"Dasar anak tidak berguna!!! Apa lagi yang harus kubanggakan dari mu? Kau hanya bisa menyusahkan ku saja"
"Lebih baik kau mati saja!!!"
PLAK!!!!
Silau, Jieun membuka matanya dengan malas. Kepalanya terasa berat. Pening luar biasa. Seakan terhantam jutaan beban yang tak terlihat. Beban yang memang selalu datang di kehidupannya.
"Hah apalagi sekarang..."
Jieun menghembuskan nafasnya dengan berat. Nampaknya ia baru saja bermimpi.
Mimpi yang mulai menghancurkannya kembali. Mimpi yang berisikan kenangan buruk. Kejadian menyakitkan yang ia coba lupakan beberapa tahun belakangan ini. Namun bukan nya lupa, mimpi itu justru hadir dengan kepingan kepingan yang lebih mendramatisir.
Sekali lagi akan ia coba abaikan. Mencoba menenangkan dirinya, karena kini nafasnya mulai tidak beraturan. Detak jantungnya terasa 2 kali lebih cepat dari biasanya.
Teringat dengan keadaan terakhir yang terjadi padanya. Ia pun mengedarkan pandangannya dengan segera. Ia sudah tidak lagi berada di atas tubuh Jungkook, ataupun di dalam mobil Jungkook.
Disini ia berada sekarang. Dalam sebuah ruangan luas bercat putih. Dengan sebuah tempat tidur berukuran Queen Size yang kini sedang ia tiduri. Di salah satu sisi kamar terpasang perangkat PC yang sepertinya lebih cocok di gunakan oleh agent rahasia. Ya memang apa gunanya menggunakan 3 monitor PC dengan speaker sebesar itu pun lengkap dengan beberapa perangkat kamera, apa penghuni kamar ini sebenarnya FBI?
Ruangan ini sudah tidak asing bagi Jieun, Tapi bukan berarti ia sering keluar masuk seenaknya kedalam ruangan ini. Setidaknya untuk beberapa waktu terakhir. Tempat inilah yang menjadi pelarian bagi Jieun. Tempatnya untuk sedikit 'Menyembuhkan diri'.
"Noona kau sudah bangun?"
Sebuah suara membuyarkan lamunan Jieun. Suara yang tidak asing dan hampir ia dengar setiap hari. Ia lihat Jungkook datang dengan membawa sebuah mangkuk besar dan segelas air. Ia segera bangun dan memposisikan tegak tubuhnya.
Jieun tidak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya. Jungkook pun mendekati tempat tidur lalu duduk di tepiannya.
"Ayok makan Noona"
Jungkook mulai membuka mangkuk yang tadi ia bawa. Semangkuk besar bubur. Makanan yang masuk kedalam list 'YANG TIDAK DISUKAI JIEUN'.
"Ya.. Jeon Jungkook, kau tahu kan aku tidak suka bubur ?"
"Tahu ". Jawabnya singkat.
"Lalu kenapa masih menyuruhku makan ini?"
"Jangan protes, orang sakit tidak punya hak untuk protes".
Jieun terdiam. Bukan, bukan untuk menyerah tentunya. Ia hanya sedang memikirkan cara agar terhindar dari bubur yang sedang ada di depan matanya.
Manusia di depan nya ini sangat susah untuk di lawan. Jika Jungkook sudah berkata A , maka itu adalah sebuah perintah mutlak.
Namun jangan salah paham, ia bukan lah type pemaksa. Sikapnya yang seperti ini hanya keluar disaat saat tertentu. Dan sialnya, keluar di saat saat seperti ini.
"Ayolah Jung... suruh aku makan apa saja asal jangan ini" rengek Jieun.
"Makan katak kalau gitu"
"Yak!! Jeon Jungkook!! Kau mau aku langsung mati??!!"
Disaat Jieun terbelalak hingga matanya ingin keluar. Jungkook hanya sibuk tertawa melihat lawan bicaranya itu. Ia masih saja memegang mangkuk besar itu ditangannya. Asap putih masih mengepul pertanda bubur itu masih sangat panas.
YOU ARE READING
Mi Casa
FanfictionSungguh, dimanapun akan terasa seperti rumah, jika kau berada di dalamnya dan menjadi alasanku untuk pulang. Jeon Jungkook jadilah RUMAHku. Jadilah tempatku kembali. ©Byadorae Dilarang keras mengcopy sebagian atau seluruh bagian cerita tanpa seizin...
