Happy reading 🐁
Lima manusia itu berkumpul di kamar Kavin. Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Galen yang berkutat membaca rumus-rumus matematika, Delana yang memakan kripik kentang with cola, Arion yang memencet keyboard komputer Kavi dengan beringas, karena sedang bermain game, si tuan kamar Kavin mencari obat penumbuh kumis tipis di shopee dan Vian yang sedang guling guling di kasur Kavin karena Dia bingung mau ngapain.
Vian selalu bingung, apasih yang menarik dari rumus matematika
“Len” pemilik nama itu melirik Vian melalui ekor matanya
“kenapa Lo demen banget baca Rumus matematika.?” Galen melepas kacamatanya
“menurut Lo.?”
“menurut Gue rumus matematika itu...” Vian tersenyum sambil menerawang ke atas. Galen pun ketularan, tersenyum senang, akhirnya Vian sadar sendiri tanpa di ruqyah dan akhirnya ada yang waras selain dirinya.
“matematika itu bikin mumet, pusing, bikin Gue pengen nonjok orang kerena kesel ngak nemu jawaban” mendengarnya bibir galen yang semula terangkat kembali merengut.
“wah ide bagus tuh, Gue pengen nyiptain aplikasi game. Ulti nya the power of mtk, semakin goblok matematikanya semakin kuat damage nya”
“yaalah kenapa temen Gue nggak ada yang yang waras” Galen menjambak rambutnya frustasi
“lah berarti Lo juga nggak waras Len” ucap Delana yang pipinya menggembung, sedang mengunyah kripik kentang
“kenapa.?” IQ selangitnya tak dapat menangkap maksud ucapan Delana
“Lo tau kita gila tapi kenapa Lo masih mau sahabatan sama kita. Bukanya itu berarti Lo gula.?”
“Gila.!”
“kok kalian ngatain Gue sih,” Apakah memang benar di antara mereka nggak ada yang bener.?
“main truth or dare yok” Kavin datang dari arah pintu sambil membawa botol plastik
“buset, kapan Lo keluarnya.?” Kavin memutar bola mata jengah
"Hayolo, jangan-jangan dia Kavin jadi-jadian" Arion mendekati Kavin, cowok berbada mungil itu menempelkan tangan kananya ke dahi Kavin
"Iki sopo.?"
"Aing macan" Kavin mengikuti peran Arion, cowok itu menggeram sambil merem-merem bak orang kesurupan
"Bukan sopo tapi jarwo" sahut Vian
“ya Gitulah Gue dimata lo Vi. Kaya tulisan kecil dibotol ini, ada tapi tidak dianggap” jawaban Kavin ini nggak nyambung banget.
“curhat.? jijik banget” Vian melempar Kavin menggunakan bantal putih yang tercetak banyak pulau. Yya pulau itu terbuat dari liur kavin yang sudah mengerak
“yok yok melingkar” semua melingkar. Kavin mulai memutar botol mineral dan ujung botol itu berhenti menunjuk Galen.
“truth or dare.?”
“truth"
"Halah, Dare ajalah. Gak seru Lo mah"
"Dih, kok Lo maksa. kalo dare nanti gue, Lo suruh nembak pak joni lagi” Galen bergidik membayangkan guru tua dengan kepala bohlamnya, yang kuahnya suka muncrat kalo njelasin materi di depan kelas.
“berapa kali lo pacaran dan kenapa Lo putus”
“anjir, main masalalu Lo”
“cepet oey” Galen menghembuskan nafas kasar
“tiga kali. Yang pertama Gue diajak jalan waktu tahun baru tapi Gue nolak karena kita bakar bakar jagung bareng dirumah Delana, dia mutusin Gue. Yang kedua waktu gue diajak jalan lagi tapi gue nolak karena harus nemenin Arion beli keyboard baru. Yang terahir waktu pacar Gue ngajak jalan lagi, tapi Gue jagain Vian yang koma gara gara ketimpuk batu sehabis tawuran”
“kok Gue ngerasa kita jadi pelakor ya” Dalen menerawang sambil mengelus dagunya
“sans aja, Lo tau sendiri kan mereka Cuma terobsesi sama Gue. Mereka nembak gue, padahal udah Gue tolak, tapi mereka malah nangis dan maksa Gue”
“iya apalagi Dia bilang kalo yang nembak itu lo. Kalo bisa skincarenya mau gue sadap, gue isi sambel terasi” ucap Arion geram
“yaelah Len, Lo kalo nggak gue ingetin apa inget buat ngechat dan ngabarin Dia.?” Kavin mengelus pundak Galen, untuk menyalurkan kesabaran. Galen memang begitu, kalau dirinya tak suka, dirinya tidak akan memperdulikanya, bahkan melupakanya.
“iya bahkan Gue lupa nama dan wajahnya” Galen tertawa. Tangan kananya digunakan untuk menutup mulut, sedangkan tangan kirinya digunakan untuk menabok Vian.
"Stop atau Gue patahin tangan Lo" Geram Vian, kalau cewek kan ada imut² nya kalo ketawa gini. Lah kalo Galen.? Jatuhnya bukan imut, tapi menjijaykan.
“yok lanjut.!” Ucap mereka semangat. Kavin memutar botol tersebut namun naas botol itu menunjuk ke arahnya sendiri
“truth or dare.?”
“truth”
“kenapa Lo terobsesi dengan kumis tipis. Dan kenapa selera Lo tante tante sih Kav” Vian menghujaninya sehingga membuat sang empunya melongo
“Vian, gaada yang lain gitu.? Yang lebih bermutu, misalnya kenapa Gue bisa ganteng banget” Ucapnya dengan pupy eyes yang membuat Vian bergidik
“gak.!”
“ck.! Kumis tipis tu bikin gue tambah dewasa, jadi gue gampang deh taklukin tante tante"
"Dewasa kagak, keliatan tua iya. Tambah jelek" sarkas Vian, membuat Kavin bungkam
"Kok nge jleb ya" Arion sambil mengelus dada Kavin
"Tante-tante itu uhhh emmmm" Kavin merem-merem sambil membasahi bibir atas dan bawahnya.
"Dasar, mesum Lo"
“jangan lupa kalo Kavin dateng ke rumah umpetin emak kalean masing-masing kalo nggak mau punya ayah muda”
“Len, Vi emak kalean cantik juga” ucapnya sambil mengedipkan sebelah mata. Kedua pria itu otomatis menyahut botol kemudian memukulkanya ke kepala Kavin dengan keras secara bergantian.
“awhh, Gue siapa.?” Ucap Kavin dengan wajah cengo
“gaya Lo pake pura-pura anemia lagi” Delana menoyor kepala Kavin berharap otaknya yang miring berubah posisi
“AMNESIA.!” Semua mencubit gemas perut Delana yang membuncit. Sedangkan Cowok itu guling guling sambil tertawa karena geli
"Dasar banter, ngepot"
Terimakasih jangan lupa kritik dan saranya 🐁
Follow ig: putri.dvh
Follow juga: Riin-Nohara

KAMU SEDANG MEMBACA
The Five Curuts
Rastgelekisah persahabatan lima cowok absurd. 1. Delana Gunandhya 2. Galen Ray Surendra 3. Melviano Abel Rezvan 4. Kavin Ardhana Abiputra 5. Arion Edzard Abayomi Awalnya mereka tidak tertarik kepada percintaan. Bagi mereka Sahabat dan keluarga sudah cukup u...