Pria Misterius

6 0 0
                                    


Seminggu telah berlalu, tapi kami masih belum mendapatkan info atau bukti apapun, sampai pada hari sabtu semuanya berubah aku menerima telfon dari Nathan bahwa dia mendapatkan sesuatu, dan aku pun langsung menghubungi sahabat-sahabatku. Setelah kami tiba dirumahnya Nathan, kami mengetuk-ngetuk pintu rumah Nathan, ibunyapun keluar dan menawarkan kami masuk dan kamipun segera masuk rumah dan menanyakan Nathan.

"Oh Nathan dia ada dikamarnya"

"Tante,bisa minta tolong panggilkan Si-Nathan?"

Nathan akhirnya keluar kamar, dan dia menceritakan hal yang dia alami sama dengan yang di alami oleh Cindy, tapi syukurnya sebelum pingsan dia melihat ciri-ciri si pemukul.

"Lalu bagaimana ciri-ciri orang tersebut? apakah dia pria atau perempuan?"

"Dia pria dengan memakai jaket dan sepatu berwarna hitam"

"Apa lo liat wajahnya?" tanyaku.

Nathan menggeleng, "dia pake masker"

Cerdas juga orang ini, batinku. Saat itu kami semua benar-benar merasa diawasi tapi kami tak tau siapa yg memata-matai kami. Beberapa hari ini kami sering mendapat masalah, entah itu besar ataupun kecil. Dan si pemukul tak bisa segampang itu di temukan, dan kami dibiarkannya dengan seribu pertanyaan. Siapakah dia?, batinku. Hanya kalimat itulah yang selalu ada didalam pikiran kami. Dan sejak saat itu juga kami diliputi oleh rasa takut tapi juga penasaran, kami berniat melapor polisi, tapi kami gak punya bukti apa-apa, dan kami semua setuju untuk meyelidiki kasus ini sendiri tanpa bantuan dari pihak berwenang.

* * *

Kami semua diliputi oleh rasa takut,rasa takut kami pun menjadi-jadi,sampai pada akhirnya kami melupakan semua rasa takut kami. Sebulan-pun telah berlalu dan kami belum juga menemukan tanda-tanda dari si-peneror, dan karena itulah kami melupakannya kurasa orang ini sudah jera untuk menghantui kami. Akhirnya libur panjang akan segera tiba, jadi aku menelfon semua teman-temanku, dan kamipun berkumpul di taman tempat biasa kami nongkrong.

"eh, bentar lagi kan kita bakal libur panjang kira-kira kita kemana?"

"lah kok lo lupa Ren kita kan bakal kemah di gunung, masa gitu aja lupa sih"

"oh iya ya, gue baru ingat, hehe",sambil menggaruk bagian kepalanya yang tidak gatal.

lalu tiba-tiba aku terpikirkan lagi oleh si-peneror itu

"Hei kalian, bagaimana kalo kita kemah nanti dia akan membuntuti kita, apakah dia akan mengawasi kita?", tanyaku dengan nada takut, khawatir, semuanya campur menjadi satu.

"Siapa maksud lo "dia" Ra?"

"Ya pastinya si-peneror itu lah, emang siapa lagi coba?", sahut Nathan.

"Tapi sudahlah kalian tidak usah berfikiran yang aneh-aneh nanti kalo jadi kenyataan gimana, kalian mau tanggung?"

"Tapi Cin ada benarnya juga kata Amara"

"Kawan-kawan lihat! ini sudah satu bulan tapi tak ada yang terjadi sama kita, mungkin dia sudah jera dan mengincar orang lain", jawab Renata.

"Hei jika seperti ini, kita akan membahas apa?kemah atau pria berpakaian serba hitam?"

"Ok kemah aja deh", lebih baik kami membicarakan itu daripada harus membicarakan si-peneror yang belum jelas identitasnya itu.

Seperti malam biasanya suasana sunyi hanya ada hembusan angin yang menyayup-nyayup ditelingaku dan hembusan udara dingin dimalam hari yang menusuk tulang, tetapi langit tetap indah dihiasi oleh bintang-bintang dan bulan yang bersinar menyinari malam yang gelap. Lalu aku menulis sesuatu dibuku diaryku, tulisan itu berkata "bagaikan kupu-kupu terbang tinggi kita juga harus menggapai cita dan impian kita hingga tinggi" dan "bagai merpati terbang bebas dilangit tiada hal atau masalah apapun, bagai manusia yang memiliki masalah harus bebas dilangit, gembira tanpa rasa sedih".

Petualangan 6 SahabatWhere stories live. Discover now