Semenjak ditinggal suaminya, Mbok Rascekotte terpaksa menghidupi keluarganya seorang diri. Ia dan ketujuh belas anaknya tinggal disebuah gubuk usang yang hampir roboh karna kayu-kayunya dimakani rayap. Tiap hari dua kali mereka makan sepiring berdelapan belas. Meski sering dilanda kelaparan, namun anak-anak Mbok Rascekotte tumbuh dengan penuh kegembiraan. Senyum Mbok Rascekotte selalu menghiasi hari-hari mereka, tanpa mereka tahu bahwa ada kesedihan dan rasa letih dibalik senyuman itu.
Mbok Rascekotte kini memutuskan untuk menjadi bakul tenongan, menjajakan jajanan di jalan-jalan kota. Dihari pertamanya ia benar-benar bersemangat, berangkat pagi-pagi benar dimulai dari memasuki komplek-komplek perumahan. Jajanan laris manis, rata-rata dibeli isteri-isteri pengusaha kaya yang tidak mau repot membuat sarapan anak mereka yang hendak berangkat ke sekolah. Ia berjalan dengan senang, meskipun beban pikulannya cukup berat. Namun tenongan itu dirasa tidaklah berat dibanding dengan berat kehidupannya. Langkah demi langkah ia lalui, berjumpa dengan keluarga-keluarga mapan dengan rumah idamannya, membeli jajan tanpa ragu merogoh kocek. Semakin ia berjalan dan semakin laris jajanan terjual, justru semakin bertambah beban dipikirannya. Ia kembali teringat pada anak-anaknya, misalnya si Polivergot, anak laki-laki nomor 8 yang sudah nunggak SPP selama 9 bulan, atau si Kobupoxci, anak perempuan pertamanya yang akan segera menikah dengan pengangguran tampan berusia 39 tahun. Sungguh berat beban yang bergendayutan dipundak kehidupannya.
Pada suatu titik dimana ia merasa sangat letih, ia nglemprak dibawah lampu kota, menangis tersedu-sedu. Seakan memarahi takdir,ia memukul mukul dengkulnya yang sudah mulai kepayahan. Namun ia gigih, dilanjutkannyalah perjalanan. Demi anaknya ia persembahkan segala keringat yang menetes pada bumi, dengan harapan bumi senantiasa melindungi anak-anaknya dari marabahaya dan penderitaan. Akan tetapi semakin jauh ia berjalan, semakin sepi pembeli, dan semakin terbukalah luka perih di sekujur hatinya. Sangat sepi pembeli, walaupun tidaklah sesepi hatinya tanpa cinta sang mendiang suami.
Ia terus berjalan menyusuri kota, meski sepi pembeli ia tetap berjuang. Setidaknya ia kini tahu, bahwa perjuangannya tidak selalu berbuah seperti apa yang ia harapkan. Ia juga kini sadar, bahwa perjuangan harus kenal waktu, apalagi saat itu sudah pukul 3 dini hari. Mungkin besok-besok ia tidak harus berjualan selama 24 jam. Karena berdasarkan pengalaman hari ini, diatas jam 9 malam sudah banyak orang tidur dan beristirahat, itu mungkin jawaban kenapa dagangannya semakin sepi hari itu.
