chapter1

8 1 0
                                    

Bintang Indylia prameswari
.
.
.
.
Hari yang indah di mulai ketika mentari mulai menyapa dengan kehangatannya , dan hari yang indah berakhir ketika sang rembulan mulai terseyum bersama bintang, itulah yang selalu kak sam katakan padaku .Aku bahkan bisa melihat kejujuran atas perkataan kak sam yang selalu hadir di setiap hariku.

Tapi menurutku semua itu salah menurutku pagi yang indah itu di mulai ketika aku bisa melihat wajah kakaku ketika aku terbangun di pagi hari . Dan hari yang indah berakhir ketika aku bisa melihat wajah kakakku sebelum aku memejamkan kedua mataku .

Aku berharap di kehidupan selanjutnyapun aku tetap menjadi adik kak sam .

Saat terbangun aku selalu berteriak di kamarku aku bahkan takan membuka mataku jika kak sam belum ada di hadapanku .

"Kak kaka bintang sudah bangun " setiap hari selalu ada teriakan di dalam kamar ku . Kak sam yang sudah terbiasa langsung datang ke kamarku .

"Dek sekarang buka mata kamu , kakak sudah di sini" . Aku membuka mata perlahan hal yang pertama aku lihat adalah iris mata kak sam yang sebiru lautan tatapan matanya dalam sedalam samudera bahkan wajahnya tak bisa tergambarkan dia sangat mirip denganku rambutnya berwarna coklat   tubuhnya yang tegap dan berisi , bukan berarti kak sam gendut dia itu rajin sekali olahraga. Siapapun yang melihat kakaku pasti langsung jatuh hati hanya karena tatapannya saja .

"Hmm kak sam memang selalu tampan wanita manapun yang melihat kak sam pasti akan muak karena merasa dirinya diguna guna, apalagi mata yang indah ini selalu bisa membuat resah orang yang melihatnya" aku mengulas senyum pada kak sam sesekali aku berkata dengan sangat dramatisnya.

"Kakak beruntung punya adik secantik kamu bahkan kamu memiliki iris mata yang sangat indah kamu juga cerdas kakak bangga sekali hanya saja kamu gatau sopan Santun masa bicara sama kakanya aja gitu   " kak sam membalas perkataan bintang . Tak lupa memberikan senyuman yang indah pada bintang . Juga oleh oleh yang setiap pagi akan di terima bintang.

Pletak

"Besok lagi gaakan Dateng sini kalo kamu belum sopan ke kakak " kak Sam duduk di sebuah kursi yang ada di sana.

"Iya iyaa" akuhanya cemberut karena setiap pagi pasti hadiahnya sama yaitu mengelus kepalaku dengan agak kencang hingga menimbulkan suara pletak.

" satu semester lagi kakak akan lulus SMA sedangkan bintang Masih tiga semester lagi ,kakak gaakan kuliah ke luar kota kan ?"bintang mengintrogasi kakaknya itu.

"Tenang aja kakak kuliah di sini aja , nanti setelah kamu lulus mungkin kakak akan pindah ke pakistan atau korea untuk melanjutkan study " kak sam memang sangat bisa membuatku tersenyum .

"Yeee kakak memang teeeerrrbaik " bintang memeluk kakaknya.

"Ada orang yang datang " kak sam berbicara padaku . Padahal aku tak mendengar apapun ,pendengarannya sangat tajam dan terbukti setelah beberapa menit terdengar suara langkah . Bi minah datang menghampiri kami .

"Maaf , den samudera di suruh ke bawah sama nyonya " bi minah berbicara pada kak sam .

"Iya bi nanti saya kesana " bi minah segara pergi meninggalkan mereka.

"Kak cepet itu nyonya manggil " aku tersenyum jail ke arah kakaku .

"Dek.... udah lah jangan panggil ibu nyonya nanti ibu marah loh " sam menatap adiknya dengan tatapan tajam.

"Iya deh , "padahal aku hanya ingin melihat tatapan kakaknya seperti itu karena saat itulah ia bisa melihat jati diri , pikiran serta magic yang ada di dalam tubuh kakaknya .

Aku tersentak namun aku segera memalingkan mukaku agar tak terlihat kaget di depan kak sam . Irisku berubah melihat magic yang sangat besar di dalam tubuh kakak ku . Untung saja kak sam tidak menyadari hal itu .

Bring It On AngelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang