Holla my reader...
Saya kembali dengan another genre of Minrene. Kali ini saya nyoba genre horor ya. Semoga kalian suka, maaf kalau feel nya sama sekali ga ada, ini genre yang jauh-jauh saya hindarin tapi kali ini saya auto bikin karena kesepakatan haha...
Mampir ke story horor 2 author lain ya.
Happy reading semua
Torniquet
Sore ini adalah sore yang cerah bagi Mino. Ia tahu matahari diufuk Barat akan menghilang seperti biasanya lalu tenggelam meninggalkan semburat kemerahan yang bernama senja. Tapi sore ini, dihari Minggu yang begitu menyenangkan, setidaknya bagi Mino. Pria tampan di usia dua puluhan, dengan tubuh menjulang dan rambut keperakan ini resmi mengisi unit apartement nya yang baru.
Tepat dihari ini.
Setelah bersusah payah membenahi ruangan apartemen dengan peralatan favoritnya pria Song itu berhenti sejenak dari aktivitas nya dan duduk menikmati tenggelamnya sinar matahari dengan satu cangkir kopi panas diujung balkon. Mino, menarik nafasnya dengan lambat. Peluh yang masih memercik ke pelipis menjadi bukti kalau ia benar-benar letih.
Tapi sekaligus puas. Karena sekarang Mino akhirnya bebas. Bebas menikmati hidupnya tanpa harus dibayangi oleh aturan kaku keluarga nya. Bebas dari peraturan-peraturan serta ocehan kedua orang tuanya yang seolah tidak pernah ada habisnya.
Memang benar, setelah kau dewasa sudah seharusnya kau berjuang demi hidupmu sendiri tanpa harua berlindung dibalik ketiak kedua orang tua.
"Hai penghuni baru"
Lamunan Mino terpecah begitu suara lembut itu terdengar ditelinga nya. Konsentrasinya teralihkan dari beban pikiran dan kopi panasnya menuju sosok perempuan yang kini juga berada di sebrang balkon apartemen.
Mino sontak mengulas senyuman indah. Senyuman penuh kesopanan karena sudah disapa terlebih dahulu. Padahal sebagai penghuni baru seharusnya ia yang beramah tamah.
"Hai .... Penghuni lama" Balas Mino enteng. Perempuan itu menaikkan satu alisnya dan kemudian tertawa. Menimbulkan sensasi yang sama pada Mino.
Tertawa nya menular.
"Maaf aku mengganggumu, silahkan lanjutkan--"
"Ah tidak, kau suka kopi?" Tanya Mino yang kemudian merasa aneh sendiri dengan pertanyaan yang ia ajukan karena sama sekali tidak sesuai dengan apa yang dikatakan perempuan itu.
"Er.... Aku biasanya tidak minum kopi"
"Bagaimana kalau secangkir teh? Aku punya teh hijau yang bagus" Jawab Mino terburu. Sekali lagi ia merutuki dirinya sendiri yang begitu bernafsu mengeluarkan setiap jawaban.
"Teh... Aku suka teh, baiklah ... ---"
"Song Mino" Balas Mino cepat. Perempuan cantik itu buru-buru mengulas senyuman manisnya. "Song Mino-ssi, lain kali aku mampir ketempatmu untuk minum teh" Balasnya dengan lembut. Mino yang ingin menjawab lagi seketika terdiam begitu perempuan itu kembali masuk kedalam apartemennya meninggalkan Mino yang sendirian ditengah balkon yang gelap. Sejenak pria itu mematung dan menarik nafasnya. Lalu buru-buru menyesap kopinya sampai habis dan bergegas masuk.
Ia tidak nyaman sendirian di atas balkon saat malam.
🌼
Unit apartemen yang Mino tempati bukanlah apartemen mewah dengan cluster ekslusif. Setidaknya dari harga yang harus Mino keluarkan untuk bisa menyewa selama 6 bulan ke depan ia bisa tahu kalau gedung apartemen ini bukan berada di kawasan elit. Tapi itu tidak jadi masalah untuk Mino, ia yang biasa menghabiskan waktunya didalam studio musik hanya kembali ke apartemen untuk tidur dan melepas lelah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Minrene/One Shoot
FanfictionKumpulan Story pendek dari my ultimate Pair, Song Mino and Bae Irene. With other genre and other shipping area. a Minrene another fiction ©ziewaldorf
