Pelajaran setelah istirahat berjalan lambat, seakan jarum jam ikut malas bergerak. Guru matematika berdiri di depan kelas, menuliskan deretan rumus di papan tulis dengan kapur putih. Suaranya monoton, membuat beberapa murid menguap, sementara yang lain sibuk menggambar asal-asalan di buku catatan.
Sesekali, guru itu menoleh ke arah murid-muridnya. Ketika sudah selesai menuliskan soal latihan, pandangannya berhenti pada seorang murid di dekat jendela.
"Diega, maju ke depan dan coba kerjakan soal nomor tiga," ujarnya tegas.
Diega yang sejak tadi hanya menatap keluar dengan pandangan kosong, perlahan mengangkat kepala. Matanya beralih pada angka-angka di papan tulis. Tanpa banyak bicara, ia bangkit dan melangkah santai ke depan kelas. Tangannya bergerak cepat, menuliskan jawaban seperlunya, jelas, ringkas, dan tentu saja akurat.
Guru itu mengangguk singkat. "Oke, benar. Duduk."
Tanpa ekspresi berarti, Diega kembali ke bangkunya. Athan, yang duduk di sebelahnya, langsung menyikut lengannya. Ia tidak habis pikir dengan otak anak itu. Diega jarang memperhatikan pelajaran, terlihat acuh, tapi selalu bisa menaklukkan soal-soal yang membuat murid lain kewalahan, tapi anehnya ia selalu bisa dengan mudah menyelesaikan soal-soal itu.
"Cepet banget lo ngerjainnya. Pake otak atau insting?" bisiknya penasaran.
Diega hanya menoleh sebentar, lalu kembali menelungkupkan kepala di kedua lengannya.
"Jawab, woi," desak Athan sambil menepuk bahunya pelan.
"Insting," sahutnya singkat.
Athan mendecak, akhirnya memilih diam. Sementara itu, dari celah lengannya yang sedikit terbuka, mata Diega kembali tertuju pada jendela. Pandangannya kosong beberapa detik, sampai akhirnya berhenti pada sosok yang tak asing baginya.
Di halaman luar kelas, seorang gadis berjalan bersama temannya sambil membawa tumpukan buku paket. Seragamnya rapi, rambut hitamnya diikat sederhana, langkahnya ringan. Disya Kazara.
Nama itu langsung muncul begitu saja di kepalanya. Gadis yang terlalu sering menarik perhatiannya tanpa perlu melakukan apa pun. Gadis yang bahkan tidak tahu kalau ada seorang pemuda di balik jendela ini yang selalu saja mengikuti tiap gerak kecilnya.
Diega diam. Matanya menatap lebih lama daripada yang seharusnya, seolah berusaha mengunci gambar itu dalam ingatan. Sesaat, suara kapur di papan, desah nafas murid lain, bahkan suara Athan di sampingnya, semuanya lenyap. Yang ada hanya bayangan gadis itu.
Namun dengan cepat ia alihkan pandangan, pura-pura kembali rebah di meja. Hatinya berdebar pelan, tapi wajahnya tetap datar seperti biasa. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya bergejolak di dalam dirinya.
***
Sementara itu, di kelas berbeda, suasana justru jauh lebih riuh. Murid-murid sibuk bergurau dan menceritakan kejadian-kejadian sepele, ada yang menirukan gaya guru olahraga, ada yang masih heboh membahas pertandingan futsal tadi pagi, bahkan ada yang mengeluh soal PR matematika yang katanya mustahil dikerjakan. Kursi-kursi berderit saat mereka bergerak kesana kemari, suara kertas berdesir bercampur dengan tawa yang bersahut-sahutan.
Disya baru saja masuk dengan beberapa buku paket di pelukannya. Ia membagikan buku-buku itu ke bangku depan, lalu membantu temannya menaruh sisanya di meja guru. Seragamnya sedikit berdebu karena terburu-buru, tapi tetap rapi.
Tak lama, guru masuk sambil merapikan kertas di tangannya. "Per kelompok, ya. Diskusikan soal latihan di halaman dua puluh lima."
Keramaian pun pecah. Beberapa murid langsung berkumpul dengan teman dekatnya, ada yang kebingungan mencari pasangan, ada pula yang protes karena merasa kelompoknya tidak adil.
Di barisan tengah, Disya tetap terlihat tenang. Ia menoleh ke arah sahabatnya, tersenyum tipis, lalu mulai mengatur kertas di mejanya. Tak butuh waktu lama, beberapa teman lain ikut menghampiri, otomatis menjadikan bangku mereka pusat kelompok kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIEGA (On-Going)
Teen FictionBagi dunia luar, Diega hanyalah seorang lelaki dingin yang sulit didekati. Namun di balik tatapannya yang tenang, tersimpan luka yang membuatnya hidup dengan ketakutan terbesar, kehilangan. Hingga ia bertemu Disya, seseorang yang tanpa sadar menjadi...
