Aku pernah berjanji untuk menjagamu. Kau mencibir dan berkata semua itu adalah omong kosong. Aku meyakinkanmu, dan kau mencoba menyadarkanku. Sekarang aku sadar, semua itu memang omong kosong belaka. Maaf.
*
*
*
Jooheon tidak tahu harus kemana. Semua dalam ingatannya hanya berupa kenangan yang berwarna kelabu yang sudah tidak mampu dia kenali. Seoul terlalu ramai. Jooheon bukan bagian di dalamnya. Bukan lagi sejak berhari-hari, atau mungkin bertahun-tahun. Kenapa Seoul sepadat ini? Berapa tahun telah berlalu? Jooheon hanya menatap Seoul dari ketinggian. Tidak pernah benar-benar masuk dalam jantung kota Seoul. Kecuali untuk banyak botol Wine dan beberapa makanan. Jooheon tidak yakin apa yang dia ambil secara asal di toko pinggir jalan memang makanan.
Mobil yang di bawa Jooheon masih melaju, melintasi jalan demi jalan yang menjadi urat nadi Seoul tanpa tujuan. Harus kemana? Kemana aku harus pergi?
"Tidakkah kau berpikir bahwa dulu kita tinggal bersama, Jooheon hyung?"
Jooheon seperti tersadar oleh sesuatu yang tiba-tiba muncul dari alam bawah sadarnya. Sekelebat warna biru dan putih. Bukankah itu warna yang familiar. Ya, benar.
Rem berdecit begitu keras. Jooheon tidak sadar bahwa dia telah melompat keluar sebelum mobilnya benar-benar terparkir. Di mana ini?
Jooheon menatap bangunan di depannya. Ini jelas bukan tempat tinggal. Lalu kenapa di sini? Ah, ya. Warna biru dan putih itu. Kaki Jooheon membawa pemuda itu masuk. Matanya melompati warna demi warna. Di mana warna biru dan putih itu? Jooheon bergumam dengan rancu, seperti orang linglung dan banyak pasang mata yang melihatnya. Bulatan hitam dengan pinggiran putih. Mata yang memandangnya. Memangnya aku kenapa?
"Hyung .." ragu-ragu Jooheon memanggil. Biru dan putih. Di sana.
"Hyung!" suara Jooheon jernih. Merambat di udara. Merangkak dari telinga ke telinga yang lain.
Biru dan putih. Jooheon merasa pening untuk beberapa saat. Kepanikan datang menyerang seperti lelehan panas. Jooheon jatuh terduduk. Matanya memburam. Biru dan putih. Hyung!
"Demi Tuhan. Jooheon?!"
Telinga Jooheon berdengung. Suara siapa?
Biru dan putih memenuhi penglihatannya. Seraut wajah yang familiar muncul di antara kerumunan yang menyesakkan.
"Hyung," suaranya hilang. Tidak terdengar.
Rengkuhan hangat ini. Jooheon menangis. Sudah sangat lama. Berapa hari telah berlalu? Berapa bulan? Jooheon tidak bisa kembali jika dia dia tetap diam dalam posisi ini. Jooheon tidak akan mampu kembali ke apartmentnya dengan hidup jika tetap seperti ini.
"Tenanglah, Jooheon. Hyung di sini. Tenanglah!"
Jooheon hanya ingat mengangguk. Terlalu banyak mata yang memandangnya. Jantungnya telah memukul-mukul dadanya karena rasa cemas dan panik luar biasa. Dia tidak boleh di sini terlalu lama. Atau dia akan mati. Mata itu menghakimi dia. Dia yang bersalah. Semua memang karena dia. Jooheon melihat dahi yang berkerut, mata yang mendelik tidak suka. Tatapan mengkasihani yang menusuk dadanya dengan rasa nyeri.
Jooheon menarik napas. Kakinya lemas seperti tanpa tulang. Dia tidak mampu berdiri, dia tidak mampu bernapas. Sepasang tangan menuntun Jooheon, dan pemuda itu yakin dia telah membebankan seluruh berat badannya pada orang lain.
Jooheon terlalu panik. Pandangan matanya abu-abu. Dia lalu merasakan tangan yang sama memaksanya untuk menyandar. Jooheon lalu menyandarkan punggungnya dan merasakan bau mobilnya yang khas. Matanya terbuka. Wajah itu terlihat. Dekat, dengan warna biru dan putih yang berupa helaian lembut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hyung, Don't Apologize [END]
Fiksi Penggemar"Hyung, jangan meminta maaf!" Suara itu terdengar lagi. Memperingatkan Jooheon bahwa dia tidak perlu menghukum dirinya sendiri, tapi Jooheon menolak untuk mengakuinya. Semua ini memang salahnya.
![Hyung, Don't Apologize [END]](https://img.wattpad.com/cover/177183633-64-k882881.jpg)