebar menatap laki - laki didepannya ini.

Yang Clairene liat hanya seringai yang keluar dari wajah Bintang, dengan cepat Clairene menundukkan kepalanya, kembali fokus pada buku tulis yang berada dimejanya.

"Tidak, Semesta masih berpihak kepadaku."

Bintang menarik bangku yang berada didepan meja Clairene, lalu memutar tubuhnya agar bisa berhadapan langsung dengan Clairene.

"Bagaimana?" Bintang membenarkan posisi duduknya, "Bagaimana rasanya masih dipihak oleh semesta?"

Clairene menghentikan kegiatannya di atas meja, tangannya memeras pena yang digenggamnnya,

"Apa maksud mu?" Ucap Clairene sedikit tersinggung

"Aku hanya ingin tau rasanya, ceritakan padaku"

"Ck, kau hanyalah orang asing." Clairene berdiri dari bangkunya, "Berhentilah menanyakan sesuatu padaku."

"Aku pergi" Tambah Clairene sambil berlalu lalang dihadapan Bintang yang sedang duduk terpaku.

Bintang hanya tersenyum miris melihat tingkah laku Semesta, "Aku mengenal baik dirimu, Semesta." Bintang bergumam.

Koridor yang saat ini sepi menjadi teman bagi seorang gadis yang berjalan seorang diri sambil menenteng tas sekolahnya.

Kakinya melangkah dengan pelan, kepalanya sedikit menoleh kearah yang berbeda - beda, seperti mencari sesuatu di sepanjang koridor ini.

"yang benar saja. Dimana sih tempat itu?" Clairene mendelik dengan apa yang dia cari.

"Kau hanya perlu berjalan lurus lalu berbelok sedikit, dan kau akan menemukan perpustakaannya."

Claire berbalik arah, mencari sumber suara yang datang tiba - tiba sebelum akhirnya dia mendelik karena lagi - lagi bertemu pria dengan nama Bintang.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 18, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Harapan SemestaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang