; 003 ;

6 0 0
                                    

Hujan sedang turun membasahi bumi. Membuat kaca jendela kamar Ira berembun dan dipenuhi rintik-rintik air. Hujannya sudah tidak sederas tadi, kini sudah sedikit ringan. Entahlah, mungkin langit berhasil menenangkan awan cengeng yang hobi menangis itu. 

Ia duduk di meja dekat jendela. Ditemani segelas teh hangan kesukaannya, sebuah scented candle yang menguarkan aroma vanilla, membuat perpustakaan mini gadis itu jadi hangat. 

Sebuah ruangan kesukaannya. Ruangan paling disukainya di seluruh penjuru dunia. Deretan buku, novel, dan majalan yang memenuhi rak buku yang berdiri gagah di kedua sisi ruangan, lantai karpet berbulu nyaman dan sebuah pojok baca kesukaannya dekat jendela. 

Laptop dihadapannya menampilkan beberapa paragraf cerita baru yang sedang ia garap. Ira suka menulis. Baik itu cerpen, novel, atau bahkan skenario drama kecil. Akhir-akhir ini ia sedang belajar menulis skenario drama yang baik. 

"Rara?" 

Ia mendongak, menatap kakaknya, Alden, yang menyembulkan kepalanya di dekat pintu. Keningnya berkerut, seolah menanyakan 'apa?'.  

"Ke bawah, Ra. Jangan sendirian terus. Papa baru pulang kerja, Mama juga." 

Ira mengangguk. Ia meletakkan laptopnya, kemudian bangkit mengambil ponselnya dan menuju ke lantai bawah, ruang keluarga. Kaki kecilnya menuruni satu per satu anak tangga, membuntuti kakaknya. 

Alden segera melipir ke area dapur untuk mengambilkan adiknya segelas es kelapa muda yang tadi dibelikan Mamanya. Sementara Ira menuju ke ruang tengah, menyambut kedua orang tuanya yang baru pulang kerja. 

"Ah, Almeira. Gimana sekolahnya hari ini?" 

Sebuah pertanyaan klasik dari sang ayah. Ira menerima segelas es kelapa muda yang barusan diambilkan oleh kakaknya. Ia duduk di sofa, dengan posisi agak santai. 

"Baik, Pa." 

Jawaban klasik pula dari Ira. 

"Eh, Ra, tadi founder Laksamana Enterprise, Pak Galih, bilang ke Papa kalau anaknya satu sekolah sama kamu. Seangkatan deh kayaknya." 

Ira memasang ekspresi bingung menatap Papanya. "Anaknya yang mana, Pa? Namanya aja deh." 

"Papa lupa namanya siapa. Tapi tadi anaknya dateng ke kantor, sih. Lumayan tau, Ra, ganteng." Ujar sang ayah dengan senyum miringnya. 

"Ih, Papa apaan sih! Angkatan Rara nggak ada yang ganteng deh, kayaknya, Pa." 

"Adaaa, Rara sayang. Mamanya juga temen Mama kok." Ujar Mamanya ikut nimbrung. 

"Ya yang mana anaknya ya ampunnnn. Rara kan nggak tau kalau nggak tau yang mana..." 

Mama dan Papanya tertawa melihat Ira yang sedikit kesal. Alden sepertinya sudah masuk kamarnya, mengerjakan tugas mungkin. 

"Siapa ya namanya? Pokoknya ada nama Laksamana nya juga deh kayak Pak Galih." 

Ira terdiam. 

Satu detik... dua detik... 

Jingga Laksamana? 

Tapi, masa sih? 

 "Jingga Laksamana?" Tanya Ira, memastikan. 

"Nah iya! Ah, kapan-kapan Papa ajak kamu ke acara-acara perusahaan. Kamu udah besar juga, Ra, udah waktunya gantiin Alden ikut Papa ke acara-acara perusahaan." 

Astaga, mimpi buruk apalagi ini. 

Acara perusahaan. Diisi oleh petinggi-petinggi, pengusaha, dan orang-orang sukses. Acara entah itu grand opening, pernikahan, atau bahkan sekedar pertemuan antar pengusaha yang hanya terdiri dari beberapa orang saja. 

Tanpa perlu datang sekalipun, Ira sudah tau. Acara itu sangat-sangat membosankan. 

"I-Iya.." 

Iya-iya aja Ira tuh. Daripada membantah? 

Ira bukan anak yang suka membantah. Lagipula, ia menenangkan dirinya dengan berkata kalau sebenarnya tak ada susahnya untuk hanya menemani ayahnya, memaksakan senyum pada setiap kenalan ayahnya, dan banyak lagi. 

"Papa harus ketemuin kamu sama Jingga. Jingga tuh anaknya hebat banget, berbakat! Pasti dia jadi penerus perusahaan Laksamana yang hebat." 

Ira memandangi ayahnya. Hati kecilnya menjerit, sebab tak pernah ia dengar ayahnya memuji dirinya. Hanya saja ia berusaha menenangkan dirinya sendiri, dengan ikut tersenyum lembut. 

Tidak apa-apa. Ira akan baik-baik saja. 

Mungkin. 

...

[@laksamanajinggaaa accepted your follow request]

[@laksamanajinggaaa has requested to follow you]

Ira menekan tombol accept pada layar ponselnya. Ia menekan ikon profile picture Jingga, dengan foto siluet cowok itu dan latar langit senja yang berwarna jingga kemerahan. 

Sebuah notifikasi direct message masuk ke ponselnya. Dari Jingga. 

laksamanajinggaaa minta id line lo 

mon maap almeiraakayana 

buat apa ya? almeiraakayana

laksamanajinggaaa buat di save lah. 

laksamanajinggaaa lagian kan lo anak yg pny perusahaan Yudhistira 

laksamanajinggaaa bokap kita aja temenan baik jadi ya gada salahnya save line 

oh jadi cuma atas nama silaturahmi perusahaan? almeiraakayana 

sori, kalau begitu alesannya gue nggak ikutan almeiraakayana 

gue nggak ada hubungan apapun sama perusahaan almeiraakayana 

laksamanajinggaaa yaudah kalau begitu ini buat kepentingan tugas dll 

laksamanajinggaaa ada proyek penting berkaitan sama tim orkestra 

laksamanajinggaaa gue ketuanya. lo nggak bisa menghindar terus.

ywd almeiraakayana 

irarara731 almeiraakayana

Ira menghempaskan ponselnya. Ia meregangkan tubuhnya, sedikit pegal karena terus duduk sedari tadi. 

Ia sejak dulu sudah memantapkan dirinya, tak ingin ambil bagian dalam susunan perusahaan ayahnya. Gaji menjamin, pekerjaan menjamin, namun Ira tetap tidak mau. 

Entahlah mengapa. Ira jarang suka mendekam di kantor, meeting ini-itu, dan begitu saja siklusnya. Membosankan, menurutnya. 












setelah 2833762618 waktu nggak up apapun. 

hehhe miane bru bs postt hwhwhw 

see u ges!

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 12, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Awan, Jingga, dan Secangkir CeritaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang