Gue menatap teman sekelas gue satu persatu. Mereka terlihat fokus ke depan, ada beberapa yang tengah berdiskusi dengan teman sebangkunya. Sampai akhirnya ada yang tunjuk jari dan bertanya.
"Mencermati beberapa ketentuan yang tertulis sebagaimana tadi telah dijelaskan, peratuan Tanam Paksa itu memang tidak begitu memberatkan rakyat. Tetapi bagaimana pelaksanaannya di lapangan? Bukankah banyak terjadi tindak korupsi dari para pegawai dan pejabat yang terkait dengan pelaksanaan Tanam Paksa?"
Emang ya si Alfa tuh kadang-kadang suka bikin temannya mati kutu kalau lagi presentasi. Iya, gue lagi presentasi di depan. Gue nggak sendirian tentunya, ada teman sekelompok gue juga.
Rani, teman sekelompok gue, yang kebetulan juga jubir, agak bingung menjawab pertanyaan yang diberikan alfa.
Akhirnya gue memutuskan buat bantu Rani menjawab pertanyaan itu.
"Saya akan menjawab pertanyaan tersebut."
"Oh, baiklah Levi silakan." bu Eka selaku guru Sejarah mempersilakan gue buat menjawab.
"Yang jelas pelaksanaan Tanam Paksa itu tidak sesuai dengan peraturan yang tertulis. Selain banyak terjadi korupsi, banyak pula pekerja yang jatuh sakit. Mereka dipaksa fokus bekerja untuk Tanam Paksa, sehingga nasib diri sendiri dan keluarganya tidak terurus. Bahkan kemudian timbul bahaya kelaparan dan kematian di berbagai daerah."
"Oke, terima kasih karena sudah menjawab." Kata Alfa.
Dan sesi pertanyaan pun selesai. Gue sama teman sekelompok gue kembali duduk ke tempat duduk masing-masing.
Gak berhenti sampai situ aja. Rupanya Rani masih dendam sama alfa, jadi seusai pelajaran berakhir dia langsung menghampiri Alfa dan bilang, "Alfa, lo kok tega banget sih sama gue. Untung aja tadi ada Levi yang bantu jawab."
Alfa yang lagi beresin bukunya terlihat sedikit terkejut waktu Rani menghampiri dia.
"Ya suka-suka gue lah orang gue gak tau ya gue nanya, lo nya aja yang gak matang nyiapin materinya." Balas Alfa.
"Ya gak bisa gitu dong, harusnya lo tanya sesuai apa yang dijelasin."
"Lah emang tadi nggak sesuai? Levi aja bisa jawab kok."
"Tau lah, gue sebel sama lo!"
Alfa mengendikkan bahunya acuh, "Bodo amat sih gue."
Gue diam-diam emang memperhatikan mereka berdua, bukan niat gue juga sih tapi ya gimana ya mereka kan posisinya ada di depan gue ya gue otomatis lihat plus dengar juga.
"Rani udah deh, udah kelewat juga. Yang penting kita udah dapat nilai kan?"
Rani menoleh ke arah gue dan menghampiri gue.
"Iya Levi, tapi gue masih sebal ya sama dia, bukan sekali dua kali dia kayak gitu." Kata Rani sambil nunjuk Alfa, terus dia balik ke bangkunya sambil misuh-misuh.
Kelas ribut seperti biasanya, mentang-mentang lagi gak ada guru. Gue memilih mengatur posisi kepala gue buat tiduran di meja. Sumpah ya, gue mager banget. Padahal setelah ini ada rapat perwakilan kelas. Dan jangan ditanya siapa yang bakal pergi, itu gue meskipun karena terpaksa.
"Levi ini ada yang nyariin!"
Gue segera bangun setelah mendengar teriakan Diva. Baru juga istirahat, udah ada yang ganggu.
"Siapa Div?" tanya gue pas udah di depan pintu.
Ternyata ada cowok tinggi, rapi juga sih menurut gue, sambil pegang kantong plastik gitu.
"Lo Levi?" tanya cowok tinggi itu pas sadar gue udah di depannya.
"Iya, kenapa?"
"Nih," cowok itu memberikan kantong plastik yang ia bawa ke gue. Sementara gue mengernyitkan alis gue bingung.
"Kue pesenan mama lo, kata bunda gue disuruh kasih ke lo." Jawab dia seakan tau kalau gue bingung.
"Oh, emang mama pesan kue?" tanya gue sambil ngambil kantong plastik berisi kue yang sedari tadi ia sodorkan.
"Iya. Yaudah kalau gitu gue langsung balik ke kelas."
"Oke. Btw, makasih ya"
Setelah itu gue langsung masuk ke kelas dan berjalan menuju tempat duduk gue. Baru lima langkah gue jalan eh ada yang nyeletuk,
"Cie Levi disamperin cowok," ini yang ngomong Nindi, biang gosip di kelas gue. Dan sedetik kemudian sekelas langsung natep gue curiga.
"Siapa sih siapa?" tanya Tya yang tadinya sibuk nyalin tugas beralih maju buat mastiin ke depan, dasar kepo.
"Siapa sih, Div? Lo kan di depan juga tadi." Tanya teman sekelas gue yang lain.
"Anak akuntansi tuh si Evandra."
"Serius lo? Evandra Arkana? Dia kan termasuk dalam 10 orang paling ganteng di sekolah. Wah Levi gila lo, selera lo gak main-main." Ini Nindi udah heboh banget. Iya dia emang punya daftar orang-orang ganteng di sekolah gue, padahal di sekolah gue anak cowok tuh jumlahnya gak terlalu banyak. Hhhh terserah dia aja deh.
"Ini lagi, lo dikasih kue sama dia? wah wah wah.." kata Rani pas tahu gue bawa kantong plastik berisikan kue.
Otomatis gue mendelik dong, "Heh, nggak gitu ya. Ini kue pesanan mama gue, lagian juga gue nggak kenal sama dia."
"Gak papa lah, Lev. Lumayan loh si Evandra, kayaknya juga dia masih sendiri tuh."
"Iya bener. Duh cie Levi cie.."
"Udah ah pusing gue mau lanjut tidur, awas aja kalian bikin gosip yang nggak-nggak." Ancam gue ke teman-teman gue.
"Woi, Lev, jangan tidur lo! Kumpul perwakilan kelas!"
Astaga gue lupa.
"Thanks Bil udah ngingetin. Eh, Reina mana?"
"Tadi sih bilangnya mau ke kamar mandi." Jawab Bily.
"Oh gitu, yaudah gue rapatnya tunggu Reina dulu."
Reina itu teman sebangku gue by the way, dan gue sama dia yang bakal jadi perwakilan kelas buat rapat hari ini.
Awalnya gue gak terlalu dekat sama Reina. Karena, ya, gue emang susah buat deketin orang baru, dia kan beda SMP sama gue.
Waktu awal masuk sekolah tuh gue duduknya sama si Nindi, tapi gak bertahan lama. Bisa bayangin kan, Nindi tuh biang gosip, segala macam hal dia kepoin bahkan yang gak penting sekalipun. Sedangkan gue, jangankan kepo peduli aja nggak.
Sempat juga sih duduk sebangku sama Vina tapi kenaikan kelas sebelas gue pindah jadi duduk sama Reina. Reina yang minta ke gue waktu itu, dia bilang dia pengen duduk sama gue sejak pertama masuk, cuma dia gak berani buat bilang.
Dia juga sempat ngomong ke gue kalau gue tuh unik, jadi dia pengen kenal gue lebih dekat lagi. Duh, Reina emang semanis itu ya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Beyond The Scene
Jugendliteraturkata orang gue orangnya cuek, gak pedulian dan gak punya temen. ya. emang bener sih. Ini kisah gue