Hari masih pagi buta namun sebuah rumah sederhana yang ada dikota Jakarta sudah terdengar berisik. Seorang gadis yang tinggal dirumah itu sibuk membereskan rumah dan memasak untuk sarapan.
Tubuh gadis itu hanya dibalut sebuah kaos polos yang warnanya sudah sedikit pudar dan celana pendek sepanjang paha. Rambut panjang sepunggungnya yang berwarna hitam legam digelung asal hingga ada sisa-sisa rambut yang menjuntai dibahunya. Kedua tangannya dengan gesit bergerak menyapu lantai dapur yang sedikit berdebu. Setelah lumayan lama, akhirnya tugasnya membersihkan rumah selesai.
"Akhirnya selesai juga." Ucap Rea dengan lega. Dia menyimpan sapu dan pel ditempat semula. Setelah itu dia berjalan menuju meja makan kecil yang hanya cukup untuk 4 orang saja. Dia membuka tudung saji dan melihat kedalam bakul.
"Nasinya hanya sedikit lagi." Gumam Rea. Dia terdiam sebentar karena dia yakin nasi itu tidak akan cukup untuk dia dan adiknya. Dan dirumah tidak ada beras lagi. Dia belum gajian hingga belum bisa belanja.
"Tak apalah. Anna lebih membutuhkannya." Gumam Rea lagi disertai senyuman kecilnya. Dia menuangkan nasi yang sudah dingin itu ke atas piring yang terbuat dari plastik. Setelah itu dia mendekati kompor dan mulai menggoreng nasi dingin itu. Setelah beberapa menit, nasi goreng sederhana buatan Rea selesai. Dia menyiapkannya lagi ke atas piring dan menyimpannya diatas meja makan sederhana itu.
Rea lalu berjalan kearah ruang tamu yang juga berfungsi sebagai ruang keluarga. Dia melihat jam dinding dan jarumnya sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Rea pun berjalan mendekati kamar Anna dan masuk kedalamnya.
"Anna, bangun. Sudah pagi. Ayo mandi." Rea mengguncangkan tubuh Anna dengan pelan. Beruntungnya Anna tidak susah dibangunkan hingga tak memakan waktu yang lama bagi Rea untuk membangunkan Anna.
"Uh, sudah pagi Kak?" Tanya Anna seraya mengucek matanya. Rea tertawa kecil saat Anna menguap lebar.
"Iya. Cepat mandi dan sarapan. Nanti kita telat ke sekolah." Jawab Rea. Anna mengangguk pelan lalu mengambil handuknya. Dia berjalan keluar dari kamarnya menuju kamar mandi yang ada didekat dapur.
Rumah mereka memang sederhana hingga kamar pun tidak luas. Mereka juga tidak memiliki kamar mandi yang ada didalam kamar. Rumah yang terbuat dari dinding itu masih bisa berdiri kokoh setelah belasan tahun ditempati oleh Rea dan keluarganya. Namun, sekarang Rea hanya tinggal berdua bersama Anna.
Rea melipat selimut tipis Anna dan merapikan tempat tidurnya. Lalu dia mendekati meja belajar Anna dan mengambil sebuah buku pelajaran milik Anna. Tangan Rea bergerak membuka halaman buku itu. Senyuman terukir dibibirnya saat melihat soal yang dijawab Anna dengan benar semua.
"Beruntung aku dan Anna memiliki beasiswa hingga bisa sekolah SMA. Kalau tidak, sekolahku dan Anna pasti terputus karena tak ada biaya. Jangankan biaya sekolah, untuk makan pun susah." Ucap Rea pada dirinya sendiri. Dia menyimpan buku Anna dan keluar dari kamar Anna. Dia pun masuk kedalam kamarnya sendiri untuk bersiap ke sekolah.
***
Rea dan Anna sampai disekolah setelah jalan kaki dari rumah selama 15 menit lamanya. Mereka menampilkan senyuman lebar seolah hidup mereka bahagia tanpa beban. Dengan bersamaan, mereka masuk kedalam area sekolah.
"Kak, aku ke kelas dulu ya. Nanti kita ketemu ditempat biasa saat istirahat." Ucap Anna dengan riangnya. Dia meraih tangan Rea dan menciumnya sebagai tanda hormat. Setelah itu Anna berlari masuk kedalam kelasnya.
Rea tersenyum melihat keriangan Anna. Dia bahagia mempunyai adik seperti Anna yang mampu mengerti keadaan mereka. Anna bahkan tidak mengeluh saat teman-temannya memamerkan barang-barang yang mahal. Dia juga tidak pernah meminta macam-macam pada Rea hingga Rea sangat bersyukur.
Rea juga bersyukur karena dia dan Anna mendapatkan beasiswa hingga mereka bisa sekolah di SMA Pelita Harapan. SMA yang terkenal didaerahnya. Banyak sekali orang kaya yang bersekolah disana. Namun, semua murid disana baik dan mematuhi aturan hingga tidak ada peristiwa bully yang sering terjadi pada orang-orang tidak mampu seperti Rea.
Rea berjalan dengan langkah pelan menuju kelasnya. Sebuah hembusan nafas terdengar darinya. Sebentar lagi dia akan melaksanakan Ujian Nasional dan sebentar lagi dia akan lulus sekolah. Harapan Rea adalah dia bisa bekerja dan mendapatkan gaji lebih banyak hingga hidupnya dan Anna bisa lebih baik lagi. Dan Rea hanya bisa berdo'a semoga harapannya terkabulkan.
***
Seorang pria berusia 27 tahun terlihat duduk santai di sofa yang ada di ruangan nya di kantor. Ditangannya ada sebuah gelas yang berisi minuman beralkohol rendah. Sesekali tangannya bergerak menggoyangkan gelas itu. Dia juga tidak sendirian disana karena ada 3 sahabatnya yang sedang berkunjung.
"Bagaimana Daniel? Nanti malam kita pergi kan?" Tanya seorang pria pada laki-laki bernama Daniel itu.
"Aku tidak tahu. Kau tahu sendiri Dean kalau aku tidak terlalu tertarik pada sex." Jawab Daniel dengan santainya.
"Wow, kau sedang menyindirku Bung?" Tanya seorang pria yang duduk disamping Dean.
"Berisik Mario. Kau tak perlu berteriak juga kan?" Protes seorang wanita yang duduk disamping Daniel.
"Baiklah Lana yang cantik dan sexy. Aku akan membawamu ke kamarku nanti malam." Jawab Mario dengan seringai nakalnya. Wanita bernama Lana itu mendelik tajam dan melemparkan majalah ditangannya pada Mario.
"Sialan kau Mario." Umpat Lana. Mario hanya tertawa menanggapinya.
Mereka berempat sudah bersahabat sejak masih sekolah. Lana pun tak merasa risih walaupun dia bersahabat dengan 3 pria yang memiliki sikap berbeda-beda. Diantara Daniel, Dean dan Mario, Lana lebih nyaman dekat dengan Daniel karena Daniel bukanlah tipe pria yang suka merayu dan memikirkan urusan ranjang. Tidak seperti Mario yang gila akan sex. Sedangkan Dean berada ditengah-tengah. Dia suka bermalam dengan wanita namun tidak setiap malam. Tidak seperti Daniel yang hanya pernah satu kali melakukan hubungan badan dengan wanita.
"Datang saja Daniel. Kita sudah jarang ngumpul bareng." Ucap Lana. Dia menatap Daniel dan memberikan tatapan memelas.
"Baiklah." Jawab Daniel pada akhirnya. Lana dan Mario tertawa mendengar jawaban Daniel. Serangkan Dean hanya tersenyum tipis.
"Aku dengar dari Felix tadi. Katanya malam ini ada pelelangan di diskotik Jenna. Kau tertarik Mario?" Tanya Dean. Mario menatap Dean dengan seringainya.
"Virgin?" Tanya Mario penasaran. Kepala Dean menggeleng pelan.
"Aku tidak tahu." Jawab Dean.
"Ya sudah. Nanti malam kita datang ke diskotik milik Jenna. Aku akan membeli salah satu gadis yang akan dilelang itu. Kalian terserah mau beli atau tidak. Yang penting kalian harus datang juga." Putus Mario sepihak. Lana hanya memutar bola matanya bosan mendengar ucapan Mario. Mereka kembali berbincang-bincang dan Mario lah yang mendominasi pembicaran mereka. Sedangkan Daniel hanya diam mendengarkan.
Dia tidak pernah merasa tertarik pada perempuan. Dia juga tidak begitu tertarik pada sex. Dia memang pernah melakukan sex dulu saat kuliah bersama wanita bayaran yang di bawa oleh Mario. Sampai sekarang masih belum ada wanita yang mampu membuat Daniel tertarik. Bahkan Lana sudah mengenalkan banyak wanita pada Daniel. Tapi Daniel menolak mereka semua. Dan Daniel yakin sekali malam ini akan menjadi malam yang membosankan baginya.
Sayangnya, dia tidak tahu kalau malam ini semua yang ada padanya berubah. Dia tidak tahu kalau takdir sudah mempersiapkan semua pertemuannya dengan seorang perempuan yang akan membuat Daniel tergila-gila.
______________________________________
Hai hai...
Gimana?? Jelekkan??
Walaupun jelek, jangan lupa vote nya ya hehe...
KAMU SEDANG MEMBACA
That Night
Romance✨Highest Rank : 2 In Romance✨ Sudah dihapus sebagian. 18+ Terdapat banyak kata yang sedikit vulgar dan tidak disaring terlebih dahulu. Bagi anak yang dibawah umur silahkan menjauh. Masih nakal walaupun udah diberitahu? Itu terserah kalian saja. *** ...
