PINDAH KE DREAME / INNOVEL, DENGAN VERSI LEBIH KOMPLIT.
Luna adalah gambaran cewek matre jaman now. Dia cantik, smart, seksi dan matre pastinya.
Dia berganti cowok bila nemuin yang lebih tajir dan bisa muasin sifat matrenya.
Selama ini korbannya a...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Luna pov
Kepala gue terasa berat. Mungkin karena gue hujan-hujanan dengan kondisi mental yang kacau bikin tubuh gue drop.
Tapi yang gue temui di kos Rafa bikin gue ngerasa semakin terpuruk.
"Lo betul-betul akan pergi?" Tanya gue beberapa saat setelah gue sadar dari pingsan.
Rafa yang sedang sibuk beberes barangnya tak menoleh sama sekali. Dengan serampangan dia mengambil bajunya dari lemari dan melemparnya kedalam koper.
Sebagian besar lemarinya udah kosong. Dia seakan berniat pergi tanpa kembali. Mendadak gue merasa kosong, gue gak bisa ngebayangin hidup gue tanpa dirinya.
Perlahan gue menguatkan diri untuk bangkit, rasa pusing yang mendera berusaha gue tepiskan. Gue mendekati Rafa dan memeluknya dari belakang.
Rafa hanya terdiam, namun tak lama kemudian gue bisa merasakan punggungnya bergetar lembut.
"Rafa, gue.. gak bisa. Ngebayangin tanpa elo, mendadak hidup gue jadi gak.. berarti. Gue.. gue gak mau. Rafa, gue mau bersama elo. Elo.. elo.. "
Entah sejak kapan elo berubah menjadi pusat hidup gue..
Gue kembali terhisak dan menangis di punggungnya. Rasanya hampa hanya dengan membayangkan gue bakal kehilangan cowok yang gue dekap erat ini.
Mendadak Rafa berbalik lalu memeluk gue erat, bibirnya memagut bibir gue dan melumatnya penuh gairah.
Kami berciuman seakan besok akan kiamat. Lama dan intens.
Bibirnya menjelajah dan mencecap setiap jengkal bibir gue. Tanpa terkecuali. Gue balas menghisap dan memagutnya dengan gemas. Lidah kami saling memilin, mencecap dan berpadu mesra didalam sana.
Akhirnya kami menghentikan ciuman panjang ini dengan nafas terenggah-enggah, sembari saling menatap lekat.
"Apa artinya gue buat elo?" Tanya Rafa memastikan.
"Hidup gue. Sekarang dan nanti.." jawab gue tanpa berpikir panjang.
"Lalu dia?"
Dia yang dimaksud pasti si Om.
"Masa lalu.." akhirnya gue menjawab setelah merenungkannya cukup lama.
Perlahan wajah Rafa berubah sumringah, tangannya mengembang.. pertanda dia siap menerima gue kembali. Gue pun masuk dalam pelukannya.