Jajan dulu

2.6K 83 35
                                        


"Ayah bikin Salma nangis lagi ya?" Dengus Zena kesal. Baru ditinggal sebentar ke kamar mandi, Salma menangis kencang.

"Enggak bunda, ayah lagi gantiin pampers, pampers Salma penuh Buunda," jawab Pandu sambil sibuk mengganti popok anaknya.

"Uuhhh Sayang, ayah ngeselin ya nak." Zena mencium pipi Salma gemas, ingin rasanya memakan pipi chubby itu karena saking gemasnya. Benar kata suaminya, pipi anaknya itu mirip buah jeruk orange tadi.

"Yee, kamu ini." Pandu hendak mencubit pipi Zena.

"Ihh, kamu belum cuci tangan lho!" Zena menjauhkan wajahnya, membuat tangan Pandu terhenti di udara.

"Hehe." Pandu terkekeh pelan lalu keluar menuju kamar mandi.

"Silma, ngomong terus ya. Gak kebayang nanti kalian udah bisa bicara, pasti cerewetnya minta ampun. Bunda harus siap telinga ini," Zena tersenyum menatap si kembar.

Salma yang masih menangis digendong Zena agar kembali tenang. Anak itu memang paling susah ditenangkan, harus digendong dulu.

Pandu kembali masuk dan menciumi Salma yang masih menangis.

"Waduh, ayah dipukul!" Pandu pura-pura kesakitan, ingin menghibur Salma, tapi justru anak itu tambah menangis.

Zena yang kesal menepuk pantat suaminya.

"Haduhh!" ringis Pandu. Memakai celana kain tipis, ia tentu merasa panas ditepuk keras oleh Zena.

"Besok apa lagi? Tak jewer telingamu!" Zena mengancam sambil tersenyum.

Pandu menghindar, kini terbaring memeluk Silma yang tengah ngoceh sambil memegang mainan.

"Ngomong apa sih, nak?" Pandu mencium pipi Silma gemas.

"Jalan-jalan ya?" tanya Zena pada Salma yang masih menangis, padahal sempat terdiam ketika melihat ayahnya ditepuk.

"Hayukk, jalan-jalan sama bunda."

Tapi sebelum itu, terdengar suara bu Tantri memanggil mereka berdua, membuat Zena menghentikan langkahnya.

Tak lama, bu Tantri menghampiri sambil membawa amplop cokelat.

"Maksud surat ini apa ya?" tanya bu Tantri.

"Itu milik ibu," jawab Pandu tersenyum.

"Hah? Milik ibu?" Bu Tantri bergetar tangannya.

"Kamu kasih apa ke ibu?" tanya Zena pada Pandu.

"Surat tanah," jawab Pandu santai.

"Surat tanah rumah ini?" tebak Zena.

"Nah, betul. Ini menjadi rumah bu Tantri, hadiah kecil dari Pandu untuk ibu."

"Pandu, terima kasih banyak, nak."

Di sisi lain, Irene berjalan menuju parkiran setelah meninggalkan rumah sakit.

"Kamu pulang naik bis?" tanya Angga, berusaha menyamakan langkah dengan Irene.

"Iya."

"Aku anter ya." Mobil milik Angga sudah diperbaiki dan siap dipakai.

"Tidak usah." Irene menggeleng, menolak.

"Ini sebagai bentuk terima kasih." Angga tetap bersikeras.

"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri kok," jawab Irene.

"Tidak, aku takut kamu kenapa-napa, bahaya naik bis seperti waktu itu. Apalagi-"Angga terdiam, tak melanjutkan kata-katanya.

Irene menghentikan langkahnya, otomatis membuat langkah Angga juga berhenti.

Because Of You (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang