Prolog

45 5 0
                                    

"buruaaaan Ran" teriak gadis cantik keturunan Jawa.

Sebut saja namaku Kirani dan temanku Pramudita. Kebetulan jika nama kami digabung dalam bahasa sanskerta memiliki arti cahaya alam semesta. Pramudita adalah sahabat terbaikku. Aku memang tidak diasuh pada rahim pulau yang sama dengannya, akan tetapi dia bisa senada dengan apa yang aku rasa. Pramudita tidak pula memiliki keyakinan yang sama denganku dan masyarakat pada umumnya, tapi diantara kita memiliki keteguhan yang memahami satu sama lain. Jelasnya kami sama-sama merantau di kota orang.

Kapan hari aku dan Pramudita jalan-jalan di daerah Jakarta kota tua. Setelah turun dari stasiun Jakarta Kota Tua, aku langsung memasang badan untuk menikmati senja di antara hiruk pikuk kota metropolitan itu. Saat matahari setengah tenggelam, semakin cantik dan cahaya yang semburat, Pramudita memukulku dari belakang sambil berkata

“senja itu setan Ran, kalo kamu saking cintanya sampai lupa ibadah”.

Pramudita tau betul bagaiman adzan berkumandang memanggil-manggil kami untuk segera menepati janji. Padahal Pramudita tidak pernah belajar tentang apa itu seruan adzan.
Aku cukup tersentak mendengar kata-kata yang ia tekankan padaku. Senja memang indah, tapi jika keindahannya tidak menumbuhkan keindahan bagi sesama, maka itulah yang disebut petaka.
Teman baikku itu menungguiku di depan masjid dan khusyuk membaca Al-kitab. Setelah kami sama-sama berdoa, kami kembali menikmati Jakarta Kota Tua.

Selepas senja, langit seakan retak nyaris runtuh. Tidak ada bintang dan bulan kala itu. Di atas sana dialektika burung dan angin semakin riuh dan menggadu. Sepertinya akan turun hujan.
Berebeda dengan langit, bumi sepertinya sedang merindu. Lorong-lorong Jakarta tanpa sekat terlihat haru. Ada tawa bercampur keringat bapak-bapak pedagang kerak telur. Ada semangat bercampur lelah orang-orang yang memakai kostum jaipongan. Jikalau disapa hujan, antara bahagia atau luka tidak dapat dilihat bedanya. Untung saja hanya gerimis manis yang membuatku berlarian kecil dengan dengan Pramudita.

Sudah hampir pukul tujuh malam, aku dan Pramudita mampir ke penjual ketoprak. Gerobaknya diparkir di seberang jalan Jakarta Kota Tua. Makanan kami tak perlu mewah asalkan bisa bahagia. Hitung-hitung memang sebagai mahasiswa perantauan kami harus sedikit ngirit. Ketoprak lontong, tahu, dan bihun sudah rejeki kami malam ini. Saus kacang khas ketoprak ini mengingatkanku pada rujak lontong bikinan ibuk di rumah. Bedanya masakan ibu selalu sedap walaupun dari bahan-bahan sederhana.

Kurang lebih tiga sendok aku menikmati makan malam dengan Pramudita, tiba-tiba para pedagang kaki lima di pinggir jalan itu lari berhamburan. Aku sedikit kaget dan penasaran apa sebab mereka lari terbirit-birit membawa gerobak besar dan pralatan yang ditumpuk tanpa menatanya. Pramudita pun tersentak mengatakan kepadaku

“ada satpol PP Ra, kita kudu kabur juga ga sih?”.

Aku yang masih takut tetap melahap ketoprak di depanku. Selain tidak boleh membuang rejeki juga aku masih lapar sekali. Satpol-PP tidak peduli pada kami, mereka fokus untuk mengangkut dan menertibkan pedangang kaki lima di pinggir jalan itu.

Karena kami belum sempat membayar ketopraknya, Pramudita sambil makan, ia melihat ke arah mana para pedagang itu menyelamatkan diri. Sedangkan aku memperhatikan trotoar bekas pedagang kali lima itu mangkal. Tak lama kemudian, mobil-mobil mewah memasang badan tepat di pinggir jalan bekas pedagang tersebut.

Aku sempat berpikir, ada yang salah dengan kota ini atau ada yang salah dengan pikiranku. Mungkin juga bukan aku berpikir tapi aku sedang menggunakan hati untuk merasa. Entahlah, aku tidak cukup banyak pegangan untuk mengatakannya.

Setelah aku dan Pramudita menghabiskan makanan, tak lama kami langsung pergi ke arah para pedagang menyelamatkan diri. Lumayan jauh dan banyak satpol-PP berjaga-jaga disekitarnya. Kemudian Pramudita mencari dimana ibu penjual ketoprak yang tadi kami beli. Setelah kami menemukan ibu tersebut, kami langsung membayar ketoprak yang kami makan. Herannya harganya naik dua kali lipat. Karena takut ada yang salah dengan pikiranku, aku anggap saja bersedekah.

CINTA BERSABARLAHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang