"Hari ini Anda diundang makan siang oleh Nona Mari." Laksmi dengan sebuah notes di tangan, membacakan jadwal kegiatan Elora, "Malamnya, Anda berdua akan dinner bersama Tuan Galen."
Elora memutar bola mata, "That sounds fun." ujarnya sarkastis.
"Nona..." tegur Laksmi sambil menggelengkan kepala, seolah sedang mengingatkan seorang anak kecil, "Tolong bersikaplah baik di depan mereka. Bagaimana caranya Anda bisa merebut perhatian Tuan Galen kalau terus memasang muka jutek begitu?"
"Bi Laksmi santai aja," Elora mengangkat kedua bahu, tampak asyik membaca novel berjudul The Firm di pangkuannya, "Kita masih punya 3 bulan 29 hari lagi di sini."
Laksmi menghela napas, tak lagi bisa berkata-kata. Nada bicara Elora yang mengesankan bahwa topik pembicaraan sudah ditutup membuatnya langsung bungkam.
"Kita mulai make-up ya, Ra." Pretty mempersilakan Elora duduk di depan meja rias. Hans sibuk memilah-milah pakaian di dalam walk-in closet, sedangkan Zeta mulai menyisir rambut panjang Elora.
Tepat pukul 12 siang ia telah siap, mengenakan casual dress berwarna peach, riasan tipis, serta rambut yang diekor kuda.
"Let's go." Elora berjalan di depan, diikuti seluruh anak buahnya. Mereka turun menuju taman Aster yang berada di sisi barat Puri Kalaha—tempat Mari menunggunya.
"Elora!" Mari sontak berdiri dari kursi. Wanita itu tersenyum lebar, menyambut kedatangan Elora layaknya sahabat lama yang sudah lama tak bertemu, "Ya ampun gue kangen banget sama lo!"
Seluruh pasukan dari kedua belah kubu membelalak lebar, sama sekali tak menyangka situasi damai seperti ini yang akan mereka lihat. Padahal Laksmi sudah bersiap-siap bila kepala pelayan Mari yang bernama Puspa mengajaknya ribut.
"Kangen?" Elora tertawa hambar, tak berniat membalas pelukan Mari, "Bisa gitu, ya?"
Mari buru-buru menjauhkan diri, bingung mendengar nada mencemooh itu, "Maksud lo?"
"Gue heran aja apa yang lo kangenin dari gue. Dulu kita cuma pernah papasan dua kali. Dan waktu itu kita bahkan nggak ngomong lebih dari tiga menit."
Senyum ramah di wajah Mari sirna dalam sekejap. Butuh waktu beberapa detik sampai ia bisa menguasai dirinya lagi. "L-lo bisa aja, Ra." ucapnya sambil tertawa kencang. Ia buru-buru menarik Elora agar duduk di hadapannya, membuka topik pembicaraan baru, "Oh ya, Galen cerita katanya kemarin dia dinner sama lo."
"Galen yang cerita?" Elora menyeringai tipis, sarat arti, "Setahu gue hari ini dia sibuk dan nggak keluar sama sekali dari ruang kerjanya. Terus kapan dia punya waktu cerita sama lo?" pertanyaan bernada sindiran itu sukses membuat Mari mati kutu.
Hmph! Para pelayan yang berdiri di belakang Elora mati-matian menahan tawa. Pretty bahkan harus menutup mulutnya agar suara kikikannya tak terdengar.
"M-maksud gue nggak langsung dari Galen..." meski sedikit terbata-bata, senyum manis masih terpatri di bibir Mari, seakan ingin menunjukkan bahwa ucapan Elora sama sekali tak memengaruhinya, "Poppy yang cerita sama gue."
Elora memerhatikan Mari dengan saksama. Setelah bertahun-tahun, ia sama sekali tak menemukan perubahan dari wanita itu. Tetap ramah dan selalu memandang orang lain dengan tatapan hangat. Tampaknya Mari benar-benar pilihan tepat bagi Galen—sang protagonis yang sempurna.
"Gue sering dengar tentang kehebatan lo dari Om Bayu." lanjut Mari dengan binar kagum, "Dapat beasiswa penuh di dua universitas top, gila sih. Keren banget."
"Thanks." Elora tersenyum kecil, lalu menyesap teh di hadapannya. Baiklah, untuk saat ini sepertinya sudah cukup ia menyerang Mari. Harus diakui, Mari memiliki mental yang cukup kuat karena mampu merespons sikap buruknya dengan baik.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Antagonist Program (TERBIT)
RomansaSEBAGIAN BESAR SUDAH DIHAPUS. HANYA TERSISA 4 CHAPTER. [TERSEDIA DI TOKO BUKU GRAMEDIA SELURUH INDONESIA & GRAMEDIA.COM ATAU VERSI E-BOOK DI GRAMEDIA DIGITAL DAN GOOGLE PLAY BOOKS] [Broadcasting Series-2] Sang Ratu Pilihan (SRP)--reality show terbar...
