💫💫💫
"Hari ini, aku pulang telat. Banyak meeting!" ucap Ali yang tengah di benarkan dasinya oleh istri tercintanya.
"Iya gak pa-pa kok. Oh iya, aku mau ketemu sama Shenna, boleh?" izin Prilly dengan menatap Ali ragu.
"Boleh, sekalian jemput Milly aja kalau gitu. Kalau ada apa-apa telefon aku!" ucap Ali dengan merangkul mesra pinggang istrinya dan mencium bibirnya kilat.
Prilly menganggukkan kepalanya dan membenarkan rambut Ali yang sedikit berantakan.
"Yuk sarapan!" ajak Prilly kemudian menggandeng tangan Ali mesra.
Milly yang sudah menunggu Mamih dan Papihnya mendengus sebal saat melihat orangtuanya yang datang dengan mesra.
"Ish. Milly tungguin dari tadi, malah berduaan!" omelnya membuat Ali dan Prilly terkekeh.
Ali mengecup kening anaknya kemudian duduk di kursi kepala meja. Sementara Prilly duduk di hadapan anaknya dan mengambil makanan untuk suami dan anaknya.
"Milly rajin banget udah disini, biasanya juga bareng sama Papih!" ucap Prilly tersenyum manis.
"Ish. Justru itu, Milly kan nunggu Papih dari tadi didepan kamar, Papih sama Mamihnya gak keluar!" gerutunya membuat Prilly gemas dan mencubit hidung mancung milik Milly.
"Maafin, Papih ya. Papih lagi betah sama Mamih. Oh iya hari ini, dijemput sama Mamih!" ucap Ali sambil menyuapkan sesuap roti coklatnya.
"Pasti Papih meeting lagi ya?" tebak Milly yang dijawab anggukan kepala oleh Ali.
"Mamih, tapi Milly pengen jalan-jalan dulu ya?" pinta Milly memasang puppy eyesnya membuat Prilly tersenyum gemas dan menganggukan kepalanya.
Setelah mereka bersarapan, Ali dan Milly meninggalkan rumah. Sedangkan Prilly membereskan piring-piring kotornya. Lalu ia bersiap untuk pergi bersama temannya.
Prilly hanya bisa berjalan ke arah kamar mandinya. Ia berkaca dengan tatapan sendunya. Rasa bersalah semakin terasa ketika mengingat hubungannya 8 tahun bersama Ali yang diisi dengan kebahagiaan, tapi sayang kebahagiaan itu hanya penuh kebohongan.
Prilly sadar, Prilly telah menyakiti Ali bahkan Prilly selalu menyakitinya setiap kebahagiaan yang tercipta. Untuk rasa cinta saja mungkin tidak ada, tapi untuk rasa sayang mungkin ada. Sedikit.
Setiap malam, ia selalu memandang wajah Ali yang tertidur dengan wajah polosnya. Ia sangat berdosa dengan suaminya sendiri.
Prilly menyalakan keran shower tersebut, ia menangis di bawah guyuran air shower. Tangisnya sulit untuk di hentikan.
"Harusnya ini gak terjadi!" gumam Prilly dengan tangis yang sudah mereda.
💫💫💫
"Shenna!" panggilan itu membuat wanita berambut panjang menoleh ke arah samping dan langsung menghampirinya.
"Hai, Pril. Sorry ya nunggu lama!" sesal Shenna dengan nada tak enak.
"Ck. Lo itu sahabat gue dari jaman SMP, masih aja canggung!" ucap Prilly berdecak sebal.
Shenna terkekeh geli melihat wajah Prilly yang seperti ini. Sahabat sejak jaman sekolahnya, sudah bersama-sama hingga sekarang.
"Jadi, lo mau cerita apa?" tanya Prilly dengan menyeruput lemon tea di hadapannya.
"Papanya Sella, dia gak ngakuin Sella sebagai anaknya!" ucap Shenna dengan raut wajah sedihnya.
"Loh, Papanya Sella udah ketemu?" tanya Prilly dengan nada terkejutnya dan mengernyitkan keningnya bingung.
Shenna menganggukkan kepalanya pelan.
"Tes DNA dong, Shenn. Biar dia percaya kalau Sella itu anak lo!" ucap Prilly dengan nada kesalnya.
Shenma hanya bisa terdiam dengan menundukkan kepalanya. Menahan tangisnya, jika mengedip mungkin saja air mata yang menumpuk di pelupuknya sudah jatuh.
"Shenn, Sella butuh seorang Papa. Dia butuh kasih sayang seorang Ayah!" ucap Prilly menggenggam tangan Shenna dan mengelusnya dengan pelan-pelan.
"Tapi percuma, Prill. Dia masih sayang sama mantannya, dia masih berharap sama mantannya sedangkan mantannya udah bahagia!" ucap Shenna mendongakkan kepalanya. Air matanya jatuh begitu saja saat mengucapkan kata-kata tersebut.
Prilly terdiam.
"Sella hadir karna kesalahan!" Prilly terkejut dengan ucapan Shenna. Ia berpindah tempat di samping Shenna dan memeluknya dengan erat saat tangis Shenna semakin menjadi-jadi.
"Kenapa lo sembunyiin ini dari gue?? Gue sahabat lo, Shenn!" ucap Prilly lirih.
"Gue takut. Gue takut lo jauhin gue karna malu punya sahabat kaya gue!" jawab Shenna sesenggukan.
"Siapa Ayahnya, Shen?" tanya Prilly menarik bahu Shenna agar bisa menghadapnya.
Shenna menundukkan kepalanya, tangannya saling bertautan dan menghela nafasnya.
"Nicholl!"
💫💫💫
Sengaja pendek ah, wkwkwk😆😆😆
Aku suka menggantung karna status ku pernah di gantung, sikampret author tukang curhat:')))
Bukan Max kan bukann yaaa??? Nichol aeeee dahhh biar adem ayem kalau denger namanya😌😌 seadem liat muka authornya yang lucu ini:)))
KAMU SEDANG MEMBACA
Tak Harus Memiliki[SHORT STORY ENDING]
General FictionAku mengikhlaskan kamu dengan Mantan kamu yang sangat kamu cintai, tapi jika kamu di sakiti atau butuh seseorang. Lihat kebelakang, ada aku yang selalu mengejar dan menunggu kamu. Ternyata benar, terkadang cinta Tak Harus Memiliki -Aldrian Meshach P...
![Tak Harus Memiliki[SHORT STORY ENDING]](https://img.wattpad.com/cover/151018681-64-k361624.jpg)