Kejamnya Pandu👩🏻‍🍼

2.9K 109 17
                                        


Beberapa menit kemudian, si kembar mulai menangis karena haus dan merasa gerah, sehingga sesi pemotretan harus dihentikan sementara. Zena membawa mereka ke dalam ruangan yang terdapat kasur, tempat si kembar tadi berpose. Hanya ada dirinya dan si kembar di sana, karena para staf sudah undur diri, menghargai usaha Zena menenangkan anak-anaknya yang menangis.

Setelah si kembar tertidur pulas, Zena melanjutkan sesi pemotretan dengan pose tidur, menampilkan keduanya yang tampak damai dan menggemaskan. Tak lama, ia meminta fotografer untuk memotret bersama si kembar. Zena tersenyum lega ketika acara foto selesai, meski sedikit kecewa karena Pandu tak ikut serta dalam foto keluarga itu. Namun, hatinya berbisik bahwa suatu saat nanti mereka pasti bisa berfoto bersama sebagai keluarga lengkap.

Dengan si kembar tertidur di kereta dorong, Zena mengajak Bu Tantri makan siang di restoran tak jauh dari studio. Bu Tantri tampak senang dan bersemangat, seolah menyayangi si kembar seperti cucunya sendiri. Zena merasa hangat melihat senyum dan perhatian Bu Tantri, dan tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih.

"Maaf ya, Bu Tri, jadi merepotkan," ucap Zena sambil tersenyum lembut.

"Halah, nggak apa-apa kok, Zen. Ibu malah senang banget bisa ngemong anakmu," jawab Bu Tantri dengan riang, matanya berbinar saat menatap si kembar.

Zena menyerahkan buku menu, ingin membayar sebagai tanda terima kasih. "Bu Tantri, pesan apa saja, nanti Zena yang bayar. Anggap aja ini ucapan terima kasih dari Zena."

"Matur suwun, Zen, ibu jadi nggak enak sama kamu," kata Bu Tantri, tersipu malu.

"Nggeh, bu, sami-sami. Kalau ada rejeki suka gini, hehe. Sekarang, Bu Tri mau pesan apa? Nanti Zena ke kasir, bu Tri duduk saja nemenin si kembar," balas Zena sambil tersenyum.

Mata Bu Tantri berbinar ketika melihat makanan kesukaannya, Punten, yang jarang dijual sekarang. Zena memesan dua menu, Punten dan Urap Daun Pepaya, beserta minuman. Saat mengantri, matanya tak sengaja menatap seorang wanita pelayan restoran yang wajahnya begitu familiar.

"Apakah benar itu Celine?" gumam Zena, teringat pada seseorang yang pernah memberinya minuman saat reuni tempo lalu. Namun, seorang pengunjung menegurnya, membuat Zena segera meminta maaf dan melanjutkan ke kasir untuk membayar pesanan.

Kembali ke meja, Zena menatap si kembar yang baru saja terbangun. "Lho, Bu Tri, si kembar bangun?"

"Iya, Zen. Mereka kayaknya terganggu tidurnya karena di sini ramai," jawab Bu Tantri.

Zena berjongkok, menatap mereka dengan lembut. "Maafin bunda ya, jadi tidur kalian terganggu." Ia mengelus pipi mereka dan mengajak berbicara.

"Melet-melet ya lidahnya," gumam Zena sambil terkekeh melihat tingkah lucu si kembar. "Ciluk ba!" Zena menggoda mereka, dan kedua bayi itu tertawa pelan, mengisi restoran dengan keceriaan mereka.

Tak lama kemudian, pesanan yang ditunggu-tunggu pun tiba, dibawakan oleh wanita yang diduga Celine. Zena menatapnya sebentar, perasaan campur aduk memenuhi hatinya, namun ia menundukkan kepala dan tersenyum pada si kembar.

"Zena," gumam wanita itu pelan saat menatap wanita cantik yang tengah berjongkok di depan kereta dorong bayi.

"Akhirnya." batin wanita itu ketika matanya terpaku pada bayi kembar di dalam stroller.

Zena yang mendengar suara itu menoleh, dan tepat pada saat yang sama, wanita itu juga menatapnya.

"Celine?" Zena menatap tak percaya. Benar-benar wanita yang dulu pernah memberinya minum saat acara reuni.

Celine tampak ingin pergi, namun Zena dengan sigap menahan tangan wanita itu. Celine menundukkan wajah, ketakutan, namun rasa bersalah jelas terlihat di matanya.

Because Of You (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang