Rion berjalan di koridor dengan santai. Beberapa orang menyapanya dan hanya dibalas oleh anggukan singkat. Netra nya menatap tajam, menyelisik petunjuk untuk memecahkan banyak kejadian aneh di tempat ini.
"Yon!" Teriakan dan lambaian seseorang menyambutnya saat ia memasuki kelas. Rion menaikkan satu alisnya pertanda mengatakan 'apa?'
Hamal menunjukkan ponselnya kepada Rion. Sebuah kotak percakapan. Rion membaca di dalam hati kemudian mengangguk pelan.
"Lo, dapet kaya gini juga?" tanya Hamal.
"Iya, semacam itu." Rion menerawang, "Menurutmu pengirim teks itu orang yang sama atau orang yang berbeda?"
"Kalau berdasarkan waktu sama kemiripan isi teks, gue yakin pengirimnya orang yang sama." jawab Hamal.
Disaat keduanya sedang beradu pikiran, Rayyan, si Ketua Kelas memanggil Hamal dan menyerahkan sesuatu.
"Mal, ini tadi di depan ada yang nyariin lo, pas gue tanya mau ngomong sama lo, dia malah nolak, kaya kebingungan, akhirnya dia nitip ini." Jelas Rayyan.
Hamal menerima kotak bertuliskan salah satu toko roti ternama di kota ini, "Oke makasih, Ray." Rayyan pun meninggalkan mereka berdua.
"Wah asik, tau aja tadi gue belum sempat sarapan." Gumam Hamal, bersemangat membuka kotak itu. Rion hanya memperhatikan dalam diam.
Tak lama kemudian, Rion melihat raut wajah Hamal berubah, tercekat. Ia pun segera melihat isi dari kotak tersebut.
Bangkai cicak.
Hamal pun langsung membanting kotak itu ke lantai. Menimbulkan rasa keingintahuan para penghuni kelas.
"Shit! Siapa yang kurang kerjaan banget main-main pake cara gitu? Basi!" umpat Hamal penuh emosi.
Rion hanya meliriknya, tak lama kemudian pembelajaran dimulai.
•••
Sepulang sekolah, Rion bergegas menuju bengkel tempat ia bekerja. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ia dapat. Sesampainya disana, Rion berganti pakaian dan segera mengerjakan tugasnya.
Tiba waktunya untuk pulang. Di dalam ruang ganti, para pekerja terdengar membicarakan sesuatu.
"Gue denger nih ya, katanya ada kasus pembunuhan lagi, dan tempat kejadiannya itu di deket SMA lo, Yon. Jasadnya digeletakin duduk di pos ronda, ajaibnya si pembunuh nggak ninggalin jejak apapun. Kejadiannya tadi sekitar jam setengah 5." mulai Rama, salah satu pekerja paruh waktu.
Rion mengernyitkan dahi, "Setengah 5? 45 menit setelah jam pulang sekolah. Tapi biasanya masih ada siswa."
"Terus, katanya korban itu salah satu distributor peralatan sekolah ke koperasi, dan kebetulan banget korban juga jadi distributor ke SMA Cakrabuana. Kabarnya, korban sempat lihat wajah si pembunuh, makanya dia dibunuh." Lanjut Rama.
"Lo tau darimana, Ram? Jam segitu tadi lo udah ada disini." Tanya mas Odi.
"Gue," Baru hendak menjawab, perkataanya diinterupsi oleh Rion. "Kemungkinan tersangka ketakutan, lalu membunuh korban. Tapi kenapa bisa tidak ada jejak sama sekali?"
"Mungkin dia pembunuh bayaran, atau semacamnya, yang terlatih melakukan hal seperti itu dengan rapi." Timpal mas Tino.
Bisa juga, tapi tetap saja terasa aneh. Batin Rion.
Tak berselang lama, mereka menyudahi obrolan mereka karena malam sudah semakin memuncak.
•••

KAMU SEDANG MEMBACA
H U N T E R
RandomSeorang pemuda tidak menyangka hidupnya akan berubah 270 derajat. Dunia yang sebelumnya meminta dirinya untuk berdiam diri, kini mendorongnya keluar. Menebas semua ketidakadilan. Kasus demi kasus semakin tidak masuk akal. Hari demi hari semakin tida...