Jennie maupun Lisa tidak tahu berapa lama mereka saling pandang dan membeku di teras mansion. Lisa dapat melihat mata Jennie yang berkaca-kaca. Dan ia yakin hal sama terjadi padanya. Di dalam perjalanan menuju New York, Lisa tidak dapat meraba berapa besar rindunya kepada Jennie. Bahkan kini ia merasa limbung karena rindu yang dipikulnya ternyata terlalu besar.
Lisa memberanikan diri untuk mengulurkan tangannya terlebih dahulu. Jennie masih menatapnya tanpa berkedip. Ia tidak tahu sampai kapan dirinya akan menyadari bahwa Lalisa Manoban sedang berdiri di hadapannya. Setelah sekian lama pergi, kini gadis itu kembali.
Kembali padanya.
"Hai, Jennie. Bagaimana kabarmu?" tanya Lisa lembut. Tangannya tetap terulur pada Jennie, menunggu wanita itu menyambutnya.
Jennie menelan ludah. Kenapa lidahnya tiba-tiba tidak bisa digerakkan. Ia ingin sekali menjawab pertanyaan Lisa dan menyambut uluran tangan itu.
"Jennie-yaa, kenapa lama sek—LALISA?!"
Jennie terkejut mendengar seruan di belakangnya. Siapa lagi kalau bukan Jisoo. Wanita itu hampir saja menjatuhkan Lisa ketika menghambur ke pelukannya. Untung saja Lisa masih perempuan kuat seperti dulu. Lisa bahkan mengangkat tubuh Jisoo dalam dekapannya, membuat Jisoo berteriak senang.
Jennie sempat-sempatnya membayangkan andai saja ia berada di posisi Jisoo.
"Hai, Kim Jisoo. Senang sekali bertemu lagi denganmu," ucap Lisa ketika pelukan mereka terlepas.
"Aku juga sangat senang sekali. Ya Tuhan, setiap tahun kau bertambah sepuluh inchi ya? Kenapa semakin tinggi saja?" kelakar Jisoo seraya mencengkram kedua pundak lebar Lisa.
Jennie takjub melihat pertumbuhan Lisa. Jika dulu ia tomboy sekali, kini ia menjelma seperti boneka hidup. Rambutnya yang pirang membingkai wajah mungilnya yang sangat cantik. Kedua kakinya terlihat panjang dan ramping dalam balutan jeans. Serta kedua bahu yang kokoh itu, terlihat begitu menggoda untuk Jennie.
Tidak, apa yang dipikirkannya?! Tidak seharusnya ia berpikiran lain saat ini. Ia sendiri tidak tahu apa yang dilakukan Lisa di mansionnya!
"What are you doing here?"
Sebuah pertanyaan dari Jennie mengambil perhatian Jisoo dan Lisa. Mereka berdua menghadap Jennie.
"Aku mendapat undangan pesta kecil di alamat ini. Aku harap aku tidak ketinggalan makan malam serta wine-nya," jawab Lisa tenang.
Setelah sekian lama ia sudah melatih dirinya untuk bersikap tenang di depan Jennie.
Mendengar jawaban Lisa, mata Jennie otomatis mengarah pada Jisoo. Seperti dugaan Jennie, Jisoo menghindari tatapan tajamnya. Ia yakin Jisoo merencanakan sesuatu.
"Kau datang tepat waktu. Kami sudah menyiapkan makan malamnya. Ayo!"
Lalu tanpa persetujuan Jennie terlebih dahulu, Jisoo menarik Lisa ke dalam, beserta sebuah koper besar yang sejak tadi bersamanya. Jennie masih memandangi punggung Lisa dari ambang pintu. Apa ia baru saja bermimpi? Ini sungguh di luar dugaan!
Lisa POV
Dia bahkan tidak menyambut uluran tanganku. Apa dia sudah baik-baik saja? Jisoo telah mengirimiku pesan sejak kemarin secara terus menerus lalu aku putuskan untuk terbang ke New York dan menyerahkan pekerjaan di Bangkok kepada salah satu temanku, untuk sementara saja.
Aku tidak tahu apakah Jennie akan menendangku keluar mansionnya cepat atau lambat.
Jisoo menyebut ini reuni, jadi aku tidak heran saat melihat meja makan dikelilingi oleh beberapa teman sekolah kami dulu. Bahkan Jisoo mengundang Karla, teman satu klub tari denganku. Aku tidak tahu kalau Jisoo atau Jennie dekat dengannya sampai sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
ONLY YOU
FanfictionJennie berpikir bahwa persahabatannya dengan Lisa sudah berakhir bertahun-tahun lalu. Setelah menghancurkan hati Lisa saat malam prom mereka, Lisa pergi dari kehidupannya. Lisa menjauhkan dirinya dari Jennie dan memulai kehidupan baru yang jauh dari...
