Semester kuliahku semakin tua saja tapi aku merasa semakin kehilangan banyak hal. Dulu aku dan Pramudita sempat memiliki banyak teman dekat, tapi satu persatu mulai tak setubuh. Dulu aku yang dengan mudahnya membeli barang yang diinginkan, sekarang harus mati-matian menabung. Selain itu, hal yang paling penting aku hilangkan adalah waktu.
Dari kesadaranku akan banyak kehilangan itu aku mencari lagi. Pencarianku itu dipertemukan dengan seorang pelopor komunitas peduli anak jalanan di Jakarta. Nama laki-laki hebat itu adalah Arya. Lama-lama aku semakin tertarik untuk mencari tau lagi. Meluruskan tujuan hidup yang kubangun tanpa pasti.
Malam jumat tepatnya, aku bergabung dengan komunitas yang digawangi oleh Arya. Aku dibawanya menemui anak-anak jalanan di kebayoran Baru. Aku meilhat mereka tinggal di tempat yang kumuh. Bahkan di antara mereka hanya tidur dengan alas seadanya.
Aku hanya sanggup duduk di pinggir trotoar dan melihat-lihat saja. Tangan dan kakiku mulai layu melihat betapa kehilangannya mereka dibanding kehilanganku. Hampir setengah jam aku hanya duduk melihat Arya dan anak-anak berbagi cerita, tiba-tiba ada seorang anak laki-laki kecil berumur 5 tahun menyapaku.
"kak, temen barunya kak Arya yah?”
“iyah dek, namamu siapa? Kenalkan namaku Kirani”
“Ilham Kak”
Ilham adalah anak yang sangat akrab dengan siapapun. Bahkan denganku yang baru saja bertemu sudah tak malu-malu lagi. Dia selalu bertingkah lucu dihadapanku. Dengan okulelennya yang sudah terlihat tua dibanding umurnya itu, ia menyanyikan sebuah lagu untukku. Jangan menyerah, jangan menyerah katanya.
Ilham tinggal bersama ayah, ibu, dan adik perempuannya yang hanya berselang umur dua bulan. Ayahnya adalah seorang tukang becak yang sudah dua tahun sakit-sakitan dan tidak bekerja lagi. Ibu Ilham menjadi tulang punggung keluarga dengan mengemis di jalan. Sedangkan Ilham dan adiknya membantu perekonomian dengan mengamen di jalan.
Usia yang masih terlalu dini untuk bekerja itu ia nikmati dengan selalu tersenyum.Aku seperti ditampar habis-habisan. Ketika aku seusianya, masalah besarku hanyalah tugas matematika. Aku tidak perlu bingung memikirkan bagaimana caranya mencari uang untuk makan. Bahkan makan saja masih disuapin oleh ibu.
Mataku berkaca-kaca. Aku ingin menangis tapi malu.Kemudian Arya menghampiriku dan mengatakan sudah waktunya pulang. Anak-anak ini sudah harus kembali ke rumahnya masing-masing. Walaupun kumuh dan tak layak disebut rumah, bagi mereka itulah persinggahan paling indah.
Aku hanya merenung di perjalanan pulang. Arya membiarkanku diam berjam-jam seolah-olah dia sudah tau apa yang sedang aku pikirkan. Arya bahkan tidak bertanya sedikitpun, ia hanya tersenyum kecil saat aku menatap ke arahnya. Ia membawaku melawati jalur yang lebih jauh dari biasanya.Di setiap jalan itu aku melihat banyak sekali ibu-ibu, bapak-bapak, dan anak-anak telihat mengigil di bawah lampu jalanan. wajahnya yang kumuh terlihat semakin lusuh. Senyumnya terseduh-seduh dan tangisnya terbahak-bahak menyayat hati.
Aku ingin menutup mata sejenak tak peduli. Tetapi batinku selalu menjerit tidak terima. Aku dipaksa mencari lagi, menggantikan hal-hal yang telah kuhilangkan sendiri. Aku dipaksa menyusuri kolong langit Tuhan. Aku semakin takut berjalan jauh dan tidak menemukan apa-apa. Aku takut hilang dari peradabanku sendiri.

KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA BERSABARLAH
Teen FictionAku mencarinya, sedangkan cinta sudah kupersiapkan. Aku menantinya, sedangkan rindu telah kusuguhkan. Aku mendambanya, sedangkan kasih dan sayang telah kuhidangkan. Modalku kini tinggallah kesabaran yang kuharapkan tak berujung. Bukankah mencari dan...