—Kemegahan malam yang kaubawa
Merusak raga, membuka gerbang neraka.
***
Beberapa pria mendekat untuk merayu, membisikan kalimat-kalimat sanjungan bahkan menawarkan diri sebagai pemuas napsu. Beberapa mulai menyentuh kulitnya hingga mengangkat dagu tanpa ragu, tapi tatapan dingin membeku yang ditunjukan Karenina membuat siapa pun urung maju.
Pakaian formal kantornya masih terpasang rapi, ia belum pulang ke rumah meskipun angka jarum jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam.
Tanpa memikirkan waktu, hasratnya untuk melenyapkan rasa sakit benar-benar meledak. Ia ingin lupa, bahkan amnesia meski hanya sebentar saja.
Gelas tinggi berisi koktail meluncur halus melalui kerongkongannya, tapi rasa panas terbakar yang ia harapkan hanya omong kosong belaka.
Tatapan sayu penuh kesedihan itu mengarah pada bartender di seberang meja, sibuk mengusap gelas kosong menggunakan kain bersih seraya berbicara dengan seseorang di sudut kiri Karenina.
"Vodka."
Bartender berdasi pita kupu-kupu merah meliriknya, berharap pendengarannya salah, atau setidaknya wanita—yang baru pertama kali ia lihat di kelab ini—cukup mengganti jenis koktail rendah alkohol lain.
"Maaf, beri saya vodka." Karenina bersungguh-sungguh.
Bartender menyerah, gelas sloki berisi cairan kuning jernih dengan beberapa es kristal terhidang untuk pelanggan baru tersebut.
"Terima kasih." Tanpa keraguan sedikit pun, ia meneguk seluruhnya, membiarkan dirinya terbakar oleh kabut memusingkan.
Ia tak peduli pada ingar-bingar sekitar, suara samar orang lain, atau aroma berbagai parfum yang membaur menjadi satu. Meski itu memuakan, ia merasa baik-baik saja.
Segelas.
Dua gelas.
Tiga gelas vodka.
Seseorang berhasil menghitung tanpa bersuara.
Wanita itu terkulai lemas, menyandarkan sisi wajahnya pada permukaan meja porselen, membiarkan sebagian rambutnya menutupi wajah.
"Kamu baik-baik aja?"
Entah suara siapa, Karenina mengangkat telempapnya sebagai pertanda ia masih sanggup mengurus diri sendiri.
Pria berwajah innocent itu berjarak dua jengkal dari Karenina, ia telah memperhatikannya sejak memasuki kelab, duduk di sana dan memesan tequila, kemudian gangguan datang dari para pria. Lucunya, sekadar menggunakan tatapan dingin penuh dendam, mereka semua melarikan diri.
Sampai tiba-tiba, isak tangis terdengar.
***
Denial seharusnya mendaratkan pantatnya di rumah setelah perjalanan panjang pesawat terbang dari Seoul ke Jakarta, tapi dia menjadi anomali yang hanya mengirimkan koper-kopernya ke rumah, sementara tubuhnya menyingkir antah-berantah hingga berakhir di kelab malam.
Dia merupakan perwujudan pria bejat yang bertindak sesuka hati.
Sama seperti wanita di sisi kanannya, ia memesan vodka, menambahkan beberapa batang rokok menjadi perpaduan yang sempurna, menikmati hidup dalam kebejatan manusiawi.
Kok nangis sih?
Ia hampir beranjak untuk mengusap punggung wanita asing itu, tapi penolakan sebelumnya membuat Denial urung. Ia memberinya privasi seraya terus menunggu dan memperhatikannya, seolah diperintah agar menjaga seorang putri.
Wanita itu memakai rok pensil selutut dengan blus warna pastel yang sederhana, tidak terlalu istimewa, tapi keingintahuan impulsif Denial telah memaksanya menjaga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Schatje (republish)
CintaNew adult, romance. 1 in Chicklit - 26 Juni 2020 53 in Romance - 21 Juli 2020 "Sekerlip bintang tanpa warna." Pertemuan tak terduga Karenina Hasan dengan Denial Nuraga di sebuah klub malam ketika patah hati menyerang perempuan itu lagi-justru menamb...
