32 : Inner Attack

967 126 8
                                        

Kim Jungkook, definisinya terlihat kosong. Terdiam seribu bahasa. Seolah energinya hilang terbawa hembusan angin sepoi-sepoi di bawah hamparan awan gelap yang tengah menggulung di atas. Kepalanya ternengadah, bermenung dengan pikiran yang menerawang lepas tanpa arah yang jelas. Lalu sedetik kemudian, sunggingan senyum miring terpatri apik pada belah bibir tipisnya. Pun sepasang obsidian tajam itu redup, tanpa sinar seperti biasa.

Jungkook kehilangan asa.

Taehyung jelas tidak membual mengenai bahwa Jimin pengidap bipolar. Sebuah kejelasan yang afirmatif manakala penjelasan Yeseul menguatkan asumsi-asumsi yang sempat hinggap di benak Jungkook sekejap. Binar wajah Taehyung redup, Jungkook tahu bahwa berita ini memukul batin keduanya.

Kendati mereka kerapkali melalui berbagai hal, entah itu bahagia, sedih, dan masih banyak lagi, Jungkook maupun Taehyung tidak pernah benar-benar membenci Jimin. Jimin adalah sumber kehidupan mereka. Sebab, substansinya benar-benar sempurna diantara yang paling sempurna.

Tidak ada yang salah di setiap tindakan Jimin. Jungkook mendengus, pria itu begitu pandai sekali dalam menyembunyikan rasa sakitnya selama ini. Hingga Jungkook baru menyadarinya sekarang. Park Jimin, ternyata lebih lihai daripada dirinya—dan Taehyung, tentu saja. Kabar ini seperti ultimatum telak bagi Jungkook. Ternyata alam begitu pandai dalam mempermainkan setiap manusia yang masih hidup menikmati keindahannya.

"Aku mengerti bagaimana perasaanmu," Jungkook sejemang tersentak mendengar suara berat Taehyung yang menguar mendadak. Lekas menoleh, mendapati figur lelah di setiap jengkal garis wajahnya. "Aku tidak merasa bersalah sama sekali menyembunyikan hal ini darimu. Tapi, kau tahu ..." Taehyung menjeda, menjilat bibir bawahnya yang kering. "Aku hanya tidak ingin membuat Jimin sedih ketika kau melihat dirinya yang menyedihkan pula." Iris Taehyung menatap lekat paras Jungkook yang tetap terdiam.

"Jimin bahkan pernah berkata bahwa dia tidak pantas terlahir di dunia dan berada diantara kita berdua," Taehyung terkekeh sinting seraya menundukkan wajah. Menendang-nendang kerikil kecil pada permukaan aspal. "Tapi, aku tidak pernah menganggapnya serendah itu. Bahkan, aku merasa jauh lebih rendah daripada Jimin."

Mereka tidak tahu, kapan Jimin akan kembali lagi dan berkumpul bersama. Taehyung dan Jungkook, baru saja kehilangan seseorang yang mereka sayangi—lagi. Dunia seolah tidak membiarkan keduanya merasakan apa itu definisi bahagia yang sebenarnya.

Hembusan nafas panjang dari Jungkook menguar lepas, maniknya memejam, mengosongkan pikiran dari berbagai pikiran-pikiran buruk yang menerpa benaknya sejemang.

"Bagaimana bisa dia menanggung semuanya sendiri?"

Taehyung mengangkat wajah, mendapati rahang tegas Jungkook dengan sepasang tangan itu yang terkepal pada tiap sisi-sisi tubuhnya.

"Bagaimana bisa dia menanggung penderitaannya sendiri, sementara kita kerapkali berbagi penderitaan dengannya?" lanjut Jungkook seraya terkekeh. "Tch! Aku bahkan masih ingat kalimatnya dulu pernah berkata, 'jangan tanggung beban kalian sendirian, aku akan siap kapanpun membantu'—cih! Lihat! Siapa yang bicara hal itu?!"

Kekesalan Jungkook tidak dapat dibendung lagi manakala bualan Jimin kembali memutar ingatan.

Taehyung memainkan lidah di dalam mulut, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya.

Mengangkat bahu sekilas, lantas bibirnya mematri senyum tipis yang nyaris tidak terlihat.

"Aku bahkan baru menyadari bahwa semua yang ada di dunia ini penuh kepalsuan. Termasuk orang-orang di dalamnya dan ... kita."

•••

BUGH!

"Rasakan itu, Jalang Miskin!"

Prisionero [M] ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang