29 : Where Is Comfort

1K 131 7
                                        

Sebutir embun pagi hari lenyap terkena kilauan cahaya matahari. Penghangat suhu dunia yang beberapa hari ini menjalarkan dingin. Menusuk tulang-belulang dan membekukan pergerakan. Sesederhana itu permainan dunia setiap hari. Tapi, pagi ini entah akan datang lagi atau justru lebih parah lagi. Mengasakan keharmonisan dalam dunia setiap harinya hanya akan membuat lelah berkesemayam dalam tubuh. Dunia akan kembali membuatnya jatuh dan jatuh lagi, lalu kemudian bangkit lagi, hingga ia tidak mampu bangkit.

Lelehan bening yang mengalir melalui pipi tidak dapat dihentikan. Maka, ia membiarkan. Membiarkan lelehan itu menghantam tanah dan melebur hingga hilang lagi. Menyembunyikan pesakitannya dari dunia. Menyembunyikan bahwa ia lelah dengan substansi dunia.

Kilasan-kilasan dalam kepala kejadian kemarin tidak akan pernah lenyap dalam memorinya. Jiyeon terdiam dengan netra kosong ke depan entah memandangi apa. Ia terlalu lelah hanya untuk menatap sebuah objek. Nafasnya yang ditarik kian terasa berat lantaran tak ingin menikmati kepalsuan yang tersaji apik di dunia. Hingga sepasang obsidiannya memejam, mencoba rileks dan santai. Namun, justru hal yang tidak di inginkan kembali merasuki kepala.

Park Jimin total kehilangan kendali atas tubuhnya. Begitu saja menerjang Jiyeon tanpa adanya aba-aba yang jelas. Pun seringaian apik tersebut mengingkatkannya pada seseorang.

Kim Taehyung.

"Hei, tenang, Ji." Jemarinya mengelus permukaan epidermis belah pipi Jiyeon. "Kita akan bersenang-senang sebentar, hm."

Jiyeon meneguk salivanya paksa. Berpikir bahwa semua usai adalah hal yang salah. Tidak. Tidak sama sekali. Dunia tidak pernah lelah untuk memamerkan kekuasaannya.

"JIMIN!"

Jimin terkekeh pelan. Respons tubuh Jiyeon benar-benar luar biasa. Refleks memekik ketika ia meremas pinggang ramping itu. Pantas saja Taehyung dan Jungkook ketagihan untuk memasuki. Jimin juga ingin.

"Tolong, hentikan, Jim." Jiyeon menggeleng penuh teror. "Jangan lakukan ini—"

"Kenapa?" potongnya tidak sabaran melalui bisikan. Jimin mengikis jarak hingga hidung mereka beradu. "Kau bahkan membiarkan Taehyung dan Jungkook bergantian memasukimu. Lantas, itu artinya aku juga boleh 'kan?"

Lekas Jiyeon menggeleng penuh kedengkian dalam sepasang iris coklatnya yang memudar.

"Aku bukan jalang!" sentaknya kuat. Hampir saja kalap dan lepas kendali untuk memberikan tamparan pada wajah sang lawan bicara.

Kekehan kembali menguar dari belah bibir Jimin. Bagaimana pria itu mendongak, menyugar surai seraya menjilat bibir bawah guna membasahinya dengan gerakan menggoda. Sayang, Jiyeon tidak tertarik. Ia mendelik penuh jijik.

Lantas, Jimin menukas lagi, "Aku tidak bilang kau jalang, Sayang," ungkapnya lembut. "Aku hanya berkata kau pernah bermain dengan mereka. Tidak ada salahnya mencoba bermain dengan milikku, Ji. Kau belum pernah merasakannya 'kan?"

Jiyeon membalas dengan menggeleng horror. Kengerian absolut merambat cepat melalui sel-sel darahnya. Mendorong-dorong kasar bahu Jimin agar lekas entah dari atas tubuhnya. Jiyeon dilanda lelah. Sungguh lelah. Kekuatan tubuhnya tidak ada lagi. Semesta seolah menyerap secara tak kasat mata energinya hingga Jiyeon kerapkali lemah dan tak berdaya. Tidak mampu berontak.

"Ayolah, Ji."

"TIDAK!" Jiyeon terpekik manakala Jimin mengikis jarak tak bersisa celah. "Kumohon, Jimin, jangan lakukan ini. Kumohon," pintanya memelas. Berharap Jimin luluh dan melepaskan.

Gelengan tegas sebagai respons sang lawan membuat Jiyeon kehilangan asa total. Tepat kala Jimin memaksa melakukan ciuman, Jiyeon menghindar. Benda kenyal itu justru mengenai pipinya.

Prisionero [M] ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang