Semesta, sebenarnya siapa dia?
—Renjana Cahyani
Mimpi aneh lagi.
Masih pukul tiga pagi. Ia terdiam duduk di tepian kasur. Meraba untuk memcari tongkat miliknya yang bersandar di dekat lampu pijar. Renjana mencoba, mencoba mengingat sosok laki-laki yang akhir akhir ini datang ke dalam tidurnya. Renjana hanya ingat suaranya, ketika laki-laki itu memanggilnya dengan sebutan 'Ana'
Renjana berjalan bersama tongkatnya menuju meja belajar yang berdekatan dengan jendela kamarnya. Walaupun Renjana tidak bisa melihat, namun ia hafal semua tempat yang berara di kamarnya sendiri, itulah insting. Renjana membuka jendela, ia dapat merasakan angin pagi yang berhembus membuat rambutnya berterbangan. Angin di pagi hari memang sangat menenangkan, itulah mengapa Renjana senang sekali mengurangi jam tidurnya untuk berdiam di jendela sambil merasakan angin malam.
Tangannya meraba untuk membuka buku harian tua yang berada di nakasnya. Membuka lembaran demi lembaran untuk mencari lembar yang kosong. Tangannya lihai menulis sesuatu disana, seakan sedang mengisi kehidupan di kanvas yang masih kosong, Renjana sangat suka menulis. Kedua jendela dunia nya memang tertutup, namun jendela hatinya terbuka. Kedua mata indahnya memang tidak bisa melihat dunia yang begitu indah, namun Renjana tetap berlapang dada untuk menerima akan takdir Tuhan untuknya.
Bolpoin berwarna hitam menari di atas kertas kosong, tangan lihai Renjana menari nari kecil membuat suatu kehidupan disana.
Di pagi buta, yang aku tak bisa melupa
Pertemuan singkat, namun aku menyukainya. Entah mengapa aku bisa memikirkan orang yang bahkan belum ada setengah jam bertemu denganku. Hanya sebuah topi yang kamu tinggalkan untukku, namun bagaimana bisa kita bertemu lagi hanya karna kekuatan sebuah topi? Entahlah, aku sendiri terus memikirkan hal itu. Kamu yang bernama Renjis Natanegara, entah mengapa rasanya berbeda saat bertemu kamu. Cara kamu memaksa agar memanggilku dengan nama 'Ana', atau dengan cara kamu yang menuntuntu untuk berteduh ketika hujan, dan caramu memberikan sebuah topi untukku. Aku memang tidak melihat wajahmu, namun aku bisa merasakan kalau kamu laki-laki yang baik lewat jendela hatiku. Aku harap kita bisa betemu lagi nanti, jika bertemu, kamu boleh menanggilku dengan sebutan 'Ana'. Semoga angin malam bisa membawa surat hati untukmu, semoga kita bertemu di lain waktu, Renjis.
—Renjana Cahyani, 23 April 2000
Renjana melepas bolpoin ditangannya, merasa sudah menuangkah isi perasaannya kedalam tulisan, ia menutup buku tua dan kembali meletakan di tempatnya. Renjana menutup wajahnya, sedikit terasa pening di kepala karena terlalu memikirkan laki-laki itu. Tak berlebihan, sejak pertemuan singkat dengan laki-laki itu Renjana lebih suka mengurung diri di kamar serta menulis. Laki-laki itu benar benar misterius, kini hati Renjana terasa gundah gundala, selalu tak serius jika diajak berbicara oleh Mama nya, mungkin efek kepikiran. Rasanya ia ingin bertemu dengan Renjis lagi, walaupun laki-laki itu sempat memberitahu namanya, tapi tetap saja Renjana ingin sekali bertemu dengannya lagi. Kalau sudah resah seperti ini, Renjana benar benar kebingungan.
"Namanya Renjis, ah kenapa aku terus memikirkan dia, sih?" monolog Renjana yang kini berdiri dari bangkunya dan berjalan dengan tongkat yang ia genggam.
Renjana kembali berbaring di kasurnya, jarum pendek terus berputar, dan jarum panjang menunjukan ke arah angka lima. Tak terasa, dua jam berlalu memikirkan hal yang memang belum tentu akan terjadi. Kini Renjana mencoba menutup kedua matanya kembali, rasa kantuk sudah menyerangnya sedari tadi, ia memutuskan untuk tidur sebentar sampai mentari datang nanti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Renjis & Renjana
Ficção AdolescenteDia sahabatku, Dia teman baik ku, Dia teman marah ku, Dia segalanya bagiku, Dia teman hati ku, Dia selalu ada untukku, Kamu adalah alasan seseorang tersenyum, Untuk Renjis, dan untuk Renjana.
