31 : Disastrous Meeting

798 125 3
                                        

Pesona Park Jiyeon memang tidak bisa terkalahkan oleh keindahan semesta.

Kim Taehyung jatuh ke dalam keindahan paras wanita itu, bertekuk lutut hanya untuk memuja kehadirannya, namun enggan mengakuinya. Taehyung hanya ingin menjadi dominan. Tidak lebih. Taehyung hanya ingin menjadi yang dipuja, bukan menjadi yang memuja.

Kendati demikian, keinginan tersebut ditepis untuk sementara waktu guna tekad kuatnya untuk lekas membawa Jiyeon ke dalam kungkungan. Taehyung lengah, ia telah membiarkan Jiyeon jauh dari skala yang ia ciptakan sendiri. Koneksi yang Taehyung miliki sangat luas lantaran eksistensinya benar-benar fantastis, tapi Taehyung tidak akan meminta bantuan siapapun.

Heck, itu sama saja Taehyung membunuh diri sendiri.

Park Jiyeon telah lama dikabarkan hilang, bahkan ada yang menduga bahwa wanita itu telah mati. Tidak ada yang memedulikan kehadirannya lagi. Semua sudah lenyap tertiup angin. Berita lama, begitu orang-orang menyebutnya. Sebab, pada dasarnya Jiyeon layaknya seonggok sampah yang tersesat di atas dunia yang kejam ini. Bagi Taehyung, Jiyeon justru sebaliknya. Begitu indah dan mempesona.

Berbekal tidak tahu-menahu apapun, gemerisik ban mobil yang bergesekan dengan permukaan aspal menjadi salah satu pengisi keheningan. Ditambah beberapa kali helaan nafas gusar sosok lain di samping Taehyung.

"Bagaimana?" Taehyung buka suara lantaran tidak sengaja melirik wajah kusut Jungkook di samping kursi kemudi.

Lantas, yang ditanya menggeleng putus asa. Mengusap wajah kasar sebelum menyandarkan punggung lelah. "Aku tidak bisa menghubungi Jimin. Ponselnya tidak aktif.

"Shit!" Taehyung mengerang, memukul setir dengan kuat seraya rahangnya mengetat.

Kemana pria Park itu membawa miliknya?

Taehyung bersumpah akan membunuh Jimin jika terjadi sesuatu pada sang pujaan. Jimin menghilang, perubahan pada sikapnya jelas menjadi salah satu penyebab bahwa Jimin yang sekarang terlihat berbahaya. Taehyung tahu, tentu saja. Park Jimin jelas lebih berbahaya darinya. Bipolar yang kerapkali ia tutupi pada dunia tidak akan mempan bagi sepasang obsidian Taehyung.

Bagaimana iris kelabu Jimin yang berambisi ingin memiliki Jiyeon, bagaimana gerak-geriknya yang begitu ingin memiliki Jiyeon. Semua pergerakan Park Jimin tidak lepas dari pengawasan Taehyung. Hanya saja Taehyung memilih bungkam. Namun, ia tidak menyangka bahwa kebungkamannya selama ini membawa petaka yang lebih besar. Sosok yang di damba hilang terbawa genggaman Jimin yang lebih hangat.

Entitas Jimin hilang. Tidak berbekas secuil jejak hanya untuk dijadikan sebagai petunjuk pencarian. Kosong melompong. Jimin memang lihai dalam bersembunyi. Sebab, selama ini Jimin begitu hebat menyembunyikan jati diri aslinya pada dunia. Taehyung terkekeh ringan merutuki kebodohan, kenapa ia baru menyadarinya.

Sang surya menyingsing ke atas awan, berniat menghilangkan diri lantaran kegelapan mulai merambat perlahan-lahan. Hingga tidak lama tertutupi sinarnya, sebab awan hitam mengerubungi diiringi dengan gemuruh petir yang beberapa kali menggelegar keras. Sepertinya akan hujan lebat. Dua jam lebih menghabiskan waktu dengan bokong yang terus-menerus duduk di atas mobil, pun apa yang dituju tak kunjung di dapatkan.

Taehyung, tidak akan menyerah.

"Tae!"

Suara Jungkook mengejutkan lamunannya. Lekas menoleh cepat seraya menyahut, "Apa?"

Terdiam sejenak memastikan pendengaran saat ponsel yang menempel pada telinganya, sebelum manik bulat itu membesar, "Panggilan terhubung, Tae!" seru Jungkook heboh. Ikut menoleh menatap Taehyung yang tengah berekspresi sama. "Tunggu tunggu! Jimin belum mengangkat—"

"Halo?"

Sontak Jungkook terdiam dengan kening mengerut. Pun Taehyung stagnan. Berbisik pelan seraya berkata, 'apa diangkat'.

"Halo?" Suara diseberang kembali menguar lantaran Jungkook hanya diam.

Lekas Jungkook tersadar, berdehem sejenak sebelum berkata skeptis, "Eum ... apa ini bersama Jimin?"

"Iya, ini ponsel Jimin. Tapi Jimin tidak ada."

Taehyung menepikan mobil di tepi jalan yang lengang. Cukup jauh dari pusat kota setelah begitu lama menyusurinya. Memposisikan duduk sepenuhnya menghadap Jungkook guna mendengar percakapan. Pun seakan mengerti, Jungkook mengaktifkan loudspeaker ponselnya agar Taehyung tidak merasa kesulitan.

"Jadi," Jungkook menjeda, menjilat bibir bawahnya yang kering. "... Jimin ada dimana?"

Helaan nafas berat memasuki indera pendengaran Jungkook sebelum disusul suara lemah yang membalas, "Aku Yeseul. T-tunangan Jimin."

Keduanya sontak terkejut. Sepasang manik mereka membola.

Taehyung bergerak cepat merebut ponsel milik Jungkook dengan maniknya yang memerah menahan amarah. Rasa sabar yang sedari tadi tertahan tidak dapat dibendung lagi.

"Dimana Jimin?" ungkapnya dengan suara berat. Sukses membuat lawan diseberang sana meremang total. Lekas Taehyung menimpali lagi, "Jimin membawa gadisku. Maksudku, Park Jiyeon. Jimin membawa Jiyeon lari, dan sekarang aku tidak tahu dimana keberadaannya."

"Park Jiyeon?" Yeseul bertanya heran. "Aku ... aku tidak melihatnya bersama Jimin," sahut Yeseul terdengar ragu setelah berpikir.

"Apa?" Taehyung melirik Jungkook yang dilanda kebingungan sama. "Aku tidak berbohong sama sekali. Pria Park itu membawa Jiyeon lari bersamanya dua hari yang lalu. Dan sekarang adalah hari ketiga Jiyeon tidak bersamaku."

"Dua hari yang lalu?" Yeseul terdiam. Seingatnya, Yeseul mengunjungi Jimin satu hari yang lalu. Apa jangan-jangan—"Aku baru mengunjunginya satu hari yang lalu bersama ayahnya. Dan ... saat hari itu aku tidak melihat Park Jiyeon bersama Jimin."

Taehyung telak terdiam. Berpikir, apa jangan-jangan Jiyeon melarikan diri lagi?

Kalau itu memang terjadi, Taehyung bersumpah akan menemukan presensinya dan membawa tubuh ringkih itu pulang untuk diterkam habis. Sebab, angkara dalam diri Taehyung tidak bisa dibendung lagi.

"Halo?"

"Ah, ya! Begitu, ya ..." Suara Taehyung melemah di akhir kalimat seolah ia kehilangan asa. Irisnya ikut redup. "Tapi, omong-omong, kenapa ayah Jimin datang bersamamu ke sana? Apa terjadi sesuatu?"

Hening merangsak selang beberapa menit lamanya. Yeseul tak kunjung menjawab sebab menahan nyeri di dada. Bagaimana beringasnya Jimin dari cekalan tangan-tangan tersebut, bagaimana paras Jimin yang berantakan sekaligus terkesan rapuh. Semua mengundang isak tangis hingga menguar lepas di belah bibir Yeseul. Pun membuat Taehyung maupun Jungkook terdiam seraya menunggu jawaban yang akan dilantunkan.

Membiarkan waktu bergulir beberapa saat hanya diisi oleh tangisan diseberang. Tak dapat terelakkan lagi substansi ini membuat Taehyung dilanda cemas tak kentara. Pasti telah terjadi sesuatu. Apapun yang menyangkut dengan ayah Jimin, akan berakhir buruk.

"Ji—Jimmie ... "Yeseul terisak kuat. Bahunya bergetar hebat dengan nafas terputus-putus. "Jimin, dia sekarang tengah menjalani pengobatan psikologis dengan psikiater yang telah direkomendasikan ayahnya. Disebuah rumah sakit terpencil. Aku tidak tahu itu dimana. Namun," Yeseul terdiam sejenak. "... hal itu dilakukan oleh ayahnya untuk menyembunyikan keadaan Jimin dari publik. Sebab, bipolarnya semakin memburuk. Sulit dikendalikan."

Taehyung jelas menyimak setiap untaian frasa dari Yeseul yang menguar terputus-putus. Kendati begitu, terdengar jelas sekali memasuki rungunya dan menusuk relung paru. Konteksnya, definisi Park Jimin yang sekarang adalah kacau.

"Bipolar?" Jungkook bergumam penuh tanda tanya. Menoleh pada Taehyung melalui sorot matanya menuntut penjelasan. Sebab, Jungkook tidak tahu apapun mengenai berita ini. Dan diam telaknya Taehyung pertanda bahwa Taehyung telah tahu sebelumnya.

Lantas, Jungkook menarik nafas dalam. Memusatkan penglihatan pada Taehyung yang memutuskan panggilan tanpa berungkap lebih lanjut.

"Sepertinya ada yang harus kau jelaskan padaku, Taehyung."[]

Luv Tii

Prisionero [M] ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang