Pagi Yang Tak Biasa☘️

1.8K 66 5
                                        

Pulang dari Taman Brantas sekitar pukul sembilan malam, Zena melangkah pelan menuju kamar tidurnya. Tubuhnya yang lelah tetap menuntun langkahnya dengan ritme hati-hati, seakan takut mengganggu suasana rumah yang mulai hening. Ia segera berganti pakaian tidur: piyama berwarna merah muda dengan motif bunga-bunga yang lembut. Setelah berpakaian rapi, Zena duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah jendela yang masih terbuka.

Matanya menelusuri seluruh sudut kamar yang luas, namun bagi Zena, luasnya kamar tak ada artinya jika hati terasa kosong. Yang ia dambakan hanyalah kehadiran seseorang di sisinya, seseorang yang mau memeluknya hangat saat malam tiba pelukan yang selama ini hanya menjadi angan. Ia menggelengkan kepala, menahan senyum pahit, membayangkan kenyataan yang mustahil: Pandu, suaminya, tidur di kamar yang sama dengannya. Memberikan perhatian saja sudah cukup membuat hatinya bergetar hangat, apalagi perhatian itu juga untuk anak yang ia kandung, buah cinta yang masih ia rahasiakan.

Dengan langkah ringan namun tertatih, Zena berdiri dan menutup jendela, membiarkan udara malam yang sejuk masuk sebentar sebelum menggeser tirai agar angin tidak terlalu menusuk. Lampu kamar pun diganti dengan lampu tidur yang lembut. Ia menarik selimut tebal menutupi tubuhnya, mencoba menghalau rasa sepi yang terus mengendap di dalam dada.

"Hah sepi yah," bisiknya pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam hening malam.

Matanya menatap langit-langit kamar, mengenang harapannya tentang pernikahan yang manis, pernikahan yang selalu ia impikan sejak lama. Dulu, ia percaya bahwa menikah dengan orang yang dicintai akan menghadirkan kebahagiaan yang tulus. Namun kenyataan berkata lain. Pandu, suaminya, ternyata menyimpan hati untuk orang lain. Semua perhatian yang dulu diberikan hanya pura-pura, demi mantannya yang sedang sakit. Pikirannya terasa hampa, dan jantungnya seakan memendam luka yang tak terucap.

"Pikiranku blank aku tak bisa berpikir matang," gumam Zena, suaranya bergetar tipis. Ia menekuk lutut, menarik selimut lebih erat, seolah ingin menahan segala rasa yang menekan dadanya. "Seharusnya aku tak memaksa Pandu, aku kasihan melihatnya seperti orang tertekan. Kenapa aku tidak berpikir lebih dewasa? Apakah aku terlalu kekanak-kanakan? Egois? Ya, memang egoisku ada tapi egoisku bukan untuk diriku sendiri untuk anak yang ku kandung ini. Anak ini ingin selalu dekat dengan ayahnya."

Tangannya menggenggam selimut lebih erat, jari-jarinya menekan kain tebal itu, seakan mencoba memegang dunia yang terasa rapuh di tangannya. Ia menahan napas, membayangkan bagaimana nasib anaknya nanti, ketika kehangatan ayahnya tak bisa ia rasakan sepenuhnya.

Akhirnya, Zena menutup kedua matanya perlahan. Tubuhnya sedikit menggeliat di bawah selimut, menyesuaikan posisi agar nyaman. Ia membiarkan diri hanyut dalam bayangan ilusi semoga Pandu masuk, memeluknya hangat, menenangkan rasa takut dan sepi yang selama ini membekap hatinya. Namun, dalam hati ia tahu, semua itu hanyalah angan.

Dalam kesunyian kamar yang hanya diterangi lampu tidur lembut, Zena memeluk diri sendiri, membiarkan pikirannya melayang pada masa depan yang penuh ketidakpastian. Meski hatinya sakit, ia mencoba bersyukur atas perhatian Pandu, sekecil apa pun, karena itu adalah bukti hidupnya dan anaknya tetap diingat oleh lelaki yang akan segera meninggalkan mereka.

Pagi itu, Zena dikejutkan oleh kedatangan tiga orang asing di rumahnya. Mereka terdiri dari seorang wanita paruh baya berusia sekitar empat puluh tahun, seorang wanita berusia tiga puluh tahunan, dan seorang lelaki paruh baya berusia empat puluh tahunan. Ketiganya duduk di ruang tamu bersama Pandu.

Pandu mengobrol sebentar dengan mereka, kemudian menoleh pada Zena yang sepanjang waktu hanya berdiri di dekat pintu, tampak canggung dan bingung. Menyadari hal itu, Pandu menegur lembut, "Duduklah di sampingku, Zen."

Zena menuruti arahan itu, duduk dengan sopan meski hatinya masih sedikit berdebar. Pandu menatapnya dengan sorot mata setengah mengernyit. Ia tahu Zena bukan berasal dari keluarga berada, namun kebiasaan dimanja oleh kedua orang tuanya sebagai anak tunggal masih terlihat jelas dari sikapnya yang canggung.

"Ini istri saya, Pak dan Zena, mereka bertiga adalah pembantu kita, dan Pak Yono ini sopir pribadi kamu," kata Pandu sambil memperkenalkan satu per satu.

Zena tersenyum ramah, menatap ketiga orang itu dengan mata bersinar hangat. Sebaliknya, ketiganya membalas senyumnya dengan anggukan dan senyuman yang sopan.

"Mbok Narti bertugas memasak, sedangkan Bu Ajeng membersihkan rumah," jelas Pandu sambil menunjuk ke masing-masing orang.

"Baik, Tuan, saya dan yang lain mulai bekerja sekarang. Permisi, Tuan Nyonya," ucap Mbok Narti dengan sopan.

"Iya, silakan," balas Pandu singkat.

Seketika, ruang tamu kembali sunyi. Ketiga orang tadi meninggalkan Pandu dan Zena sendirian, melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Pak Yono, si sopir, juga merangkap sebagai tukang kebun ketika Zena tidak keluar rumah. Pandu sengaja tidak ingin terlalu banyak staf, hanya beberapa orang yang diperlukan saja.

Zena menatap Pandu sesaat, mereka saling bertukar pandang, lalu sama-sama membuang mata. Keheningan itu membuat Zena merasa canggung. Akhirnya, ia memilih pergi ke ruang keluarga untuk menonton televisi, sambil menyembunyikan rasa gugup dan kepikiran tentang hal-hal yang ingin ia lakukan, termasuk rencana memulai bisnis sendiri. Meski harus meminta uang pada Pandu, ia ingin tetap mandiri dan bekerja.

Di sela-sela kesunyian itu, ponsel Pandu yang berdering membuatnya teralihkan. Ia mengeluarkannya dari saku celana, menatap layar yang menampilkan nama Cala, kekasihnya.

"Halo, say-" Pandu mulai berbicara, namun tiba-tiba terdengar suara kecil dan riang di seberang sana.

"Om Pandu!" pekik seorang anak perempuan, membuat Pandu tersentak sebentar, kemudian tersenyum tipis.

"Halo juga, Asha. Apa kabar?" tanyanya lembut.

"Baik, Om!" jawab Asha riang.

"Ikut Momymu, nak?" tanya Pandu.

"Iya, Om! Momy di sebelahku," celoteh Asha sambil melirik ibunya yang sibuk dengan laptop.

"Kangen Om nggak?"

"Kangen Om! Kangen buanget! Asha pengen cepet-cepet ketemu Om di Kediri!" seru Asha dengan antusias, suaranya penuh semangat.

"Yang sabar, nak. Momy lagi kerja," ucap Pandu dengan lembut.

Asha cemberut. "Momy sibuk mulu, kan? Asha males nggak ada teman di sini kangen sekolah juga."

"Gak video call aja?" tanya Pandu.

"Bentar, Asha mau tanya Momy—"

"—Momy bisa diganti video call dong!" potong Asha antusias.

Pandu tersenyum geli mendengar tingkah Asha. Anak itu benar-benar pintar dan lincah, membuat hatinya ikut hangat.

Cala menoleh pada Asha, menolak. "Gak bisa video call. Percuma, nanti sinyalnya jelek."

"Yahhh." keluh Asha kecewa. Namun ia tetap mendekatkan ponselnya ke telinga, mencoba mendengar suara Pandu.

"Ah, gapapa nak. Dengar suara Asha aja Om udah senang kok," ucap Pandu sambil tersenyum.

"Eh Asha juga, Om," balas Asha polos.

"Balik ke Kediri besok lusa, rencananya mau ke mana dulu nih?" goda Pandu sambil tertawa pelan.

"Yahhh emm mau ke mana yah?" jawab Asha ragu-ragu.

Tiba-tiba terdengar keheningan yang aneh. Pandu menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. Tidak ada suara lagi dari Asha. Ia memanggil, "Halooo?" Namun tak terdengar jawaban.

Beberapa detik kemudian, terdengar teriakan mendadak yang membuat Pandu tersentak. Suara itu jelas suara Asha. Namun sebelum Pandu sempat bertanya, sambungan telepon terputus.

Dengan cemas, Pandu segera mengirim pesan kepada Cala, tapi tampaknya wanita itu sudah tidak online lagi.

"Aneh sekali." gumam Pandu sambil mengusap wajahnya, kebingungan. Ia yakin suara itu memang Asha, tapi mengapa tiba-tiba terputus begitu saja?

---

Because Of You (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang