- Cerita Sembarang -

3 0 0
                                        

- FREE -


Hari ini terlihat seperti biasa. Langitnya biru cerah. Hari yang tepat untuk melakukannya. Aku berjalan ke arah tangga yang menuju ke atap sekolah. Kenapa aku merasa harus dilakukan di hari secerah ini ?
Aku juga tidak tau. Mungkin karena aku sudah merasa lelah. Lelah dengan semua hal yang buruk. Lelah dengan semua di sekitarku.
Aku sampai di depan pintu atap sekolah. Aku membuka pintu itu. Aku terbelalak. Aku melihat seorang gadis dengan rambut panjang dengan jepit kupu-kupu, menengok ke arahku.
“Apa yang kau lakukan disini ?”, tanyaku. Lah, kenapa aku bertanya. Aku kaget dengan diriku yang mengatakan hal itu.
Gadis itu menjawab, “aku akan menceritakannya. Kau mungkin sudah mendengar ini sebelumnya.”, kata gadis itu. Kemudian gadis itu melanjutkan ceritanya.
“Semuanya telah dicuri dariku. Cowok itu telah menjadi milik gadis lain. Temanku juga menghilang. Kau tau kan, itu semua membuat hatiku hancur.”
Aku terdiam. Aku tidak percaya ini. Entah kenapa hati ini terasa marah.
“apa-apaan itu ?! Kau ke tempat ini dulan hanya karena masalah seperti ini ?! Padahal jika kau mencari lagi , pasti banyak yang mau berteman denganmu ! Jangan bercanda !”, marahku meluap.
Gadis berambut panjang dengan pita itu terdiam sebentar lalu tersenyum mengeluarkan air mata.
“kau benar. Itu hanya masalah sepele. Apa yang aku pikirkan? Sepertinya ini bukan saatnya.”, gadis berambut panjang itu tersenyum sekali lagi dan menghilang.

Kemarin aku tidak jadi melakukannya. Hari ini aku pastikan akan melakukannya. Aku menuju ke arah atap sekolah dengan menaiki tangga yang sama seperti kemarin. Lagi-lagi, aku melihat seseorang sudah mendahuluiku. Gadis berkacamata bulat yang terlihat cupu tapi manis. Apa-apaan dia?
Gadis berkacamata itu melihat ke arahku.
“Aku sudah tidak mau merasakan hal tidak enak seperti yang selama ini terjadi padaku. Semuanya menjauh. Sangat jauh sampai tak bisa ku gapai lagi.”, kata gadis itu.
“jangan bercanda?!! Hanya alasan seperti itu kau sampai disini terlebih sahulu daripada aku ? Kau masih punya orang tua yang selalu menemani mu di rumah kan ?! Pulanglah sana! Orang tua mu pasti menunggumu dengan makan malam lezat !!”
Aku bingung. Kenapa aku mengatakan itu? Entahlah, yang jelas kata-kata itu terlortar dengan alasan tertentu.
Aku melihat gadis berkacamata itu. Dia menangis tersedu.
“Kau benar. Rasanya aku lapar.”, kata gadis itu lalu menghilang.
Kurasa hari ini bukanlah hariku untuk melakukannya. Lalu aku berbalik dan pulang.
Begitulah terlewati. Setiap hari, setiap aku ingin melakukannya, mereka terus mendahuluiku, dan aku menyelasaikan masalah mereka agar mereka tidak melakukannya terlebih dahulu daripada diriku sendiri.

Sekolah pulang lebih cepat. Aku berlari ke atap sekolah. Lebam di kaki dan tanganku masih terasa sakit. Kepalaku juga terasa sakit. Aku berhenti sebentar untuk mengecek kepalaku.
Ternyata luka kecil saja. Anak-anak itu memang tidak baik. Pikirku. Lalu aku lanjut meneruskan lagngkahku. Aku sudah didahului lagi. Aku bertemu dengan gadis yang memakai jaket kuning. Wajahnya terlihat sangat tersiksa. Penderitaan yang dia lalui sepertinya mirip denganku. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Rasanya sakit sekali melihat gadis jaket kuning itu. Untuk pertama kali aku merasa seperti menelan lebih banyak daripada yang bisa ku kunyah. Kalimat yang tak kupercaya keluar dari mulutku.
“tolong jangan lakukan itu.”, kenapa aku mengatakannya. Kuharap gadis ini segera pergi. Aku tidak tahan melihat penderitaan yang sama denganku. Jika dilihat lagi, gadis jaket kuning itu memiliki lebam di bagian tubuhnya. Tak lama, air mataku meluncur.
“Kau merasaknnya, bukan ?”, kata gadis itu.
“Setiap hari terasa gelap bagiku. Mau seterang atau secerah apa pun hari itu, tetap terlihat gelap bagiku. Sakitnya terasa sekali. Bahkan pukulan kuterima, tak sesakit hatiku ini.”, jelas gadis itu.
Air mataku semakin deras. Entah kenapa pedih sekali.
“disekolah dan dirumah kerasnya selalu aku lewati. Aku mencoba bertahan dengan melaluinya seperti mimpi yang nyata, dengan senyum paksaan yang selalu kubuat. Aku melewati hariku yang gelap dengan itu.”, lanjut gadis jaket kuning itu.

“Bodoh ! Kenapa kau mendahuluiku hanya karena alasan tak jelas seperti itu ?! Pergilah ! aku tak tahan melihat wajah penuh deritamu.”, aku menangis.
Gadis jaket kuning itu melihatku. Senyum sayu menempel di wajahnya.
“sepertinya ini bukan hariku.”,kata gadis jaket kuning.
Dia melihatku sekilas lalu menghilang begitu saja. Aku masih mennagis. Tak henti mengalir air mataku. Aku juga tak mau pulang ke rumah yang bau alkohol itu. Kehidupanku dulunya tidak seburuk ini. Apa ada yang salah kulakukan ? aku tak mau memikirkannya lagi. Tapi sepertinya tak ada pilihan lain selain pulang ke rumah. Dengan gontai ku seret tasku menuruni tangga lalu keluar area sekolah.

Besoknya, aku mengintip dulu atap sekolah. Tidak ada orang. Aku mengintip karena aku tidak mau mengatakana kalimat yang tidak aku percaya aku mengatakannya.
Aku beruntung tidak ada orang. Hanya aku dan diriku sendiri. Aku melepas pita kupu-kupu yang terpasang di rambut panjangku. Kemudian aku melepas kacamataku lalu jaket kuningku. Aku siludah cukup merasa sakit. Lebam dan luka yang kuterima sebelumnya dan lebam dari pukulan semalam pasti tidak akan terasa sakit lagi. Aku yakin itu. Tak lama dan dengan sadar aku merasakan bebas. Seperti burung yang terlepas dari sangkar dan bebas dari kekejaman yang dilakukan pada dirinya. Angin menerpa dengan lembut. Dan tak terasa, semua berakhir bagiku.











NB: Terinspirasi dari sebuah lagu berjudul  “My R” yg dinyanyikan oleh Hatsune Miku.
Kalian pasti tau lah .....( Yg otaku/wibu pasti tau :v).

Bagi yg blm tau, cri google or YouTube ae lah ya...

Sorry kalo ad typo yg menyebar kayak debu:v

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 23, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

BAD experienceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang