Chapter 1 : An Existence

51 6 8
                                        

   "SELAMAT DATANG!!!" riuh suara tepuk tangan dan sorak sorai yang bersahut-sahutan memenuhi ruangan tertutup itu.

Stephy dan Nicholas baru saja membuka pintu ruang meeting di kantor Stephy, mereka sudah di sambut seluruh tim kerja Stephy yang memberi ucapan selamat atas pengumuman yang mereka umumkan kemarin. Bahwa mereka akan segera menikah di bulan Agustus mendatang. Jadwal yang semula adalah untuk rapat antara Nicholas dan Stephy mengenai masalah kerja sama antar kedua perusahaan mereka, tiba-tiba saja berubah menjadi pesta kecil yang meriah. Stephy dan Nicholas yang terkejut mendapati ruang rapat mereka di dekorasi sedemikian rupa hingga terlihat begitu meriah, mereka merasa sangat gembira.

   "Terima kasih, saya tidak mengharapkan apapun dari kalian. Hanya berharap restu dan doa dari kalian. Tidak saya sangka-sangka kalian malah mempersembahkan pesta yang demikian meriah. Saya sungguh terharu." ujar Stephy dengan senyum manis yang merekah.

Sedangkan Nicholas hanya tersenyum seraya memandanginya. Tim kerja Stephy kemudian menyerahkan satu hadiah dalam kemasan besar.

   "Ini kumpulan hadiah dari kami. Ellen bilang, lebih baik di kemas jadi satu, jadi semua Saya kemas menjadi satu. Saya harap kelak hadiah-hadiah ini bisa berguna bagi manajer Qi dan direktur Wu suatu saat nanti." ucap salah seorang pria yang juga bagian dari tim kerja Stephy.

Stephy meraih kotaknya dan tersenyum bahagia. Ia melirik pada Nicholas yang berdiri tepat di sebelahnya, memberi sebuah kode agar Nicholas membuka hadiah tersebut bersamanya. Nicholas tersenyum dan maju meraih kotak yang tengah disentuh oleh Stephy. Mereka pun membukanya bersama-sama. Berbagai macam hadiah ada disana. Stephy melihat satu persatu, begitupun Nicholas.

   "Ini kesukaan saya, bagaimana kalian tahu kalau saya suka diving?" tanya Nicholas dengan tersenyum seraya menggenggam sebuah kacamata khusus untuk menyelam di lautan.

Nicholas memang sangat suka menyelam di laut lepas. Menyelam adalah salah satu hobi terbesarnya sejak dulu.

   "Manajer Qi pernah menyuruh saya untuk mencarikan sebuah kacamata selam untuk dijadikan hadiah ulang tahun direktur Wu pada tahun lalu... apa daya, ternyata tidak menemukannya sama sekali. Itu kenapa kami membelikan sebuah kemeja bermotif floral untuk direktur Wu tahun lalu." tutur pria yang tadi menyerahkan hadiah itu pada Stephy dan Nicholas.

Nicholas tersenyum dan melihat kacamata itu dengan seksama sebelum akhirnya ia mencoba memakainya sebentar, lalu melepasnya.

   "Saya menyukainya, ini akan sangat berguna. Terima kasih." ucap Nicholas dengan senyuman.

Stephy tersenyum memandang Nicholas dan mengambil salah satu hadiah lainnya dari dalam kotak. Ia mengambil sebuah kotak musik berukuran besar. Ketika di buka, kotak musik itu mulai mengeluarkan musik yang khas di keluarkan oleh kotak musik pada umumnya. Di dalam kotak musik itu, terdapat miniatur seorang perempuan dengan gaun berwarna putih sedang bermain piano yang juga berwarna putih. Stephy tampak serius memperhatikan miniatur itu berputar-putar di atas kotak musik yang terbuka. Wajahnya tampak tegang dan sepasang matanya seperti terpaku menatap kotak musik tersebut.

Nicholas yang melihat tatapan Stephy yang aneh pada kotak musik itu tampak bingung.

   "Stephy? Stephy? Kamu baik-baik saja? Ada apa dengan kotak musiknya?" tanya Nicholas dengan suaranya yang lembut.

Kotak musik itu terus berputar dan mengalunkan musik tanpa henti. Stephy hanya menggelengkan kepalanya, lalu menutup kotak musik itu secepatnya. Ia kemudian menutup kotak hadiah itu dan berterima kasih pada tim kerjanya.

   "Terima kasih semuanya. Saya hargai apa yang kalian berikan pada saya dan juga pada Nicholas. Saya senang karena kalian-" kata-kata Stephy terhenti segera setelah menyadari kalau ia tidak melihat bayangannya di sebuah cermin besar yang berada di belakang para timnya, tepatnya berada di seberang Stephy berdiri saat ini.

Mata Stephy terbelalak karena hanya sosok dirinyalah yang tidak ada di dalam cermin tersebut. Seluruh orang yang ada di dalam ruangan itu menunggu Stephy melanjutkan kata-katanya, tak terkecuali Nicholas.

   "Manajer Qi? Manajer Qi?" panggil salah seorang perempuan yang juga merupakan tim kerja Stephy.

Merasa terpanggil Stephy menoleh ke arah perempuan itu. Sedangkan perempuan itu menoleh ke arah cermin, berharap bisa mengetahui apa yang sedari tadi membuat Stephy terperanjat hingga tak mampu melanjutkan kata-katanya.

   "Manajer Qi, apakah ada yang salah dengan cerminnya?" tanya perempuan itu setelah melihat ke arah cermin.

Stephy pun kembali melihat ke arah cermin tersebut, namun kali ini ada bayangan dirinya di dalam cermin tersebut. Tidak ada yang aneh. Wajah Stephy tampak muram, ia seperti sedang memikirkan sesuatu dalam benaknya. Nicholas yang melihatnya mulai khawatir.

   "Stephy? Katakan saja ada apa? Mungkin aku bisa membantumu?" tanya Nicholas dengan lembut.

Tidak menjawab sepatah katapun, Stephy hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.

   "Tidak ada masalah, aku baik-baik saja. Semuanya, saya ke toilet dulu sebentar, umm... dan kalian juga sudah boleh kembali mengerjakan tugas kalian masing-masing. Sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih kepada kalian semua. Permisi." tukasnya.

Kemudian Stephy pun pamit ke toilet dan meninggalkan ruang rapat dengan cepat.

Sesampainya di toilet ia langsung menuju wastafel dan menatap sebuah cermin yang berada di depan wastafel. Namun tidak ada yang aneh, ia tetap bisa melihat bayangan dirinya yang muncul di dalam cermin. Stephy menunduk dan menghela napas panjang. Ia merasa syok dan sedikit takut. Kemudian ia membuka keran air dan membasuh tangannya sejenak dengan air yang terasa dingin. Mendengar seseorang keluar dari salah satu bilik toilet, Stephy kembali menatap cermin, berniat melihat dan menyapa bila kenal dengan orang tersebut. Alangkah terkejutnya Stephy, ketika melihat orang itu ternyata adalah Stephy sendiri dengan pakaian yang sama persis. Sosok itu tampak berjalan menuju pintu keluar dengan santai. Stephy seketika langsung membalikkan tubuhnya dan melihat ke sekeliling toilet. Akan tetapi ia tidak melihat siapapun dan ia yakin kalau orang itu belum sempat membuka pintu keluar, apalagi keluar dari toilet. Tetapi untuk memastikan, Stephy segera keluar dari toilet, berniat memastikan sosok yang baru saja dilihatnya, karena mungkin saja sosok itu sudah keluar dari toilet tersebut. Menoleh ke kiri dan ke kanan tetap saja hasilnya nihil. Stephy tidak menemukan siapapun.

Kemudian, tiba-tiba saja seseorang menyentuh bahu Stephy dari belakang, hingga membuat Stephy tersentak kaget.

   "Ah!!!" teriak Stephy seraya membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang menyentuh bahunya.

Ternyata orang itu tak lain adalah Nicholas. Ia sudah khawatir sejak tadi, jadi ia berpikir untuk menghampiri Stephy. Napas yang tak beraturan membuat Stephy merasa tidak nyaman dan sulit bernapas. Keadaan sekitar yang cukup ramai, dimana orang berlalu-lalang membuat Stephy tampak seperti orang yang sedang kebingungan mencari seseorang. Melihat itu, Nicholas berinisiatif untuk mengajaknya keluar untuk makan siang dan menenangkan diri, sebab Stephy terlihat sangat cemas.

   "Lebih baik kita makan siang dulu. Aku tahu ini agak sedikit terlalu pagi untuk makan siang, tapi kurasa keluar dari sini akan membuatmu jauh lebih nyaman. Lagipula tidak harus makan siang, kita bisa minum kopi atau semacamnya." ajak Nicholas.

Melihat calon suaminya begitu perhatian padanya, Stephy tersenyum, ia tampak terlihat lebih tenang dari sebelumnya.

   "Kurasa itu ide yang cukup bagus. Lagipula, tidak akan terlalu pagi untuk sekedar menyeruput segelas Coffee." Stephy tersenyum dan mengikuti Nicholas pergi meninggalkan kawasan kantor.

Tepat setelah Stephy dan Nicholas pergi dari kawasan tersebut, pintu toilet yang berat tiba-tiba saja terbuka dengan pelan dan kembali menutup, sebagaimana mestinya.


...


Writer : Evelyn A Chandra

Midnight RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang