four - first love making

219K 2.7K 34
                                        

"Clarice?" panggil Drew

"Kenapa?" balasku sambil berteriak

"Lama sekali kau di dalam. Aku sudah memesan makan malam." Mendengar kata makan malam air liurku langsung menetes. Gara-gara resepsi sialan dan emosiku yang tidak stabil, energi tubuhku terkuras banyak.

"Aku datang."

***

Kami makan dalam diam. Aku melahap makan malam itu dengan rakus. Aku menyadari itu, tetapi aku tidak peduli.

"Kau seperti orang tidak makan berhari-hari." Aku masih sedikit kesal dengan Drew mengenai Benita. Jadi aku memilih tidak menanggapinya dan meneruskan sikap dinginku.

"Apakah aku berbuat salah?" tanyanya. Drew berhenti makan dan melipat tangan di dadanya yang kekar. Aku mengeleng.

"Lalu kenapa kau kesal padaku?" karena aku tidak suka melihatmu dengan Benita.

"Aku tidak kesal padamu Drew." dustaku.

"Pembohong! Kau bersikap seolah-olah aku tidak ada di sampingmu sejak resepsi." ucapnya marah.

"Kenapa kau jadi marah-marah begini?" tanyaku heran melihat emosinya yang tiba-tiba meledak. Drew menghela napas pelan

"Sudahlah, lebih baik aku tidur." katanya seraya bangkit membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya ke ranjang.

Napsu makanku hilang melihat kelakuan Drew. Aku sangat lelah dan akhirnya aku mengikuti jejak Drew.

***

Aku terbangun karena sentuhan pada wajahku. Pelan-pelan aku membuka mata dan mendapati Drew sedang mencium bibirku. Awalnya dengan pelan dan lembut. Kemudian dia melepas ciumannya. Matanya seperti bersinar. Gejolak dalam diriku mulai bangkit. Api itu, api yang sama yang muncul ketika kami berciuman. Drew menyibak selimut sampai terbuka kemudian menindihku dan mulai mencium bibirku dengan sedikit kasar. Semakin lama ciuman kami menjadi semakin panas, kami saling mengigit dan menghisap. Drew semakin menekanku ke ranjang. Tanpa kusadari kedua kakiku melingkar di pinggulnya. Sesuatu dalam diriku menginginkan interaksi yang lebih. Tiba-tiba tangan Drew menahan pingangku. Dia sedikit menjauh dan memandang terkejut tetapi senang kepadaku.

"Aku tahu sejak ciuman itu, di balik sosokmu yang lugu tersimpan wanita yang haus akan belaian sayang." Dia terkekeh dan mulai mencium leherku. Aku mencengkram rambutnya yang tebal. Tangannya membelai setiap lekuk tubuhku. Sambil meremas pantatku pelan, Drew menyusupkan tangannya ke balik kausku. Aku mendesah pelan di sela ciuman kami ketika Drew membelai dan meremas payudaraku.

"Sangat lembut Clarice." bisik Drew di telingaku. Aku melengkungkan tubuhku keatas menginginkan sentuhannya. Seolah mengerti permintaanku, Drew menarik kausku dan melemparkannya ke sembarangan tempat. Aku tidak pernah memakai bra ketika tidur, mata Drew menyala bergairah memandang kedua payudaraku yang membusung. Dengan sangat lbut Drew menyentuh kedua payudaraku. Meremas keduanya sambil mencium leherku sampai aku mendesah. Lalu tangannya berlahan-lahan turun dan mengelus pahaku. Gairah dalam tubuhku mulai terbakar.

Drew memanggut salah satu payudaraku. Menjilat, mengigit dan mengisapnya. Dan mengulangi hal yang sama pada payudaraku yang lain sementara tangannya mengelus paha dalamku dan semakin naik hingga ke sela di antara kedua kakiku yang hanya dibatasi oleh celana dalam tipis. Jari-jarinya membelaiku dari balik celana dalamku.  Aku mendesah nikmat. Dengan cepat Drew melepas kausnya dan memperlihatkan perutnya yang rata dan berbentuk kotak. Kemudian dia kembali mencium bibirku sementara jari-jarinya mulai menyusup ke balik celana dalamku, menyentuhku di sana. Aku sangat malu tapi rasanya sangat nikmat. Drew menyentuhku di sana dengan lembut. Awalnya dengan lembut, membelai klitorisku. Erangan kecil muncul dari bibir Drew yang kembali sibuk dengan payuaraku ketika aku mengelus pelan pungungnya yang lebar.

Love and Drew (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang