Chapter 2

498 49 13
                                    

Sasuke berlari tergesa sambil merapatkan syal hitam di leher. Sepasang onyx-nya memandang mendung dengan gelisah. Tak ingin demam yang baru turun beberapa jam lalu kembali, bocah lima tahun itu memeluk erat tubuhnya sendiri walau sudah memakai jaket tebal. Bunga-bunga yang bermekaran menandakan musim semi sudah kembali, namun jika masih sedingin ini bukan tidak mungkin hujan yang turun akan berubah menjadi salju.

Larinya terhenti ketika melihat pohon sakura kecil milik tetangga sedang mekar. Ia mematung sebentar lalu bersin beberapa kali. Usai mengusap ingusnya dengan sapu tangan, Sasuke memetik satu ranting yang bunganya paling banyak dan kembali berlari sebelum ketahuan pemilik rumah.

Ketika tiba di taman, Sasuke berjalan pelan. Seperti mengendap-endap. Ia menajamkan pendengarannya, berharap menemukan petunjuk bahwa firasatnya benar. Terbatuk kecil beberapa kali, Sasuke mulai tersenyum saat samar-samar suara isakan sampai ke telinganya.

Mengintip dengan hati-hati pada ruang di bawah perosotan, bocah berambut hitam itu melebarkan senyumnya. Bahagia karena perkiraannya benar. Naruto bersembunyi di sini. Duduk meringkuk sambil menangis dengan suara sekecil mungkin.

Sasuke duduk di samping bocah pirang itu. Sebisa mungkin tidak bersuara. Namun gagal, Sasuke kesusahan karena jaket tebalnya sehingga tak sengaja menyenggol Naruto. Keduanya spontan saling tatap, kaget. Namun beberapa detik kemudian mereka terbahak bersama.

Naruto mengusap airmata dengan kaosnya. "Kau sedang apa di sini? Harusnya kau tidur atau Itachi-niichan akan marah."

Sasuke batuk kecil beberapa kali. "Aku mencarimu." Sasuke memberikan ranting yang tadi dipetiknya. Merogoh saku celana dan mengeluarkan dua jeruk.

Naruto menerimanya sambil mengernyit. "Ini jerukmu. Aku yang memilihnya di toko tadi pagi."

"Itu untukmu. Bibi Kushina pasti memarahimu dan tidak memberimu jeruk, kan? Sampai kau berlari sambil menangis tadi." Sasuke mengambil satu dan mengupaskan untuk Naruto.

Naruto membuka mulut ketika Sasuke menyuapinya. Sedetik kemudian ia mulai menangis lagi. Seperti orang dewasa, dengan telaten Sasuke mengusap airmata sahabatnya lalu menepuk-nepuk punggung bocah pirang itu -mencoba menenangkan tanpa bicara apapun.

Naruto masih terisak. "Aku menangis bukan karena tidak diberi jeruk. Aku menangis karena ibu mengemasi pakaianku," Naruto memakan sendiri sisa jeruk di tangan Sasuke. "Sore nanti kami akan berangkat mengunjungi nenek untuk beberapa hari."

Sasuke mengerjap. "Bukannya bagus? Sekolah juga masih libur."

Airmata Naruto jatuh lagi. "Tapi Sasuke sedang sakit. Aku tidak mau pergi saat kau sakit." Suara isaknya semakin membesar. "Siapa yang akan bermain denganmu di rumah? Siapa yang akan membenarkan selimutmu saat kau tidur? Siapa yang akan membawakan makananmu ke kamar?"

Sasuke mengerjap polos. "Ibu?"

Naruto meraung tidak terima. "AKUUU~"

Tiba-tiba terdengar suara kamera. Saat Sasuke menoleh, sudah ada Itachi, Minato, Mikoto dan Fugaku di dekat mereka. Sasuke sama sekali tak sadar jika diikuti. Mereka semua tertawa kecil. Kecuali Itachi yang tersenyum kelewat lebar sampai ilernya menetes.

Mikoto menyentuh kepala putranya. "Beberapa hari ini Naruto membantu mengurusmu, Sasuke."

Mendengar perkataan ibunya, Sasuke langsung menggandeng sebelah tangan Naruto. Tangan yang lain untuk membantu mengusap airmata bocah pirang itu. "Maaf, aku tidak tahu. Aku pasti sedang tidur. Terimakasih, Naruto."

Itachi menjerit gemas.

Naruto membiarkan Sasuke membersihkan airmatanya karena kedua tangannya membawa jeruk dan ranting sakura. Mikoto tersenyum gemas. Berbeda dengan tiga orang lainnya yang malah asik memotret dua bocah menggemaskan itu sambil menjerit tertahan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 28, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

You Are My SpringTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang