Chapter 1

4 1 0
                                    

Hembusan angin itu membawa seorang pria muda dengan pakaian serba hitam memasuki toko bunga ditengah kota. Pria muda itu hanya terdiam melihat seisi toko dengan tatapan dinginnya seperti memaksa orang disana untuk tidak mengganggunya.

"Selamat pagi tuan, ada yang bisa saya bantu?", Ucap gadis pemilik toko bunga itu dengan senyum ramahnya.

"Bunga untuk orang meninggal dan penyesalan", Balas pria muda itu dengan singkat dan sangat dingin.

"Sebentar saya siapkan ya", Ucap gadis itu menyiapkan beberapa tangkai bunga dan mengikatnya menjadi buket bunga yang indah namun memiliki makna penuh kesedihan.

"Ini bunganya, mawar hitam 15 tangkai yang berarti kematian dan penyesalan", Ucap Gadis bernama lengkap Anila Azykia Nadhifa atau sering dipanggil Anila atau Nila.

"Tidak perlu diberi tahu, aku tidak peduli", Ucap pria muda itu dengan dinginnya sambil menaruh uang di meja kasir dan meninggalkan toko itu.

Nila pun hanya menghela nafas melihat perilaku pelanggannya tersebut, ia paham bahwa mungkin pelanggannya sedang dalam keadaan bersedih dan membuatnya menjadi seperti itu. Nila pun melanjutkan kegiatannya untuk membereskan tokonya dan merawat bunga-bunganya itu. Sudah 2 tahun gadis itu berprofesi sebagai florist karena kegemarannya dalam merawat bunga-bunga yang indah dan mempelajari arti dari setiap bunga yang ia rawat.

Disisi lain, pria muda dengan sifat dinginnya itu melangkah memasuki pemakaman umum dengan wajah datarnya yang tak bisa dijelaskan apakah dia masih bersedih atau tidak. Pria muda tersebut bernama Nikolaus Winli Dianto atau biasa dipanggil Niko umurnya baru 26 tahun, ia telah menjadi seorang manajer muda yang bekerja disebuah perusahaan desain interior ternama karena kreatifitas dan kecerdasannya dalam menggambarkan suatu ruangan ia berhasil mendapatkan jabatan itu lebih cepat dari yang seharusnya. Niko berhenti disalah satu makam dengan batu nisan yang bertuliskan 'Seila Elsye Hartanto' yang meninggal tanggal 14 Mei 2018, laki-laki itu menaruh bunga didekat batu nisan tersebut dan berdoa.

"Aku kembali Seila, maafkan aku", Ucap Niko menatap sedih kearah batu nisan yang ada didepannya.

Setelah berdiam diri hingga siang pun tiba, Niko pun meninggalkan makam tersebut dan kembali menuju perusahaannya. Niko seorang pria tampan yang terlahir dikeluarga yang awalnya kurang mampu tapi berkat kepintaran dan kerja kerasnya ia mampu menjadi seorang dengan jabatan cukup tinggi di perusahaan game yang cukup terkenal, Niko memiliki kepribadian yang hangat dan lembut tapi ia menjadi dingin itu dikarenakan penyesalannya dua tahun yang lalu dan menyebabkan calon tunangannya meninggal, karena rasa bersalah itulah dia menutupi dirinya dengan bersikap dingin kepada siapapun bahkan keluarganya dan seluruh karyawan di kantornya.

Disamping itu, Nila yang nampak sudah selesai membereskan tokonya pun beristirahat sambil merangkai bunga pesanan salah satu pelanggannya yang akan menikah lusa esok.

"Kak, aku pulang!", Teriak seorang laki-laki muda yang nampak menggunakan seragam SMA memasuki toko dan langsung melepas sepatunya dengan terburu-buru.

"Hei Kasa jangan lari nanti jatuh, makan dulu sana udah kakak masakin ayam goreng", Balas Nila dengan nada lembutnya kepada adik kesayangannya bernama Akasa Algi Prahensyah atau biasa dipanggil Akasa atau Kasa.

"Kak nanti aku mau main bola lagi ya di lapangan belakang, kalau kakak butuh sesuatu telpon aja", Ucap Kasa yang buru-buru berlari menuju lantai dua tanpa mendengar jawaban dari kakaknya.

"Iya deh serah kamu, astaga pelan-pelan Kasa!", Ucap Nila sedikit tegas karena adiknya yang memang susah untuk diberitahu.

Nila dan Kasa sepasang kakak beradik yang tinggal sebuah ruko tingkat dua dimana lantai satu untuk toko bunga dan lantai dua untuk rumah mereka berdua. Nila berumur 25 tahun dan Kasa masih berumur 18 tahun. Dulunya keduanya dari keluarga yang cukup terpandang dengan segala sesuatu yang berkecukupan, namun konflik keluarga yang memaksa kedua orang tuanya bercerai dan ayahnya langsung menghilang entah kemana sedangkan ibunya menikah lagi dengan seorang penjudi yang kasar, memaksa Nila dan Kasa kabur dari rumah mereka dan memilih hidup berdua dalam kedamaian yang sederhana. Demi memenuhi segalanya Nila berhenti dalam pendidikannya yang hanya sampai SMA dan memilih bekerja sebagai florist yang cukup untuk menghidupinya dan adiknya serta membayar biaya pendidikan adiknya agar adiknya bisa menjadi seorang dokter seperti impiannya.

"Kak aku udah makan, udah ya nanti aku pulang sore", Ucap Kasa sembari berlari keluar rumah membawa bola sepak ke lapangan di belakang rumah mereka.

"Hati-hati, aduh tu anak susah banget dibilangin", Balas Nila yang hanya bisa menggelengkan kepalanya dan melanjutkan merangkai buket bunga dengan terampil.

"Kalian tinggal berdua doang ya apa ga susah? Kenapa ga tinggal dirumah yang lebih besar aja?", Ucap pelanggan Nila yang menunggu buket bunganya.

"Gaada uang, semuanya buat kebutuhan sehari-hari, buat pendidikan Kasa aja kadang kurang harus kerja esktrak gimana mau beli rumah", Ucap Nila tersenyum.

"Kalau ini cukup ga? bukan aku sih, tapi ada seorang pria yang menyuruhku ngasih ke kamu, dia ga sebutin namanya", Balas pelanggan itu sambil memberikan ampol yang ternyata berisi sebuah buku tabungan dengan nominal yang tidak sedikit.

"Ini ga salah buat aku?", Ucapnya terkejut melihat jumlah nominal di buku tabungan tersebut sembari memberikan buket bunga yang sudah jadi.

"Ga salah, rejeki kamu itu, ini uangnya ya makasih banyak mba", Ucap pelanggan tersebut meninggalkan toko bunga.

"Lagi-lagi ada kayak gini, siapa sih sebenarnya?", Ucap Nila yang sudah ketiga kalinya mendapatkan tabungan dengan isi yang cukup banyak.

Sore menjelang malam pun tiba, Kasa yang sudah lelah bermain bola kembali ke rumah, Nila juga mulai menutup tokonya untuk beristirahat. Keduanya pun asik menonton tv bersama di lantai dua, meski terkadang Kasa memang nakal tapi keduanya masih bisa akur ketika berada di rumah.

"Dek, kalau pindah rumah mau gak? Ada tabungan nih, kita ambil yang sederhana aja didekat komplek perumahan elit", Ucap Nila disela-sela kegiatan menonton mereka.

"Uang dari orang aneh lagi ya kak? Serius mau digunain? Aku sih gapapa, tapi toko kakak?", Balas Kasa yang masih asik fokus ke tv.

"Aku udah lihat rumahnya, disitu ada garasi cukup besar kan kita gapunya mobil jadi garasinya mau kuubah jadi toko bungaku nanti dek", Ucap Nila sambil berandai-andai dengan rumah yang sudah ia incar sejak lama.

"Boleh aja kak, kapan mau pindah? Tapi aku aku tetep jadi youtuber ya kak nanti semua peralatanku biar kupindah sendiri", Balas Kasa yang masih asik menonton tanpa menoleh sedikit pun.

"Minggu depan kok, banyak yang harus dipindahin, kamu juga harus bantu loh jangan main terus", Ucap Nila sambil mematikan tvnya.

"Ahh kakak kok dimatiin sih lagi asik juga", Ucap Kasa protes karena tvnya yang tiba-tiba dimatikan.

"Udah jam 10, tidur sana besok ada ulangan pagi kan? Nanti gabisa bangun", Balas Nila dengan tegas agar adiknya menuruti apa yang dikatakannya.

Tanpa berkata sedikitpun Kasa berjalan menuju kamarnya, ia paham bahwa ia terkadang harus menuruti perkataan kakaknya. Kasa paham bahwa keadaannya dan kakaknya ini membuat kakaknya jauh lebih menderita dibanding dirinya, Kasa bahkan tidak meminta uang jajan sedikit pun tapi sebagai gantinya ia menjadi seorang youtuber gamers dengan tampangnya yang tampan dan permainannya yang unik serta lucu ia mampu menarik banyak penonton dan menghasilkan uang sendiri untuk membantu kakaknya serta mencari uang jajannya sendiri.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 19, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

BreezeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang