"Kau tidak kekampus?"
Pemuda yang sudah menjadi housematenya semenjak tahun pertama perkuliahan membuka pintu kamarnya. Ia dapat melihat Hangyul yang sedang menelungkup diatas kasurnya dan tampaknya pemuda Lee itu tengah menonton sesuatu di laptopnya.
"Aku tak ada kelas."
Hangyul menjawab singkat, tak ingin melewatkan sedikit saja tontonannya dengan mengalihkan atensinya pada sang housemate.
Sang housemate mengangguk, ia beranjak dari luar kamar dan memasuki kamar yang didominasi furniture ala anak kos yang dominan berwarna monocrom.
"Biasanya kau kekampus sore ini sekalipun tak ada kelas."
Hangyul tak menjawab, ia tahu pasti jika pemuda bernama Kim Sihoon ini akan membawa nama Cho Seungyoun dalam percakapan mereka karena pemuda itu entah mengapa hafal jadwalnya pergi kekampus entah itu berhubungan dengan kuliahnya ataupun saat ia bertemu dengan Seungyoun.
"Cho Seungyoun sedang sibuk ya?"
Ia tertawa keras melihat Hangyul yang menatapnya tak suka. Ia menutup laptopnya karena merasa terganggu akan topic yang diangkat Sihoon. Ia sekali lagi menatap sang housemate sebelum kembali berbaring setelah meletakkan laptopnya diatas meja.
"Kau kenapa sih suka sekali membahas Cho Seungyoun? Kau juga menyukainya?"
"Aku? Menyukai Seungyoun hyung? Tidak terimakasih. Dengan aku tak menyukainya saja kau sudah banyak saingan apa lagi jika aku ikutan menyukainya."
Hangyul mendengus keras. Memang benar sebenarnya apa yang diucapkan sang pemuda Kim. Orang yang menyukai Cho Seungyoun terlalu banyak, mungkin itu alasannya ia menjadi tak peka akan perasaaan orang lain.
Karena yang mengirim sinyal rasa bukan hanya satu atau dua orang. Atau memang dia pada dasarnya yang tidak peka.
"Aku heran sih sebenarnya kenapa kau menyukai Seungyoun hyung. Setahuku kau lebih memilih sub dibanding seorang top. Kau sekarang sub ya?"
"Kau bercanda." Nada yang ia keluarkan sedikit tinggi, jelas saja mana mau dia dikatakan sebagai seorang sub saat dia adalah seorang dominan sejati. "Aku ini dominan."
"Lalu? Seungyoun hyung juga bukan seorang submissive"
Hangyul menghela nafas kasar.
"Apa sih yang membuatmu heran. Laki-laki saja bisa berhubungan dengan sesame laki-laki masa seorang dominan menyukai seorang dominan membuatmu heran."
"Benar juga." Sihoon mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda setuju. "Lalu apa rencanamu?"
"Maksudmu?"
"Kau masih mau memendam perasaanmu? Lebih baik nyatakan saja. Kau menyukainya bukan satu atau dua bulan lamanya."
Hangyul lagi-lagi menghembuskan nafasnya. Ia merubah posisinya yang semula berbaring menjadi duduk dan menyadari pada headboard. Rasanya jika menyangkut tentang Seungyoun selalu membuatnya sakit kepala terlebih tentang perasaannya pada pemuda jangkung itu.
"Kau fikir semudah itu? Ada banyak orang yang menyukainya bagaimana mungkin aku percaya diri dia akan memilihku dari pada yang lain."
Sihoon mengerlingkan matanya bosan. Alasan yang dikemukan pemuda Lee itu tentu tak masuk akal menurutnya. Pemuda Lee itu tentu saja memiliki nilai plus dimata Seungyoun, ia saja yang tidak percaya diri. Seandainya saja ia tahu seberapa sering pemuda yang ia idamkan itu berucap namanya.
"Kenapa tidak dicoba saja sih. Daripada kau diam dan hanya memikirkannya setiap malam. Lebih baik nyatakan saja jika diterima kau beruntung kalau ditolak ya sudah move on saja."
Hangyul menatap tak suka kearah Sihoon. Dia fikir semudah itu untuk menyatakan cinta jika memang iya sudah sedari dulu Hangyul menyatakan perasaannya pada Cho Seungyoun.
"Kau fikir semudah itu?"
"Memang, kau ini lakui-laki tidak sih kenapa cuma memendam perasaanmu seperti perempuan saja."
Berdebat dengan seorang Kim Sihoon tentu saja takkan ada habisnya, pemuda ini selalu tahu apa yang katakana dan jujur saja jika bukan ia target debat Sihoon ia akan setuju 100% dengannya hanya saja ia tak bisa melakukannya semuda itu.
Ada banyak hal yang harus ia pertimbangkan. Salah satunya adalah bagaimana jika ia ditolak dan Seungyoun menjauhinya. Rasanya akan sama seperti sudah jatuh tertimpa tangga pula, sudah ditolak jauhi pula.
"Kau pasti takut jika dia menjuhimu kan? Aduh Hangyul klise sekali pemikiranmu. Kau seperti tak mengenal dia saja. Kita kan sama- sama tahu jika dia bukan orang sedangkal itu, dia tidak akan mejauhimu hanya karna kau punya perasaan padanya."
Hangyul terdiam, memang benar pemuda bermarga Cho itu bukan tipikal orang yang akan serta merta menjuhi teman yang menyatakan perasaan padanya. Kebalikannya malah, ia masih mau merangkul mereka dengan tangan terbuka hanya saja ia juga menyatakan dengan bahwa mereka adalah teman dan tak lebih.
"Itu bukan alasan utamanya." Ucapnya pelan.
"Lalu?" Sihoon menatapnya penasaran.
"Seungyou hyung kan menyukai Seungwoo hyung."
Ini adalah salah satu alasan yang membuatnya semakin urung untuk menyatakan perasaannya. Pemuda Cho itu sepertinya selalu memiliki sedikit lebih banyak perhatian untuk dicurahkan pada Han Seungwoo. Dan hal itu yang terkadang membuatnya tak suka pada pemuda Han itu.
Terlebih saat mereka bersama, entah menonton film atau sekedar makan siang bersama pemuda Cho itu selalu membawa nama Han Seungwoo. Bagaimana ia sudah dekat dengan pemuda itu sedari dulu, atau bagaimana ia selalu membutuhkannya entah untuk apa.
Jelas sekalikan dia menaruh hati pada Han Seungwoo.
"Kau memangnya pernah bertanya pada Seungyoun hyung apa dia menyukainya atau tidak. "
Hangyul menggeleng, ia memang belum pernah menanyakannya. Untuk apa dia bertanya jika hanya akan menyakitkan hatinya sendiri saja. Tapi sudah terlihat jelas, lagipula bukan hanya dia seorang yang berkata begitu. Banyak orang yang berkata sama saat melihat interaksi keduanya.
"Ya sudah jangan sembarang menyimpulkan saja. Aku itu sudah muak berada diantara kalian."
Sihoon berjalan keluar dari kamar Hangyul begitu saja, meninggalkan pemuda Lee itu dengan banyak pertanyaan diotaknya.
"Apa sih maksudnya, memangnya siapa yang suka mengungkit Cho Seungyoun jika bukan dia sendiri." Dengus Hangyul.
Apa ia sebaiknya mencoba menggenggam pemuda itu dengan menyuarakan perasannya?
Keinginan itu tentu saja selalu ada dibenaknya bahkan semenjak ia mengaku pada dirinya sendiri ia terjatuh pada pesona seorang Cho Seunyoun. Seandainya saja dengan ia menyatakan perasaannya ia bisa menggenggam pemuda itu.
'Tapi apa kau berani?' batinnya.
'Lagipula memangnya kau lebih berarti dari Seungwoo hyung dimata Seungyoun?'
.
.
.
TBC
.
.
.
Sudah lama sejak terakhir aku update fanfiction ini. Masih ada yang menunggu ini update kah?
Lagi-lagi ceritanya kurang dari seribu kata padahal aku sudah menargetkan untuk setidaknya mencapai seribu. Maafkan aku yang sedikit kekurangan ide.
Anyway thank you for reading the previous chapter dan aku berharap kalian cukup puas dengan chapter ini. Dan kira-kira kalian ada ide untuk chapter depannya mau seperti apa, kalau ada tolong beri aku ide.
Dan btw aku bikin work baru oneshot sih judulnya Tentang Kita couplenya itu Ryeonseung. Jika ada yang menaiki kala ryeoseung silahkan dibaca. Tapi rencananya work itu akan aku jadikan kumpulan cerita pendek. So if you request a couple along with the plot I may write that.
Don't forget to vote and comment my beloved readers ^^

KAMU SEDANG MEMBACA
Jatuh
FanfictionDia terlalu bersinar untuk diacuhkan keberadaannya. Dia terlalu menarik untuk tidak menarik atensi. Dia terlalu sempurna hingga kau jatuh. Namun yang jatuh tentu bukan saja dirimu saja. Karena memang ia sesempurna itu. Its Seungyul fanfiction