Aku berlari menghampiri ke dua ayahku dan memeluk mereka dengan erat.
"Selamat nak, kau membuat papa bangga." Ucap papa Hendy.
Mataku bersinar ketika seorang memanggil namaku dan berlari menghampiriku.
"Kakak Mutia...." Suara adikku Ryan di antara kerumunan para tamu wisudawan. Ryan memelukku sangat erat, dia membawa buked bunga mawar putih yang sangat indah.
"Kita ke makam mama, studio foto dan makan-makan" suara papa Hendy.
Setelah berfoto-foto bersama teman-teman, kamipun melanjutkan perjalanan menuju makam mama.
1 Maret 2005
Hari selasa yang cerah, dokter Riani membawaku ke sekolah yang baru di Jakarta. Jakarta sangat ramai, berbeda dengan tempat tinggalku yang dulu, dulu aku ke sekolah hanya berjalan kaki dari rumah sekitar lima menit sudah sampai di sekolahan, tetapi di Jakarta aku membutuhkan waktu satu jam untuk sampai ke sekolah.
Aku bersekolah di salah satu sekolah islam yang sangat terkenal. Gedung sekolahnya bertingkat tiga sangat megah, anak-anak yang bersekolah di situ semuanya diantar menggunakan mobil, anak-anak di situ sangat banyak. Mereka memakai pakaian yang rapi, tas sekolah yang bagus begitu pula dengan sepatu yang kelihatan sangat mahal. Berbeda dengan sekolahku yang dulu, beberapa anak bersekolah hanya membawa buku saja, karena tidak punya tas sekolah, ada juga yang membawa tas sekolah tapi sudah sobek sana sini. Begitu juga dengan sepatu yang dipakai, sepatu yang sederhana bahkan banyak yang rusak, karena sepatu bekas dari kakaknya atau saudaranya.
Bulan pertama aku di sekolah, kulihat banyak guru dan teman-teman bersimpati padaku, karena mereka tau aku adalah salah satu anak korban tsunami. Mereka sangat baik padaku, tetapi menginjak bulan kedua beberapa teman mulai memusuhiku. Beberapa anak yang biasa duduk makan siang denganku mulai menjauh, beberapa anak mulai takut bicara denganku.
Aku mulai tidak betah di sekolah itu. Baru tiga bulan aku bersekolah tetapi tidak bertambah teman di kelasku, malah semakin bertambah memusuhiku. Suatu hari aku dipanggil guru kelasku.
"Mutia ada laporan dari teman-temanmu, mereka bilang kamu selalu mencontek setiap kali ada ulangan, apakah itu benar ?"
Aku sangat kaget setengah mati, begitu bencikah teman-teman padaku. Sampai begitu tega memfitnahku begitu kejam.
"Saya tidak pernah mencontek Bu." Kataku lirih karena menahan sedih.
"Ada banyak saksi yang melihat kamu mencontek." Kata bu Lina guru kelasku itu, tiba-tiba air mataku mengalir. Aku tidak bersalah dan aku harus membela diri.
"Saya tidak bisa membela diri, Bu....Dan saya saat ini merasa di fitnah."
"Saya tidak pernah mencontek, untuk membuktikan pada ibu. Setiap ulangan ijinkan saya duduk di kursi ibu guru, agar ibu bisa mengawasi saya dan ibu bisa melihat nanti berapa nilai ulangan saya."
Entah dari mana keberanianku muncul, mungkin karena aku benar-benar sangat kecewa dengan ibu guru Lina yang percaya begitu saja pada ucapan teman-temanku.
Aku tidak berani mengadukan perbuatan teman-temanku di sekolah pada dokter Riani. Aku takut kalau dokter Riani akan lebih percaya pada teman-temanku dari pada aku. Aku hanya bisa berdoa agar Allah, ayah, ibuku serta keluargaku di surga memberiku kekuatan.
Saat ulangan aku duduk dikursi ibu guru atas permintaanku. Semalam aku hampir tidak tidur, belajar dan terus belajar agar bisa mendapat nilai yang bagus. Semua soal matematika kukerjakan dengan sangat teliti agar nilaiku sempurna.
"Sebenarnya aku kasian pada Mutia, tapi aku takut pada Hana dan Annisa...." Tanpa sengaja kudengar suara Bita dan Nadia di toilet.
"Aku juga takut dosa karna menfitnah Mutia, tapi kalau kita tidak ikut mereka, nanti kita yang akan dimusuhi...." Kudengar suara Nadia.

KAMU SEDANG MEMBACA
Tsunami
Short StoryCerita ini menggambarkan perjalanan hidup seorang gadis yang diadopsi setelah kehilangan keluarganya dalam bencana tsunami. Dia dibesarkan dengan penuh kasih oleh pasangan dokter yang baik hati, namun kemudian ia kehilangan ibu angkatnya, yang juga...