"Hei, kau mau ke mana? Aku ikut!", ucapnya sambil mengejar gadis itu dengan senyuman.
*****
"Kau mau ke mana?", tanya pria itu sekali lagi sambil menendang batu yang menghalangi jalannya di trotoar.
"Bukan urusanmu", jawab Solji ketus sambil mengecek isi jepretannya di kamera. Sepertinya, ia belum puas dengan foto-foto yang ia ambil hari ini. Ia masih butuh inspirasi objek lainnya.
Tiba-tiba langkahnya berhenti. Ia memikirkan destinasi selanjutnya untuk mencari objek foto. Masalahnya, ia tidak tahu lagi akan ke mana seakan semua spot di kota ini telah habis ia lukis.
"Hei, kenapa berhenti?", ucap Hoshi sambil ikut berhenti selangkah di depannya.
Kepala gadis menoleh ke arah Hoshi dan menatapnya, "Kau kenapa cerewet sekali sih?", entahlah ia mulai kesal dengan mulut Hoshi yang selalu nyerocos ini.
"Habis aku bosan", balasnya santai sambil tersenyum hingga matanya seakan menghilang.
"Lebih baik kau pulang saja", ucap Solji memberi saran dengan gestur tangan yang mengibas-kibas seakan menyuruhnya pergi.
"Tidak mau. Kau sendiri kenapa tidak pulang?", tanya Hoshi balik pada gadis di depannya itu.
Dahi Solji mengerut, "K-kok jadi bertanya ke aku! Terserahku-lah!", balasnya kemudian langsung melanjutkan langkahnya dengan cepat. Ia berusaha menghindar dari pertanyaannya.
Namun, beberapa menit kemudian ia kembali berhenti. Ia sudah tidak tahu lagi ingin ke mana. Bahkan, trotoarnya sudah habis ia lewati. Otaknya masih belum memikirkan satu pun tempat yang harus ia kunjungi.
"Kenapa berhenti lagi? Bingung ya mau ke mana? Pasti tidak punya tujuan", jahil Hoshi begitu melihat gerak-geriknya daritadi yang seperti orang kebibungan.
"Ya, aku tidak tahu mau ke mana!", jawabnya jujur saking kesalnya dengan hoshi yang selalu menuntutnya untuk menjawab sedangkan dirinya juga tak punya jawaban dan tujuan.
"Kalau tidak tahu, kenapa tidak pulang saja?", ia sedikit bingung dengan gadis ini. Kalau kau tidak tahu mau ke mana, bukannya lebih baik untuk pulang saja?
Gadis itu sedikit ragu untuk menjawab. Tapi, ia benar-benar buntu sekarang. Apa sebaiknya bilang saja yang sebenarnya?
Mata Solji pun mengedar ke jalanan di sebelahnya, "....A-aku belum menemukan objek yang bagus untuk dilukis...", menghindari tatapan mata memang kebiasaan gadis ini kalau tidak mau mengakui sesuatu tetapi ia harus mengatakannya.
"Aaa... Kau butuh objek?", tanyanya memastikan dan gadis itu pun mengangguk.
Pria itu berpikir sejenak sambil menggigit bibirnya. Ia terpikirkan sesuatu, namun ia bertanya terlebih dahulu pada gadis itu, "Kau lebih memilih tempat yang bagus tapi jauh, atau dekat tapi tidak terlalu bagus?"
Mengingat ia hanya diberi waktu hingga jam 11 malam, akhirnya ia memutuskan untuk memilih yang terdekat saja, "Jangan jauh-jauh. Yang dekat saja"
"Yosh! Kajja!", ajaknya sambil menarik tangan Solji dan berlari.
Baru selangkah maju, Solji langsung memberhentikan langkahnya, "Hei, jangan berlari! Jalan saja",
KAMU SEDANG MEMBACA
Allergic to Sunshine | Hoshi
RomanceSebelum ia tertidur, ia sempatkan melihat ke luar jendela. Terlihat matahari mulai memunculkan dirinya dari sebelah timur. "Aku benci matahari", kemudian ia menutup gorden rapat-rapat dan terlelap. Ia, Solji, gadis yang terbangun saat malam dan ter...
