11. Asistensi

1.2K 95 0
                                        

Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam. Lobi fakultas sudah ramai dengan sejumlah mahasiswa tampak berseliweran dengan kertas HVS berhamburan. Gunting, penggaris, dan lem kertas sedari tadi di oper dari ujung ke ujung.

Aslab yang katanya mau asistensi sehabis Isya itu belum menampakkan dirinya.

"Gue lupa kalo Isya itu waktunya panjang, habis isya kan subuh," Ujar Malik.

"Lah iya, kayaknya kak Sandi bakalan muncul pas Adzan Subuh," tambah Bisma.

"Eh Keti, kontak kak Sandi dong," pintah salah seorang mahasiswa kepada Bayu.

"Katanya udah OTW,"jawab Bayu.

"Dari tadi OTW mulu deh perasaan."

"Syukur deh lama, punya gue belum selesai."

"Huu dasar, kayak gue dong. Selesai dari tadi," ujar Feby berbangga hati.

"Silvi lu belum selesai? Tumben," lirik Bayu.

"Punya kak Alan nih," jawab Silvi.

"Diih gak malu apa nyuruh juniornya nulis laporan, banyak lagi," sindir Bisma.

"Lumayan buat jajan," Balas Silvi.

"Oalah di bayar toh, kirain gratisan. Kalo gratisan jangan mau di suruh senior, mending kerjain punya saudara,"

"Itu sih enak di maunya elu Bismalam," Bayu menoyor kepala Bisma.

Sementara itu Malik tampak melangkah menjauhi kerumunan, berjalan kearah tangga.

"Sendirian aja Nay."

Tidak ada sahutan, yang di panggil tampak menikmati alunan musik dari earphone yang di tutupi jilbab.

"Masih ngambek nih anak, padahal gue yang boncengin ke kampus," Malik kembali berbicara.

Belum ada sahutan, Malik melirik ponsel di genggaman naya.

"Pantesan gak nyahut."

Malik kemudian menarik ponsel Naya dan mencabut kabel earphone dari sana.

Naya terjengkang kaget.

"Malik!" Pekiknya. "Lu apa-apaan sih."

Malik tertawa lepas, namun melihat pipi Naya basah membuatnya menghentikan tawanya seketika.

"Lu nangis?"

"Enggak," Elak Naya.

"Diih bohong banget, ingus lu tuh kemana-mana," Ujar Malik.

Naya kontan melap hidungnya dengan ujung jilbabnya.

"Jorok banget jadi cewek."

"Bodo!"

"Lu kenapasih cengen-cengengan kek gini? Kek baru di putusin aja padahal lu jomblo udah menahun."

"Bisa diem gak sih Mal?"

"Kagak, lu kenapasih nangis-nangis di pojokan kayak gini? Ada apa?"

"Bukan urusan lo!"

"Galak bener nih bocah, kalo ada maunya aja nge spam chat terus pake bebeb-bebeban pake sayang-sayangan," Ejek Malik.

Naya mencubit keras-keras lengan Malik.

"Aduuh Nay, jangan di dobel dong! Ini masih sakit," keluh Malik.

"Lemah banget sih jadi cowok, baru di cubit juga."

"Eh lu itu nyubitnya pake emosi Nyai. Eh lu nangis kenapa?"

Naya terdiam sebentar.

"Maya adik gue keterima di PTN," jawab Naya.

"Lu harusnya bangga bukan nangis kayak gini, cemen lu."

Lowkey Something [Tamat & Lengkap]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang