Kumpulan cerita pendek di antara cerita saya yang panjang-panjang
[Winner for Science Fiction Day dari event Mosaik Wattpad Indonesia untuk cerita "Huriah"]
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jadi, bagaimana perasaan Anda setelah mengetahui bahwa di masa depan, umat manusia telah menemukan mesin waktu dan membuat wormhole sendiri di rumah masing-masing?"
"Ya, ya, hebat—tunggu, siapa kau tadi?"
"Cucu dari cucumu. Cepatlah, Kek! Wawancara ini penting untuk nilai sekolahku!"
"Oh ... tunggu—apa?!"
***
Aku mendapat mimpi aneh suatu malam.
Ada seorang bocah kelas 5 SD yang datang ke kamarku, memanggilku 'kakek' meski aku masih 16 tahun. Bocah itu Fahrer namanya. Dia memohon untuk mewawancaraiku, meminta pendapatku tentang kemajuan teknologi di generasinya. Untuk tugas sekolah, katanya.
Mungkin ini gara-gara jengkol dan kacang-kacangan yang kukonsumsi saat makan malam—kadang, semua makanan itu bertingkah bagai radioaktif dalam perutku, lalu menyebabkan gatal-gatal. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, aku memang punya alergi nyaris pada semua panganan. Pokoknya, entah ini hanya halusinasi, mimpi, atau sungguhan—Fahrer muncul begitu saja dari dalam lemari pakaianku tepat pukul 1 dini hari. Begitu pintu lemari menjeblak terbuka, bocah itu jatuh tersungkur ke luar dengan kolorku tersangkut di kepalanya dan leher terlilit singlet bulukan yang belum kucuci setahunan.
"Ih!" Bocah itu bergidik dalam lautan sandang. Kakinya terjerat daster (aku berani sumpah daster itu bukan punyaku, mungkin ibuku salah memasukkannya). "Harusnya aku pakai masker atau baju antiradiasi! Apa ada limbah kimia di sini?!"
"Fahrer," jawab anak itu. Disingkirkannya semua pakaianku dari tubuhnya, lalu dia berdiri seraya melicinkan celananya yang sewarna perak. "Hai, Kek."
"Namaku Haris," tukasku, masih setengah sadar karena pengaruh obat alergi.
"Aku tahu." Fahrer duduk di sisi ranjangku, lalu menepuk-nepuk lenganku di bawah selimut. "Tapi, Anda ini kakek buyutku. Aku datang dari tahun 2120."
Perutku bergolak, dan mataku juling ke atas untuk sesaat. Kukerjapkan mataku, menelaah Fahrer. Rambutnya yang hitam ikal dan senyumnya yang panjang mengingatkanku pada seseorang yang sering kulihat setiap pagi saat aku berkaca—entah siapa itu. "Oh ... oke."
"Jadi, begini ... guruku memberi kami tugas mewawancarai salah satu anggota keluarga yang hidup pada generasi yang katanya 'milenial'. Benar, 'kan—kakek ini generasi milenial?"