Bab 1

20 3 0
                                        


            Yang Unik Yang Bersahabat 

      Bel berdering panjang dan nyaring.
       Baju putih, celana abu-abu, berdiri terpaku di dekat pintu yang terbuka lebar, mengabaikan lalu-lalang siswa-siswi yang berjalan keluar dan masuk lab. komputer. Berdiri, mengedarkan pandangan ke seluruh rauangan sesaat, beberapa detik. Karena detik selanjutnya, detik yang banyak hingga menjadi bilangan menit yang lama- digunakan untuk menatap seseorang yang belum juga beranjak dari tempatnya- seakan belum menyadari waktu pergantian kelas yang sudah diteriakkan bel dengan nyaring.
   Kulit putih, rambut lurus, mata sipit, hidung mancung, bibir tipis
    Ia sadar, bahwa yang dirasakannya adalah sebuah kesalahan. Dengan Ivan pun bukan hal yang benar. Tapi bagaimana mengendalikan dan mengatasi perasaannya pada sosok tampan di seberang ruang? Ia sudah berusaha keras. Jika sekarang ia bisa bertahan, bagaimana dengan esok? Jika esok terkendali, bagaimana dengan lusa? Jika lusa bisa ia lalui, bagaimana dengan hari-hari selanjutnya?
Mungkin waktu akan berpihak padanya atau malah sebaliknya, dengan kejam justru semakin membengkakkan rasa di hatinya. Membuatnya rusuh. Lalu menuntunnya untuk melakukan tindakan nekat yang tak terduga
                            ***
     Meski tahu sudah waktunya bangun dan beranjak dari bangku yang didudukinya, Faris belum juga melakukannya. Di hadapannya terpampang jelas sebuah email. Ia sudah membacanya dua kali, dan ngotot membacanya untuk ketiga kalinya.
To          : rezi_ al farisi@yahoo.com
From    : tanpa_nama@yahoo.com
Subject : ini aneh atau lucu?

                  Dear...
Makanan favorit  :Ice Cream
Makanan popular yg tdk disukai : Coklat
Minuman favorit : Susu campur soda
Hobi                         : Baca buku, haking, traveling

      Tebak! Aku nulis tentang siapa? Jangan GR, ini bukan tentang kamu. Ini 100% tentang Papaku. Ini memang kebetulan yang aneh. Menurutku lucu. Semua yang aku tulis di atas juga 100% kamu kan? Menurut kamu, ini aneh atau lucu
                                                       TN

        Sambil terus menatap layar kaca di hadapannya, sebuah senyum hadir di bibir Faris.  kali ini, ia benar-benar yakin atas kesimpulannya. Bahwa TN- sang tanpa nama adalah seorang cewek!
     Kak, moving class sekarang kelas sebelas, tegur seorang gadis yang sudah duduk di sebelah Faris beberapa saat lalu.
      Hah oh iya, ini juga mau udahan kok, ucap Faris seraya bangun sambil menoleh ke kiri, kanan dan belakang. Mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dan mendapati hanya dirinya- dari kelas XII yang tinggal.
Her sini di sebelaha gue! Ngapain lo malah bengong di situ?
       Nunggu aku selesai ya Her?! Wah sorry banget ya
                                 ***
   Mungkin selalu ada geng pelajar di setiap sekolah. Tapi, hanya ada satu geng-persahabatan yang didasari oleh keunikan di SMU Mandala, itulah geng Nindya cs. Ada Ema, cewek supel yang jago karate. Tomboy, tapi pandai menyanyikan lagu keroncong. Ada Tiara, gadis berambut indah yang punya prestasi menjuarai berbagaui lomba matematika tingkat pelajar,tapi lebih sering terlihat bodoh dalam hamper berbagai situasi dan kondisi. Lalu Bella, cerpenis yang tidak pernah suka membaca cerpen. Dan Sisi, cewek maskulin yang tertutup. Nyaris tidak pernah bicara, tidak tidak gentar menghadapi keroyokan Friska cs-si tokoh antagonis SMU Mandala yang di takuti. Sementara Nindya menjadi unik karena berada di antara mereka? Tidak juga. Menurut Ema, keunikan Nindya sendiri tidak perlu diragukan. Yaitu tentang khyalan dan impian-impiannya menjadi seorang putrid seperti dalam dongeng yang hampir dibuat nyata.
         "Hai cewek paling cantik di sekolah! Nama lo Nindya, kan?" Nindya Putri Alisya. Ditodong langsung dengan sapaan sekaligus pujian, Nindya cuma bisa tersenyum ramah sambil menganggukkan kepalanya hampir tidak kentara.
      "Gue Ema. Nama lengkap, Ema Nina Silvana."
        "Yang waktu Ospek pernah disuruh nyanyi keroncong sama kakak di ujung sana?"
       "Yoi.
       "Suara lo bagus banget."
       “Thanks."
       "Tapi...."
       "Tapi apa?"
       "Tapi lucu aja, kalau suara semerdu itu adalah suara lo. Padahal lo nggak kelihatan seperti seseorang yang punya suara merdu. Gaya cuek..., cewek tomboy nyanyi lagu keroncong? Merdu banget lagi, nggak biasa, kan?"
     "Elo bukan orang yang pertamakali bilang gitu. Yang nyuruh gue nyanyi itu ketua OSIS, bakal jadi mantan sich, dia juga bilang gitu. Eh kayanya dia naksir lo deh."
      "Ah, bikin gosip aja."
      "Ini sih bukan gosip, sebenarnya hampir semua cowok di sekolah ini naksir lo, gue aja nyebutnya cuma dia. Dia lumayan, kan? Namanya Riza Vahlovi, kelas XII IPA-1, sekarang masih ketua OSIS, jago basket, otak encer. Nah yang berdiri di sampingnya, yang baru datang-wajah oriental, itu saudaranya, saudara tiri. Ema nyerocos ngasih informasi tanpa diminta."
       "Saudara tiri?" Nindya mulai tertarik, "Saudara tiri gimana?"
        "Bokapnya Kak Riza nikah ama nyokapnya Kak Faris waktu mereka masih di TK. Eh ngomongin Kak Faris, dia nggak kalah menarik. Namanya Rezi Salman al Farisi, ketua Rohis- bakal jadi mantan juga, lebih ganteng dikit, tapi kalah keren ama Riza, juara umum dua tahun berturut-turut, siswa teladan tahun lalu. Tapi yang naksir dia nggak sebanyak yang naksir Riza, habis calon ustadz sich. Biasa selera ibu-ibu." Mendadak Ema berhenti bicara, dia menatap heran pada Nindya yang menatapnya dengan tatapan aneh. "Kenapa?" tanya Ema risih ditatap seperti itu.
 

      "Emmm... lo kan anak baru?" Nindya masih pasang wajah aneh.
        "Iya. Emang kenapa?"
        "Lo tahu informasi sedetail itu lo detektif yang dikirim FBI buat mata-matain mereka? Emang mereka siapa? Orang-orang istimewa?"Nindya memberi tekanan pada kata istimewa.
       "Wah! Imajinasi lo Hollywood banget sih. Gue tahu sedetail itu soalnya abang gue, sekelas ama Riza, mereka temen deket. Dan sepupu gue, Rahma, sekretaris  Rohis. Masuk akal, kan? Udah ah, ke kantin yuk, laper nih."
        "Lo orangnya asik ya," ucap Nindya kemudian setelah di kantin.
       "Kalo gitu silakan lamar gue jadi temen lo," kata Ema pede. "Eiii..., nggak usah sungkan, kalo lo lakuin itu, gue pasti nerima lamaran lo dengan mas kawin bakso dua mangkok, kerupuk dua dan teh botol, kontan," Ema menyela lalu berhenti sebentar memberi jeda pada ucapannya, "Maksud gue bayarin," lanjutnya kemudian sambil berbisik di telinga Nindya. Nindya cekikikan menghadapi ulah temen barunya yang unik banget itu. Dia nggak keberatan ngeluarin uangnya untuk semua yang telah dihabiskan cewek manis bertubuh subur itu. Dan persahabatan pun mulai terjalin.
      Keunikan Ema yang lain, setiap kali naik mobil lebih lama dari satu jam, Ema selalu mengeluh pusing, sakit kepala, atau kadangkala mual. Tentu saja Ema tidak berbohong. Saat mobil yang berjalan melewati waktu satu jam, wajahnya nyaris selalu tampak pucat atau malah memerah. Awalnya, Nindya yang sangat perhatian selalu menawarkan minyak kayu putih, lalu beberapa buah atau cemilan. Dan biasanya, saat mendengar makanan, wajah pucat Ema selalu kembali normal, atau wajah merahnya perlahan bias. Keningnya yang seringkali membuat kerutan juga kembali normal, lalu mulai bisa tersenyum dan selanjutnya semua tahu apa obat untuk Ema jika wajahnya mulai pucat atau memerah, atau keningnya berkerut, atau saat dia mulai mengeluh mual.
        Dua minggu kemudian Tiara menjadi anggota ketiga, disusul Bella, lalu Sisi.
    Jika keunikan dalam sebuah persahabatan bisa mengikat mereka begitu erat apa yang bisa mengendurkannya hingga sebuah persahabatan pantas dipertaruhkan?

Ice Cream LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang