satu

95 2 2
                                    

 " mencari seorang sahabat sejati lebih sulit dibanding mencari seribu teman. Mencari sahabat seperti mencari setitik debu di kumpulan pasir."



Stella datang kerumahku dengan memasang wajah aneh dan di kelihatan gusar. Sebagai teman yang baik aku siap mendengar setiap kata-kata yang keluar dari mulut mungilnya.

"Ki, gue udah nggak tahan lagi Bryan sama sekali nggak nunjukin sikap positifnya. Sepertinya dia nggak cinta sama gue deh, apa cinta gue bertepuk sebelah tangan ya. Ahhh Kinan gue mesti gimana dong" katanya dengan mengoyak rambutnya sendiri.

Apa yang bisa aku lakukan sementara aku belum pernah tertarik dengan cowok apalagi cinta. Sebagai sahabat yang baik dan tidak sombong aku memberinya kata-kata saran atau kritik atau wejangan aku nggak tau harus memakai istilah apa.

"Stella Stella, apa sih yang loe suka dari Bryan" tanyaku dia membuka mulutnya, tapi aku memotongnya sebelum dia berkata apa-apa. Aku tau dia mau bilang apa, karena udah ratusan bahkan ribuan kali dia memuji Bryan yang menurutku itu sangatlah berlebihan.

"gue tau dia kapten tim basket di Kampus, dia keren, cakep, dan banyak yang ngejar-ngejar dia. Tapi buat apa itu semua kalo dia bisanya Cuma stay cool pada semua cewek"

" iya juga sih, tapi di nggak sedingin yang dia lakukan ke cewek lain. Kalau sama gue dia beda kok, dia pernah senyum sama gue dan juga pernah nyapa gue kayaknya dia ada sedikit perasaan juga deh sama gue"

Aku tersenyum mengejek " cuma kege-eran kali loe, dia juga sering nyapa gue, bahkan lebih sering dibanding nyapa loe. Loe ingat kan waktu itu dia bahkan bertingkah seolah-olah loe nggak ada ". Upss kayaknya aku salah ngomong deh.

Stella memasang tampang sedih dan menunduk, sumpah aku nggak bermaksud seperti itu. Aduh aku harus gimana nih "sorry Stell gue nggak maksud kayak gitu. Gue bakalan bantu loe buat deket sama Bryan deh, gue bakal nyomblangin loe sama dia, janji.".

Stella mengangkat mukanya "serius loe mau bantuin gue ? loe kan paling ogah sama namanya cinta. gue juga nggak percaya loe bakalan berhasil, loe bahkan belum pernah jatuh cinta sok-sokan mau bantuin nyomblangin gue"

" iya serius, gue bakalan bantu loe, fakultas Bryan kan tetanggaan sama fakultas gue. gue emang belum jatuh cinta dan nggak bakalan jatuh cinta. Jatuh cinta hanya akan buat gue lemah, kayak loe yang kerjanya nangis-nangis gak penting cuma gara-gara dicuekin Bryan"

"hush nggak boleh ngomong gitu, awas aja kalau loe sampai jatuh cinta. Gue bakal jadi orang pertama yang ngetawain loe saat loe nangis karena cinta. Sama dengan yang loe lakuin dulu waktu pertama kali gue cerita sama loe"

" nggak bakalan, bagi gue sudah cukup merasakan cinta di imajinasi gue "

"itu nggak sama Kinan sayng. Perasaan yang loe rasain di imajinasi saat loe membuat novel loe itu berbeda dengan perasaan yang loe rasain saat loe benar-benar jatuh cinta. Semua perasaan yang loe tuangin yang bikin para pembaca loe baper itu cuma rasa semu yang coba loe buat "

"udahlah nggak usah bahas ini lagi, apa loe mau gue berubah pikiran dan nggak jadi bantuin hah ?"

"ahh Kinan jangan dong, loe kan satu dari sedikit cewek yang nggak tertarik sama Bryan dan cuma loe yang mau bantu gue, jangan marah dong sensi banget sih "

"abisnya loe nyebelin sih, gue juga terpaksa bantuin loe. Gue merasa bersalah tadi karena gue ngomong sesuatu yang nggak seharusnya gue omongin itu doang. Lagian apa bagusnya sih si Bryan, cuma jago basket ini. Gue juga jago kali."

" ih bilang aja loe mau bantu gue karena loe nggak mau kehilangan sahabat secantik dan multitalent kayak gue iya kan? Loe mah emang banyak yang mau juga. "

Aku tertawa geli, " sumpah deh Stell loe bener-bener Mrs. Over PD " kataku sambil melempar bantal dan tepat kena mukanya. Lalu terjadilah perang bantal dan guling dikamarku.


Saat Cupid Jatuh CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang