PROLOG

788 115 91
                                        

Hujan malam itu turun deras, seolah langit ikut berduka. Bocah kecil bernama Diega berdiri di antara kerumunan, matanya membengkak karena tangis yang belum kering. Di hadapannya, dua nisan sederhana berdiri berdampingan, menyimpan keheningan yang tak pernah ia pahami. Orang-orang berbisik lirih, menatapnya dengan pandangan yang sulit ia mengerti.

"Andai saja anak itu tidak ada, mungkin mereka masih hidup," suara samar masuk ke telinganya, menusuk lebih dalam daripada dinginnya udara. Diega tak mengerti maksudnya, tapi kata-kata itu membekas, menempel di pikirannya yang masih polos.

Malamnya, ketika kembali ke rumah, luka itu semakin diperkuat. Neneknya menatap dengan mata dingin, pamannya menghela napas panjang sebelum mengucapkan kata-kata yang akan terus menghantuinya.

"Kamu pembawa sial, Diega. Kematian mereka itu karena kamu."

Sejak saat itu, rumah bukan lagi tempat aman. Ia dibesarkan bukan dengan pelukan, melainkan dengan bentakan, tuduhan, dan kadang tangan yang terlalu ringan untuk mengayun. Setiap hari ia belajar untuk diam, untuk menahan sakit, hingga akhirnya tumbuh dengan satu keyakinan, kasih sayang bisa hilang kapan saja.

Bertahun-tahun berlalu, namun luka itu tetap ada. Kata-kata "pembawa sial" terpatri dalam benaknya, menjadi bayangan yang mengekang di setiap langkah. Diega belajar menyembunyikan rapuhnya dengan senyum tipis, padahal di dalam ia hancur. Lebih dari apa pun, ia takut kehilangan dan ditinggalkan lagi.

Maka, ketika cahaya itu datang, seorang gadis bernama Disya, dengan senyum hangat dan perhatian sederhana. Diega tahu ia telah menemukan sesuatu yang tak pernah ia miliki, rumah. Namun bersamaan dengan itu, ketakutannya kembali menyala. Sebab bagi Diega, kehilangan bukan pilihan.

Dan ia berjanji pada dirinya sendiri, apa pun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan Disya pergi.


****

Hai, kenalin aku Fayfa. Ini adalah karya pertamaku yang berjudul Diega. Jujur aja, aku masih penulis pemula, jadi mungkin ceritaku nggak akan sempurna. Tapi aku menulisnya dengan sepenuh hati, dan harap kalian bisa ikut merasakan setiap emosi dari kisah ini.

Aku tahu perjalanan membaca novel kadang panjang, tapi semoga kalian tetap betah, ya Setiap komentar, like, dan dukungan kalian berarti banget buatku. Jadi jangan ragu untuk stay dan ikut tumbuh bareng aku di cerita ini.

Selamat membaca, semoga Diega bisa jadi teman hangat kalian di sela hari.

DIEGA (On-Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang