1. Di Balik Dinding Kaca

553 103 79
                                        

Pagi itu, sekolah dipenuhi orang-orang yang berlalu - lalang memasuki area sekolah. Suara langkah kaki, obrolan, dan tawa siswa bergema di lorong-lorong, bercampur dengan bunyi sepatu yang menapak lantai keramik. Suasana ramai itu seolah menantang ketenangan yang biasanya Diega cari.

Diega Aidan Sebastian. Pemuda itu berjalan perlahan dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana, matanya menatap sekeliling dengan tenang. Ia selalu begitu, berada di tengah keramaian, tapi tetap terasa terpisah. Teman-temannya tahu ia pendiam, jarang ikut bercanda, dan selalu terlihat menahan diri dari hiruk-pikuk dunia sekolah. Orang-orang yang berpapasan dengannya pun enggan sekadar menyapa.

Ia memasuki kelas dengan papan bertuliskan "X IPS 11-D". Di dalam, sebagian besar meja sudah terisi. Diega melangkah pelan menuju bangku paling belakang. Di sana, sudah ada Athan, teman sebangku sekaligus sahabatnya. Diega menjatuhkan tubuhnya ke kursi dan menatap jendela yang memantulkan cahaya pagi.

"Tumben telat," ucap Athan membuka percakapan.

"Kesiangan." Diega menjawab singkat lalu menundukkan kepala, menyandarkan wajah di lipatan lengannya, tanda ia akan melanjutkan tidur yang tadi sempat tertunda di rumah.

Athan hanya mengangguk. Ia sudah hafal betul kebiasaan sahabatnya itu. Jika ia tidak memulai percakapan, Diega mungkin akan tetap diam. Matanya sempat melirik ke arah kepala Diega yang tertunduk di meja. Ada rasa ingin membangunkan, tapi urung ia lakukan. Athan tahu betapa jarangnya pemuda itu bisa terlelap. Karena itu, ia membiarkan Diega tetap begitu, meski hanya sebentar.

Bel masuk berbunyi nyaring, memecah suara-suara riuh di lorong. Guru mata pelajaran pertama masuk sambil membawa setumpuk buku. Kelas pun perlahan tenang, meski beberapa siswa masih asyik berbisik.

Diega, seperti biasa, hanya membuka matanya sebentar lalu duduk tegak. Pulpen ada di tangannya, tapi jarang bergerak. Ia tidak menulis banyak, hanya sesekali mencatat hal yang dianggap penting. Selebihnya, matanya menatap papan tulis dengan pandangan kosong, seolah pikirannya melayang entah ke mana.

Sesekali Athan menyenggol lengannya, memberi isyarat agar ia ikut menulis. Diega hanya menanggapinya dengan anggukan singkat. Bukan berarti ia tidak memperhatikan, hanya saja kepalanya terasa terlalu berat untuk terus mengikuti ritme kelas.

Pelajaran berlangsung, namun perhatiannya lebih sering teralih ke luar jendela. Dari bangku belakang, ia bisa melihat halaman sekolah yang disinari matahari. Sekawanan burung beterbangan, dan sesekali angin masuk lewat celah jendela, meniup helaian rambutnya. Semua itu membuatnya sedikit lebih tenang dibanding suara guru yang terus menjelaskan di depan kelas.

Athan meliriknya lagi, lalu berbisik pelan, "Lo nggak bosen lihat jendela terus?"

Diega menoleh sebentar, lalu menjawab datar, "Nggak."

Jawaban singkat itu membuat Athan terkekeh pelan. Ia sudah terbiasa dengan gaya bicara sahabatnya yang seperlunya saja.

Jam pelajaran berjalan lambat. Sampai akhirnya bel istirahat berbunyi. Suara kursi bergeser, siswa berlarian keluar kelas menuju kantin. Kelas menjadi ramai lagi, penuh tawa dan obrolan.

Namun, berbeda dengan yang lain, Diega tetap duduk di kursinya. Ia menunduk di atas meja, mencoba mencuri waktu untuk tidur sebentar. Kantuk selalu datang di siang hari, seolah menagih utang tidur yang tak pernah ia lunasi di malam sebelumnya.

Athan menatapnya, lalu berdiri. "Gue ke kantin dulu. Lo mau dititipin sesuatu?"

"Air mineral." Jawaban singkat lagi.

Athan mengangguk, lalu pergi bersama beberapa teman lain. Kini kelas hampir kosong, hanya tersisa beberapa siswa yang enggan keluar. Hening menyelimuti ruangan, membuat dengung kipas angin di langit-langit terdengar jelas.

DIEGA (On-Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang