1

9 1 0
                                    

   Aku keluar dari rumahku menuju ke sekolah. Berjalan menyusuri jalan yang biasa aku lewati. Ada yang berbeda dengan pagi hari ini. Aku berjalan dengan pikiran yang hampa. Ku iringi perjalanan ini dengan lamunan.

   Setibanya di depan gerbang sekolah, tiba-tiba ada suara seorang gadis memanggilku dari belakang. "Akie, Akie-chan" seru gadis tersebut. Serontak aku menghentikan langkahku dan aku memalingkan wajahku.

    "Eh, Sayama. Ada apa?"
    "Kamu tadi aku lihat sewaktu perjalanan seperti  
     orang bingung. Apakah kamu memikirkan sesuatu?"
    "Tidak, aku tidak memikirkan apapun." Balasku.

   Tak lama setelah perbincangan kami yang singkat, terdengar suara bel yang berbunyi dengan keras. Kami lalu berlari menuju ruang kelas kami yang berada di lantai 3.

   Lamunanku selama perjalanan masih terus berlanjut di ruang kelas. Pandanganku yang kosong menatap ke luar jendela sambil bergumam di dalam hati. "Aku ingin memiliki seorang kekasih". Entah apa yang aku pikirkan selama perjalanan hingga saat ini aku bisa mempunyai keinginan untuk mempunyai seorang kekasih. Apakah aku merasa iri dengan Sayama yang telah mempunyai seorang kekasih. "Ah, tidak mungkin".

   Jam pelajaran telah usai, aku mencoba untuk melupakan apa yang aku pikirkan selama pelajaran tadi. Ketika kakiku beranjak dari bangku, disaat yang bersamaan Sayama datang dan mengajakku ke sebuah kafe yang berada di Shibuya.

    "Akie, maukah kamu ikut denganku? Aku akan pergi ke
     kafe di Shibuya. Beredar kabar disana mereka
     menyajikan kopi yang terbaik di Tokyo, loh!" ajaknya.

   Aku menerima ajakannya. Tidak ada salahnya aku ikut, agar bisa melupakan yang aku pikirkan tadi. Kita memutuskan pergi menaiki kereta dari stasiun terdekat.

   Setibanya di dalam kereta, kami berbincang banyak. Tidak bisa dipungkiri, dia mungkin akan menanyakan apa yang terjadi padaku sehingga membuatku melamun hampir seharian. Perasaanku benar, tidak lama setelah kita berbincang tentang pekerjaan sekolah, dia menanyakan akan hal tersebut. Lantas tak sengaja aku mengatakan kepadanya bahwa aku merasa iri dengan dia yang telah memiliki lelaki. Selama hidupku, aku tak pernah memiliki seorang lelaki.

    "Ah, mana mungkin. Kamu lebih cantik dari aku"
    "Selama ini banyak yang mendekatiku. Tetapi aku
    tidak pernah menyikapi mereka" balasku
    "Cobalah untuk menyikapi mereka. Siapa tahu suatu
    hari nanti kamu akan menemukannya"

   Berselang 15 menit berbincang, akhirnya kami tiba di Stasiun Shibuya. Karena Stasiun Shibuya berada di bawah tanah, kami harus mencari tangga agar bisa sampai ke atas. Ini adalah pertama kalinya aku mengunjungi Shibuya. Banyak orang tampak mengantri hanya untuk sekedar berfoto dengan patung Shiba Inu, patung anjing legendaris asal Jepang.

   Kami tiba di kafe tersebut setelah kami menyusuri Shibuya hampir 10 menit. Aku akui, aku sangat takjub dengan dekorasi kafe itu. Kami pun memesan Macha Espresso dengan beberapa kudapan yang tersedia di menu. Kami memutuskan untuk duduk di dekat jendela.

   Menikmati sore hari dengan secangkir kopi dan kudapan yang manis memanglah sangat cocok. Bercengkrama ria dengan sahabatku sampai kami lupa waktu. Hari telah beranjak malam dan jam menunjukkan pukul 8. Kami berdua memutuskan untuk pulang dengan menggunakan kereta.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 29, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Cinta Seperti Sakura Yang MekarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang