01

50 7 0
                                    

"Udah punya pacar katanya, bro." Mahendra kembali dengan raut muka yang tak bisa diartikan lagi, ia kesal lantaran sudah capek bolak-balik tapi tak mendapatkan hasil.

Tapi, setidaknya dia tahu sesuatu sih...

"Haha paling boong." jawab Dafa santai.

"Ah masa sih? Nggak deh kayaknya." bantah Mahendra tak percaya.

"Heh kembaran Ehsan, semua cewek kalo liat lo juga gak bakalan jujur. Tampang lo udah kaya om-om sih." Dafa tertawa terbahak sambil memukul Derian yang ada di sampingnya.

"Sakit bego."

"Ya maaf."

Mahendra kesal namun setelah itu berpikir sesaat, sampai ia bertanya pada Dafa.

"Lo suka nggak sih sama tuh cewek?"

Sayangnya Mahendra bertanya di saat yang tidak tepat, yaitu di saat Dafa sedang minum kopi. Ya di sembur lah kopi yang hendak Dafa telan.

"PFFT-"

"EH MUNCRAT MUNCRAT AJA TAPI JANGAN AMPE KENA GUE JUGA DONG AH DASAR CURUT." Mahendra emosi sambil membersihkan muka dan bajunya yang terkena sembur.

Derian cuma bisa ketawa sambil balas mukul-mukul Dafa.

"Heh, dendam lo ya sama gue."

"Kagak jon."

"Jon?"

"Jono."

"HEH LO KATA GUE LAGUNYA JASKIA GOTIK APA-"

"YANG BENER ZASKIA WOY-"

"MALAH RIBUT LO BERDUA-"

Di saat keadaan mulai kacau dan berisik pak Agus menghampiri mereka bertiga sembari menggebrak meja.

BRAK

"BRISIK KALIAN BERDUA!"

Krik krik krik

Saat itu juga Dafa dan Derian yang sedang ribut sendiri pun diam, Mahendra daritadi anteng jadi gak kena bentak.

Pak Agus menghela nafas lalu bertanya, "Kalian mau tau siapa cewek tadi?"

Mereka bertiga mengangguk secara bersamaan.

"Nama dia Alika, tinggalnya agak jauh dari sini-"

"Iya saya juga tau pak." sela Mahendra.

"SAYA BELUM SELESAI NGOMONG TAU NGGAK?"

"Eh- Iya-iya pak, maaf."

"Huuu, dasar om-om."

"Diem kamu Dafa."

Dafa kicep, nggak bisa ngomong apa-apa.

"Haha mampus lo berdua." Derian tertawa sambil memakan sukro.

"Dia tinggal sama Ibu dan kakak-kakaknya, Ayah dia lagi kerja di luar kota dan kalo pulang sebulan sekali."

Dafa, Mahendra dan Derian ber-oh ria sambil mengangguk.

"Nama panjang dia siapa pak?" tiba-tiba saja Dafa bertanya seperti itu membuat yang lain bingung.

"Eh? Setau saya Alika Juliandra-"

"Tanggal lahir? Trus nama bapaknya siapa?" pertanyaan Dafa mulai ngaco.

"YA MANA SAYA TAU, KAMU TANYA AJA SANA SENDIRI!" pak Agus lagi sensi banget kayanya nih.

"Tapi kenapa lo tiba-tiba nanya begituan dah?" Derian bingung.

"Buat latihan, soalnya nanti gue nikahin dia-"

"HALAH NGIMPI KOE JANCOK!"

__________

"Assalamualaikum" Alika sudah masuk rumah dan tiba-tiba ada suara sautan di kamar ibunya.

"Waalaikumsalam, kamu dari mana aja, Al?" sang ibu memiliki pendengaran tajam, jadi kalau mendengar suara keras sedikit maka ia akan terbangun.

"Ah, beli mie goreng, ma. Alika laper, terus gak tega juga mau bangunin mama." ujar Alika, yah walaupun terkadang masih suka membantah dan durhaka sebenarnya Alika ini sangat sayang kepada sang ibu. Terkadang ia mau meringankan beban walau sekecil apapun itu.

"Duh nak, kan bisa bangunin mama? Kamu gak di apa-apain kan sama cowok?" ibu Alika jelas khawatir, anak bungsunya keluar di jam yang rawan penjahat itu.

"Nggak kok ma, yaudah Alika mau mandi dan sholat subuh abis itu makan ya ma. Mama lanjut tidur aja."

"Yaudah." sang ibu pun kembali masuk ke kamarnya.

Dan entah kenapa juga Alika berlari dan buru-buru masuk ke kamar mandi.

Saat sudah di dalam kamar mandi ia tiba-tiba saja teringat kejadian tadi.

Flashback

"Hah? Neng! Tunggu dulu!" percuma saja Mahendra berteriak, Alika sudah ngibrit ke rumahnya.

Saat sudah sampai di depan pintu Alika pun cepat-cepat mengambil kunci pintu dari saku jaket.

Namun sialnya kunci tersebut jatuh.

Alika mengambil kunci yang jatuh, namun kunci itu terjatuh lagi akibat tangan Alika yang sedang tremor.

'Sial! Kenapa harus di saat begini?' rutuk Alika sembari menahan tangisnya.

"Yah gagal lagi gue." Mahendra kecewa.

Tapi tiba-tiba, suatu ide muncul di kepalanya.

"Ah, gue ke sana deh." Mahendra pun melajukan motornya ke depan rumah Alika dan memperhatikan Alika yang sedang membuka pintu rumah.

'Bisa plis' Alika memohon, jujur saja ia sangat takut, Alika tahu kalau Mahendra ada di belakangnya sekarang.

Untunglah, sepertinya setelah tertimpa sial ia bisa membuka pintu rumahnya.

Segera setelah ia buru-buru masuk, Alika pun langsung menutup pintunya dengan sedikit kencang.

'Hm, gak papa deh gak dapet nomer hpnya, yang penting sekarang gue udah tau rumahnya.' batin Mahendra menyeringai.

End flashback

Dia gak akan kesini lagi kan? Iya kan? Alika terus bertanya-tanya dalam batinnya

"AHHHH GATAU LAH!"

"ALIKA JANGAN TERIAK DI KAMAR MANDI!"

LacunaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang